Gula Kapas dan Hal Bahagia Tentangmu - atha's scrapbook

October 16, 2013

Gula Kapas dan Hal Bahagia Tentangmu


"
Aku memicing. Rupanya sinar matahari kala itu tidak mau kalah beradu dengan tebalnya awan putih seperti gula kapas kesukaanku. Ya, aku memang lebih suka gula kapas yang berwarna putih dibanding yang merah muda. Alasannya sih sederhana saja, gula kapas putih mengingatkanku tentang awan, dan itu membuatku bahagia.

Dudukku kala itu tidak bisa diam. Mengingat ribut-ribut suara cewek dihadapanku ini yang terus saja berbicara. Pahamlah, anak SMA. Cewek-cewek lagi.

Aku menggeser dudukku, bermaksud menghindari surya yang semakin panas saja. Tanpa bisa kucegah ternyata perbuatanku tadi menyebabkan sudut pandangku berubah beberapa derajat. Menghasilkan bayangan yang entah sejak kapan menjadi bayangan favorit retina mataku. Sosokmu yang tinggi menjulang itu termangu. Entah melamunkan apa. Aku sebetulnya hanya ingin melihatmu sekilas saja, dan kembali fokus larut dengan obrolan cewek-cewek ini. Namun otakku menolak untuk diajak bekerja sama. Belum sampai sepuluh detik aku memalingkan muka, mataku kembali mencari-cari bayanganmu.

Pandanganmu masih tidak berubah. Masih tetap saja menuju ke satu titik tapi aku yakin pikiranmu tidak kesana. Kualihkan pandanganku ke seberang timur, dan disana seluruh temanmu ribut sekali. Entah berdebat soal makanan paling enak di kantin, atau tentang gosip pasangan baru di sekolah. Tapi kau tetap diam. Tidak ikut menyeruak masuk ke dalam kerumunan penuh hormon testosteron itu. Saat salah satu dari mereka menegurmu, kau bahkan hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangan. Tidak ada maksud untuk bergerak sedikitpun.

Padahal dulu kau tak begitu.

Sosokmu yang hangat nyaris mengalahkan hangatnya sinar matahari yang menghangatkan jari-jari beku sesudah terbalut oleh dinginnya embun pagi kota. Dan aku tidak lagi menemukan hangatmu, sekarang. Apa yang membuatmu berubah, teman?

Senyummu dan tawamu yang bahagia tidak pernah absen meramaikan lorong kelas yang sepi. Dan aku tidak lagi menemukan bahagiamu, sekarang. Ada apa, teman?

Ayo, bahagialah, teman. Sesungguhnya, alasan kita untuk bahagia tidak hanya satu. Aku tidak tahu alasanmu apa. Tapi pasti ada ratusan alasan lain yang bisa membuatmu bahagia. Dan ketika ternyata alasan-alasanmu habis kau buang satu per satu, kau masih tetap bisa bahagia, kok. Bahagia bahkan tidak membutuhkan alasan.

Bersyukur.

***
Gula kapas berwarna putih itu kumakan lambat-lambat. Aku tidak ingin manisnya cepat hilang. Aku suka saat gula kapas itu menyentuh lidahku dan mencair cepat di dalam sana. Meninggalkan manis, dan membuatku bahagia. Kan sudah kubilang, bahagia itu tergantung kita.

Aku hampir tersedak saat tanpa sengaja memasukkan gula kapas itu terlalu banyak. Rasa manis yang terlalu menyengat lidah membuatku memejamkan mata sepersekian detik. Dan saat mataku membuka, yang kutemukan adalah bayangan favorit retina mataku. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Dan kau tetap ada disana. Berarti bukan ilusi.

Sosokmu yang masih tinggi menjulang berdiri disana. Dikelilingi puluhan gerombolan testosteron lainnya. Aku tersenyum sekilas. Kau sudah mau beranjak dari lamunan bodohmu itu. Kau harusnya sadar, sendirian tidak akan membuatmu bahagia, tau.

Lalu aku melihatmu tertawa. Entah apa yang temanmu ucapkan. Kau mulai kembali batinku. Namun hanya sebentar. Sosok hangatmu yang seakan kembali tadi menghilang beberapa detik kemudian. Digantikan oleh image barumu yang tidak aku kenal itu. Apa sih, yang bisa membuatmu menghangat lagi? 

Aku mengambil gula kapas lagi, sambil sesekali memandangmu yang sebentar-sebentar berubah-ubah imagenya. Lalu aku tanpa sadar berteriak kecil saat tanganku ditarik oleh tangan yang aku yakin sekali milik sahabatku. "I've been looking for you, for almost thirty minutes, you know. Darimana aja, sih?" Dia mengomel dan omelannya membuatku bahagia. Setidaknya dia peduli padaku.

Aku tersenyum menyadari betapa hebatnya kau yang bisa mematri waktuku hingga aku tidak sadar bahwa aku telah terpisah dari sahabatku cukup lama. Aku menolehkan kepalaku sekali lagi kearahmu, lalu mengikuti sahabatku, partner in crime ku, dan orang yang membuatku bahagia ini pergi kemana saja yang ia mau. Saat aku memakan potongan gula kapasku yang terakhir, aku membisikkan doa untukmu. Lirih sekali.

Semoga kamu selalu bahagia :))

"
Malang, 16 Oktober 2013

2 comments: