2015 - atha's scrapbook

December 14, 2015

Would the World be Different without You?

Monday, December 14, 2015 0
Would the World be Different without You?
I was asked today,
What is the world’s problem you think you can solve?
What will you do to solve it?
And
Why does the world need you?

It hit me hard. Because before today, I only thought about my self, my family, my friends, and yeah sometimes my country, Indonesia. I have never thought that the world needs me. That I could be the one who can solve the world’s problem.

I was taught today to be more open-minded, to open my eyes to the world’s problem, to realize, and understand.

I just realized today, that the world could be different with my presence, that I live in it and have responsibility to make the world a better place, like Michael Jackson said on one of his songs, Heal the World.

The world could be a beautiful place to live in, when people stop judging before they know and understand others. People need to realize that differences mean nothing. We are all humans. We have same rights, needs, and responsibilities. We were just created in different packages. Like if we were all created the same, wouldn’t it be soooo boring, right?

So throw the differences away. Act like they don’t even exist.

Why do we need war, when we can share and spread the love?

It's nice you know, when we can live and learn together, understand each other.
Someone had ever said, "Mountains can never reach each other despite their bigness, but people can."

Go travel, go see the world. Open your eyes wider because the world is much much bigger than we've ever expected. Once you're there, go do something that could change the world, at least someone's life.

And finally, ask yourself,
would the world be different without me?

November 10, 2015

Rumah

Tuesday, November 10, 2015 2
Rumah
Kalau bagimu bahagia adalah terus berpindah, bagiku bahagia adalah menghirup satu meter kubik udara yang sama denganmu. Mengeksresi karbon dioksida dalam dimensi ruang yang sama, berbagi lelucon yang sama sekali tidak lucu, dan berbagi kehangatan kenangan yang sama.

Aku telah memutari bumi belasan ribu kilometer. Namun tidak ada yang terasa senyaman rumah. Tidak ketika tidak ada bayanganmu yang jatuh tepat pada bintik kuning di retina mataku, menimbulkan impuls yang membuat seluruh sel sarafku menari bahagia.

Kamu sama saja seperti waktu. Tidak akan pernah statis.

Berkata ‘ya’ pada pertanyaanmu beberapa tahun lalu sama saja menyetujui segala konsekuensi yang tersembunyi dalam setiap kalimat yang kau lontarkan.

“Aku bukan hidup dalam kurungan, entah teralis besi, susunan beton, atau anyaman bambu. Aku hidup bergesekan dengan ranting pohon, aliran sungai, sengatan matahari, dan tamparan dingin angin malam. Bersinggungan dengan warna kulit warna-warni, kota-kota gelap tak berlentera, dan milyaran kata-kata asing yang bahkan tak kupahami.”

Tidak. Aku sama sekali tidak lupa. Bagaimana caraku untuk bisa melupakan semua hal yang telah mengubah kelabu menjadi merah jambu?

***
Frankfurt am Main, dua bulan sebelumnya, pukul 2 pagi waktu setempat.
Aku sedang menekuni berlembar-lembar halaman jurnal tentang sejarah Uni Eropa berbahasa Jerman. Kepalaku sakit. Sudah 6 jam sejak aku membaca kalimat pertama pada jurnal yang pertama. Namun hingga saat ini aku masih belum bisa paham. Tujuh jurnal dengan segala kerumitannya itu aku tinggalkan begitu saja. Aku ingin tidur. Tidak peduli jika besok ada ujian akhir mata kuliah sejarah kebudayaan Uni Eropa.
Oh sial.
Maksudku hari ini.
Tepat tujuh jam lagi.

Aku rasa tidur selama lima jam sudah sangat lebih dari cukup.

Aku baru akan memejamkan mata saat tiba-tiba telepon genggamku berdering nyaring satu kali. Tanda ada sebuah surel yang masuk.

Semoga kabar dari yang ditunggu-tunggu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Calya Akayasa,
kemarin sial sekali. Aku lagi ambil gambar Manhattan skyline dari Brooklyn Bridge sambil pegang hape. Ceroboh, ya? Pasti kamu tahu kelanjutannya. Sekarang hapenya sudah berenang bareng ikan di East River.
Maaf buat semua messages di Line/sms/Whatsapp yang belum sempat kubalas. Maaf, buat semua kekhawatiran yang kemarin-kemarin.
Hari ini ujian akhir sejarah kebudayaan Uni Eropa, ya? Wah, aku tahu kamu pasti bisa. Kamu sudah hafal ratusan nama raja ratu yang mirip-mirip itu dari SMA, kan? Thesis nya gimana? Kapan sidang?
Sleep tight, and good luck for tomorrow. Saling mendoakan terus, ya. Jaga diri baik-baik, Cal.
You know I love you,
Alastair Haider
p.s. see you really really soon, Schatzi!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ternyata surel singkat itu mampu membuatku menangis ditengah kantuk yang tak tadinya tak bisa ditahan. Berbagai perasaan melebur menjadi satu. Lega, jengkel, dan rindu yang tidak tahu dimana ujungnya. Merasakan lelah dan khawatir secara bersamaan bukan merupakan perasaan yang menyenangkan.

Kubalas surel Asta lambat-lambat sembari menahan buliran bening air mata yang tidak mau berhenti.

Asta, tenyata pergi dari rumah membuatku paham arti rindu yang berkepanjangan...

***
Jogjakarta, lima tahun lalu.
“Jadi... mau nggak Cal?”

Aku masih terdiam dan terengah-engah sembari memandangi ujung-ujung sepatuku yang tergeletak di atas paving block jogging track lapangan GSP. Ya, aku kehabisan napas setelah berlari sore mengitari GSP tiga kali.

Dan setelah ditembak Asta.

Aku mengatur napas satu persatu. Melihat Asta yang menatapku penuh harap.

“Harus banget ya, nanyanya pas aku lagi keringetan dan ngos-ngosan?”

“Calya...” Asta menahan gemas.

“Boleh, deh.”

“BOLEH, DEH? Cal, aku bukan lagi ngajak makan malam...” Asta menghela napas berat.

“Kamu maunya aku jawab pakai kalimat kayak apa? Iya, Asta. Aku mau jadi pacar kamu. Gitu?” Aku tersenyum jahil penuh kemenangan.

Akhirnya Asta tertawa lepas dan mengacak-acak rambutku yang penuh peluh. Lima detik kemudian ia mengeluh menyesal melakukan itu. Sekarang telapak tangannya lengket dan berbau tidak enak.

“Cal, obrolan kita nggak akan pernah garing, kan?”

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab yakin. “Nggak, lah. Kita punya pengetahuan dalam bidang berbeda. Kamu open-minded. Kamu teman diskusi paling seru yang pernah aku kenal, Ta. Jangan berubah, ya. Tetap ajarin aku soal kamera, gunung, atau mineral. Aku janji nggak akan bosan.”

“Iya, asal kamu juga nggak bosan-bosan kasih tahu aku soal dunia. Tentang sejarah peradaban manusia, politik, dan budayanya. Tentang mimpi-mimpi besarmu. Tentang hal yang paling kamu benci dalam satu hari. Tentang apa yang kamu pikir perlu kamu bagi.”

Aku tersenyum dan memandang Asta sayang. Lalu tiba-tiba tertawa saat aku mulai merasakan mataku memanas dan mengeluarkan air mata. Beberapa detik kemudian aku menjawab ada keringat yang masuk mata saat Asta bertanya kenapa.

Ya Tuhan, aku bahagia.
***
Jogjakarta, hari ini.

Hari ini hari pertamaku menjejakkan kaki lagi di Jogjakarta setelah kurang lebih dua tahun aku tinggal di Jerman menyelesaikan program beasiswa master. Hari ini harusnya Asta yang menjemput di bandara. Harusnya.

Tapi beberapa hari belakangan Asta sulit dihubungi. Meninggalkan kembali jejak-jejak kekhawatiran yang dua tahun belakangan selalu menghantuiku. Dua tahun yang naik turun seperti roller coaster. Dua tahun yang sempat membuatku ragu. Dua tahun yang ternyata lama sekali.

Selama dua tahun belakangan aku merasa jarak antara aku dan Asta bukan hanya Jerman-Indonesia. Lebih dari itu. Oke, aku tahu Asta sering keliling dari satu negara ke negara lain karena hobi dan pekerjaannya. Bukan, bukan jarak harfiah seperti itu. Tetapi jarak antar perasaan. Jarak yang akan terus mengecil dan semakin mengabur saat kau dan seseorang sudah memiliki koneksi rasa bahagia yang sulit diartikan. Aku menyebutnya jarak batin.

Sekarang aku merasa jarak batin antara aku dan Asta memuai, dan aku rasa aku perlu sedih juga khawatir.

Karena sesungguhnya jarak batin jauh lebih menyakitkan dibanding jarak geografis.

Namun aku bukan perempuan cengeng. Aku tahu aku bisa menjaga diri, begitu juga Asta.
***

Di hari ketiga Asta baru bisa dihubungi. Malam ini ia berjanji akan menjemput dan mengajak makan malam. Nostalgia, katanya. Hatiku berdebar. Aku akan bertemu Asta setelah dua tahun yang telah berhasil kami selesaikan.

Dan disanalah ia. Berdiri di depan pagar dengan hoodie biru dongker hadiah ulang tahun dariku tiga tahun lalu. Ia tersenyum. Namun aku merasa asing.

Dengan kikuk aku menghambur ke pelukannya.

“Halo lagi, Ta.”

Welcome home, Calya.” Asta mengecup puncak kepalaku. Aku merasa asing.

Asta melepaskan pelukannya saat sadar aku hanya terdiam satu menit berikutnya.

“Kamu nggak  apa-apa?”

Aku menggeleng pelan. “Yuk, keburu malam.”

Sepanjang perjalanan menembus angin malam Jogjakarta, aku hanya terdiam di atas jok motor. Asta terasa berbeda. Ia mengenakan parfum yang beda, punggung yang lebih lebar, model rambut, serta intonasi suara yang berbeda.

Mungkin Asta juga merasakan perbedaanku. Dibuktikan dengan tidak adanya perdebatan seru mengenai harga minyak atau penyetaraan kesehatan di atas jok motor seperti biasanya. Malam ini hanya hembusan angin dan deru knalpot yang terdengar.

Dua tahun bisa berarti banyak, ya, Ta.

Setelah memesan makanan, kami kembali terdiam. Sampai Asta bertanya basa-basi. Aku benci basa-basi.

“Ta, kita kenapa, ya?”

“Kenapa gimana?” Raut wajah Asta berubah bingung. Namun aku yakin sebenarnya ia mengerti.

“Beda. Apa karena udah nggak ketemu selama dua tahun? Atau semakin kesini kita semakin yakin kalau passion kita beda?”

Asta tertawa hambar. “Dari dulu passion kita juga udah beda, Cal. Tapi, iya. Jujur, aku juga ngerasain itu. Aku sempat hampir stress. Dulu, waktu aku punya banyak masalah, cerita sama kamu, diskusi sama kamu bisa bikin semuanya selesai. Dan bikin aku bahagia.

Dua tahun belakangan aku akui komunikasi kita jelek banget. Kamu mulai kuliah master, aku mulai kerja. Kamu sibuk, aku sibuk. Aku pergi keliling-keliling yang nggak setiap tempat ada akses internet. Dulu ketika aku pulang, ada kamu yang selalu siap nyambut. Dua tahun belakangan, nggak.

Aku ingin menangis. Jujur bukan obrolan seperti ini yang aku harapkan. “Aku juga punya mimpi yang harus aku kejar, Ta. Dan jangan kamu pikir cuma kamu disini yang rasain susah. Kamu kira hidupku gampang dua tahun belakangan?

Aku nggak mau bahas masalah long distance lagi karena toh sudah pernah kita bahas dan sekarang aku sudah pulang.

Tapi tahu nggak, Ta? Sekarang aku sudah bisa terbang juga. Aku memang sudah pulang, tapi aku nggak janji akan bisa lama berdiam.

Yang aku takutkan cuma satu. Jalur terbang kita beda, dan apa yang kita sebut ‘pulang’ juga akan berbeda. Menurut kamu, ‘pulang’ itu apa?”

“Pulang. Kembali ke rumah, Cal.” Asta terlihat yakin.

“Menurut kamu rumah itu apa?”

“Rumah itu tempat dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Tempat dimana kamu bisa bahagia tanpa ada batas yang bisa kamu ukur.”

“Dimana?”

“Ayolah, Cal. Berhenti ragu. Kamu tahu jawabanku selalu sama. Bukan dimana, tapi siapa. Buatku, pulang, rumah, itu kamu.”

“Kamu selalu jalan, Ta. Gimana caramu pulang ke rumah? Aku selalu ingat bahwa kamu pernah bilang bahwa kamu bukanlah mereka yang terkungkung teralis besi, susunan beton, atau anyaman bambu. Buatku, rumah adalah yang bisa melindungi. Yang bisa memagari. Yang bisa kusebut dengan zona nyaman.”

Barriernya dilebarin dikit boleh, nggak, Cal?”

“Maksud kamu?”

Barriermu terlalu sempit. Sama aku, ayo kita lebarin barriernya jadi tepian dunia. Zona nyaman itu cuma sugesti. Percaya, deh, sama aku.

Perjalanan, petualangan kita lima tahun ini terlalu berharga buat ditukar dengan kata menyerah.”

Aku menatap Asta tanpa ekspresi. “Aku nggak ngerti.”

“Apa yang udah kamu dapat setelah pergi dari rumah?”

“Tenyata pergi dari rumah membuatku paham arti rindu yang berkepanjangan.”

Asta tersenyum.

“Sakit, Ta. Nggak menyenangkan.”

“Rindu itu menyebalkan sekaligus membahagiakan. Rindu membuat kita sadar siapa yang benar-benar berarti siapa yang tidak.”

“Tapi kamu selalu pergi.”

“Pergi untuk pulang, Cal. Lagian nanti kalau aku pergi kamu bisa ikut.”

“Mana bisa...”

“Bisa, kalau kamu mau jadi rumahku. Tempatku pulang. Tempatku berbagi segalanya. Sedih, senang, bahkan kulit ayam KFC.”

“Katanya selama ini aku rumahmu? Selama ini juga kita sharing macem-macem, kok.”

“Berhenti pacaran, yuk?”

Aku menoleh kaget.

“Besok aku ke rumahmu lagi, ya. Mau ngomong sama ayah bunda.”

“Ta...”

“Terus ntar biar papah mamah ketemu ayah bunda.”

“Ta...”

“Terus biar bisa cepat diurus. Kata orang ribet, ruwet, tapi bikin bahagia, sih. Ntar aku mau designnya warna silver, kamu mau tambah warna apa? Ungu? Jangan. Gimana kalo...”

“Ta...!”

Akhirnya Asta menoleh. “Kok nangis, sih?”

“Aku udah nemuin rumah...”

“Iya, lah. Itu juga aku udah tahu. Jalan Manggis no. 37, kan? Kelamaan di Jerman, sampe lupa alamat sendiri?”

“ASTAAAAAAAA”

“Apa, sayang?”

Aku tertawa dan menghapus seluruh air mata yang keluar. Menghujani Asta dengan cubitan bertubi-tubi dan membuat seluruh pengunjung warung tenda pecel lele itu menoleh. Aku tidak peduli. Aku sudah bertekad untuk berhenti meragukan hal yang bahkan tidak perlu diragukan.

Aku bahagia.

Aku pulang pada rumah yang membahagiakan.

October 20, 2015

How Song Reminds You of Something

Tuesday, October 20, 2015 0
How Song Reminds You of Something
Do you have those favorite old songs?
Today I opened my old phone only to find those old songs I liked to hear during junior and early months of senior high school. How amazing bumping into some memories when I heard some songs. Like a song reminds me of someone, another song reminds me of a place, and the other one reminds me of a happy memory.

Have you ever felt the same too?

Well, this is called "Classical Conditioning Learning Process", in which organism learns to associate two stimuli, such that one stimulus comes to elicit a response that originally was elicited only by the other stimulus. (Yeah, I have a Psychology class.)

I felt a warm heart, also butterflies in my stomach listening to this song. The weirdest part is that this old song reminds me of you (whoever you think you are haha). Those indescribeable feelings I felt when I listened to this song...

It's just another night
and I'm staring at the moon
I saw a shooting star and thought of you
I sang a lullaby by the waterside and knew
if you were here, I'd sing to you

You're on the other side as the skyline splits in two
I'm miles away from seeing you
I can see the stars from America
I wonder, do you see them too?

So open your eyes and see
the way our horizons meet
All of the lights will lead into the night with me

I know these scars will bleed
but both of our hearts believe
All of these stars will guide us home

Hi there.
I have a lot of stories to tell.
How have you been?

Can you see the stars over Amsterdam?
You're the song my heart is beating to

See you when I see you :)


Italic words are from Ed Sheeran - All of the Stars.

September 29, 2015

Halo

Tuesday, September 29, 2015 0
Halo
Kamu tahu rasanya bahagia dengan sederhana? Aku rasa tidak.

Kamu berstandar terlampau tinggi.

Segala hal yang terjadi secara sederhana tidak pernah membuat sel-sel sarafmu tertarik untuk sekadar berkata menarik. Kamu suka hal yang kompleks. Hal yang jauh lebih rumit dibanding sepuluh bola benang wol yang terjuntai dan kusut menjadi satu.

Kamu bisa menjadi muda dan menginspirasi.

Namun kadang kamu adalah tua dan menyebalkan.

Kamu pintar dan sudah melihat dunia yang jauh lebih luas, sehingga kamu tahu jauh lebih banyak. Itu adalah muda dan menginspirasi.

Kamu ingin tahu, namun tidak ingin diberi tahu oleh yang lebih tahu. Itu adalah tua dan menyebalkan.

Namun kamu tahu apa yang paling berpengaruh?

Kamu membuatku sadar bahwa ternyata dunia jauh lebih luas daripada yang aku kira sebelumnya. Kamu membuatku berani untuk bermimpi yang lebih tinggi lagi. Membuatku sadar bahwa pencapaianku, target-targetku masih jauh dibawah kata ‘standar’.

Segala cita-cita pasti butuh usaha, kita tahu itu. Dan kamu mengajarkanku bahwa ternyata tubuh kita mampu untuk melakukan usaha sebesar itu. Bahwa ternyata kalau kita mau, kita pasti bisa. Kamu membuatku ingin untuk menjadi yang lebih baik lagi. Yang lebih pintar lagi. Yang lebih aktif bersosialisasi lagi. Aku belajar banyak. Dan untuk itu, aku berterima kasih.

Sisanya,


September 11, 2015

Kita adalah pantulan cahaya di kaca. Ada. Namun tak nyata.

Friday, September 11, 2015 0
Kita adalah pantulan cahaya di kaca. Ada. Namun tak nyata.
Karena kita bukan seperti yang mereka kira. Setidaknya menurutku begitu.
Tidak sebahagia rona jingga keemasan yang menghiasi langit senja di ujung hari.
Bukan gulali manis yang membuat anak kecil bahagia walau harus sakit gigi.
Bukan edelweis yang akan selalu indah sepanjang musim.

Kita adalah kereta, yang selalu datang dan pergi. Tidak pernah berhenti.
Adalah dandelion, yang indah namun selalu bebas mengikut angin yang membawanya pergi.
Kita selalu bergerak. Tidak pernah berhenti berjalan.
Mungkin itu masalahnya.
Kita berjalan pada jalur yang paralel.
Tidak akan pernah besinggungan.

Aku lebih suka bertabrakan. Memiliki torsi yang berlawanan hingga ketika kita diakumulasi, hasilnya nol. Sama-sama mengalah untuk menjadi satu. Namun aku kira probabilitasnya sama seperti segala bilangan yang dibagi nol. Tak terdefinisi. Sama seperti jumlah simetri lipat suatu lingkaran. Tak terhingga.


Tapi ketahuilah bahwa dari probabilitas yang tak terhingga itu, kamu menjadi yang selalu aku semogakan.

May 19, 2015

Throw Things Back

Tuesday, May 19, 2015 0
Throw Things Back
Throwing back to those days when I was the happiest little girl in the world. Being curious and exploring new places I have never imagined before. Drank hot chocolates every breaks just to give warmth to my palms. Guessed what foods I would get. Would they delicious or tasteless. Could not wait for breakfast, had the best self-made sandwiches; warm buns with three layers of cold flesh and milky cheese, also fresh lettuce and my favorite chili sauce, plus a bowl of fruit cocktail, some packs of Nutella, and a cup of hot green tea. Or when I was too lazy, I would just have a bowl of Muesli and cold milk with a cup of hot chocolate. Perfect foods to start a perfect day.

Then I had classes. A class where I did not have to think about how gravity influences the velocity of moving boxes, or how could Magnesium bond with Oxygen. A class where I felt like in the kindergarten again. I colored pictures, played games, sang songs, watched videos, learnt new cultures, and also the other 3 new languages; Spanish, Portugish, and Nepalish in a German class. Weird but I loved it.

What I always waited is the outdoor activities. We traveled with small bus, made noises with several strange languages and made grannies smiled. Or a lot of times with train or subway or something like that and sat wherever we wanted till we heard someone’s voice saying “ausstehen!!”
I did not know playing bowling or buying groceries could be that fun. Ice skating too. The was my first time skating and my friend helped me a lot. “I am like a granny when it comes to skating”. She laughed, “No you are not. Believe me it is not that hard. Come on.” And all I did was screaming “OH MY GOD” “WHOAAA” “I AM GONNA FALL” “I WANT TO STOP” “WHOOAAA” “GRANNY CAN NOT SKATE” “I AM A COWARD”. I could not enjoy skating though.

Exploring the city like a true citizen. Found out best places to eat, buy clothes, or cheap groceries. Entered a market with a big curious eyes and met a Malaysian guy who shocked finding two little Indonesian girls going in a market without their parents. Got free hot tea because we often visited a Turkey restaurant. Met some Indonesians who bought expensive chocolates for us and showed a place to buy Indonesian foods, sauces, even Rambutan and Durian.

Dancing like crazy to strange latin songs in the parties. I did not know parties could be that sick. Found out I love dancing like that. Ate delicious chips and drank weird apple-cinnamon-something juice that tasted like puke. Going to bed at 11pm everynight but when our guardians slept we talked like until 12pm or 1am.

Crying like hungry babies at the airport. I have never cried in public places like that. Hugged each of them saying goodbyes, good luck, and please-do-not-forget-me things. What being played in my head were “Will I ever see them again?” “Will I ever see them again?” “Are these my last hugs with them?” and something like that.
Talking about those amazing three weeks  and the friendship we have made would never ever be enough though.


I love you guys




April 18, 2015

Dream An Impossible Dream

Saturday, April 18, 2015 3
Dream An Impossible Dream

Jangan pernah melepaskan apa yang selama ini sudah kamu impi-impikan. Meski pada jalan itu kamu tersandung kerikil, atau tiba-tiba dibelokkan ke jalan yang berbeda. Karena bisa saja pada akhirnya tujuanmu sama. Tuhan hanya mengujimu dengan tantangan lebih berat dan menggantikannya dengan hadiah yang lebih baik.
***

an old phrase saying "dreams do come true" wasn't even lying...

i have flewn 12,000 kilometers away to meet my one of big dreams. oh wait, flying for more than 10,000 was already one of my big dreams, too.

...

it was a thrilled phase of my life. totally. 2014 was so awesome. it made me feel thousands feelings i've never felt before. i was nearly desperate. i waited sooo long and found out that i didnt make it. so i tried, harder than the first one. then Alhamdulillah the big news came up. i was so happy till i couldnt say anything. both happened in 8 months. that were the hardest yet the happiest 8 months ever.
think i was talking about a boy? haha no. for me this is much bigger than just a classical high school love story...

***
Malam itu sama saja seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang berbeda, menurutnya. Setidaknya belum. Telepon genggamnya tiba-tiba berdering tepat saat dia hendak shalat.
Guru Bahasa Jermannya menelpon. Ia takut. Bukan, bukan takut terhadap gurunya. Tapi takut pada kenyataan yang akan menamparnya jika berita yang akan datang tidak sesuai ekspektasinya.
Beberapa pesan singkat menyusul masuk. Ia tetap bergeming. Sudah terlalu malam untuk berita yang tidak penting.
Ia bahkan takut hanya untuk membacanya.

Setelah menyelesaikan doa-doanya, takut-takut ia membuka pesan singkat itu.

Assalamualaikum
Gratuliere dir...

Ia terdiam. Bahkan kata-kata selanjutnya tidak terlihat penting lagi.
She finally made it.
***

Rasanya masih seperti mimpi, tapi akan terlalu menyakitkan bila semua itu tidak nyata. 

Itu pertama kalinya saya punya paspor. Pertama kalinya saya punya surat yang harus ada tanda tangan notaris nya. Pertama kali saya urus surat Prodia pakai bahasa Inggris. Pertama kalinya masuk kedutaan besar dengan segala protokol ketatnya. Pertama kalinya dapat izin Visa. 

Mungkin akan terdengar membosankan jika saya memulai semua kalimat dengan "pertama kalinya saya...", maka dari itu percayalah bahwa cerita-cerita di bawah ini adalah "pertama-pertama kalinya saya..." juga.

Naik pesawat, memang bukan pengalaman pertama saya. Tapi naik pesawat lebih dari dua jam dengan destinasi fantastis, adalah pertama kalinya bagi saya. Sebelumnya saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya berada dalam penerbangan yang sangat lama. Apa yang dilakukan penumpang, apakah makanan akan disajikan lebih dari sekali, bagaimana keadaan kaki orang-orang yang duduk di kelas ekonomi, dan lain-lainnya.

Setelah dadah-dadah yang sangat lama dengan Bapak dan Ibu, saya membawa koper 18inch saya yang hanya berbobot 15kg itu ke counter check-in. Ternyata begini rasanya akan terbang jam sepuluh malam, in International Departure lagi. Saya, yang tidak pernah masuk International Departure hanya bisa memandang takjub deretan nama maskapai penerbangan terkemuka di dunia. Flag carriers yang selama ini hanya saya lihat di film-film. Ketika mencapai seat, saya menaruh winter jacket dan ransel di compartment di atas. Ketika perlahan pesawat meninggalkan tanah, saya memejamkan mata. Bismillah, my journey is about to begin.

Dua jam setelahnya saya ada di KLIA, Malaysia untuk transit. Setelahnya monitor di hadapan saya menunjukkan waktu hitung mundur untuk sampai ke tujuan akhir saya. 12jam 52menit. Hampir 13 jam. Saya hanya bisa tidur beberapa jam.

Kira-kira pukul 08:00 pagi waktu Frankfurt pesawat mendarat. Suhu diluar diperkirakan sekitar 4 derajat celcius. Garbarata bandara Frankfurt punya jendela yang langsung mengembuskan udara luar. Sebagai anak tropis yang hanya pernah merasakan 18derajat celcius sebagai suhu terdingin, saya hanya bisa berjalan secepat yang saya bisa. Gila, dingin sekali. Padahal hanya sekali lewat. Setelah ambil koper, saya dan teman-teman bertemu dengan Betreuerin kami dan ia memberi Hanuta dengan sebotol air mineral berlabel asing. "Wilkommen in Frankfurt! Mein Name ist Betti..." Setelah itu ia menyuruh kami memakai jaket dan berjalan lebih cepat katanya kereta sebentar lagi datang.
Saya bawa koper besar, ransel yang berat, dan totebag. Bagaimana nantinya jika harus naik kendaraan umum, di bawah tanah, dan lain-lainnya. Dasar pemikiran manja anak Indonesia yang maunya serba instan.

Ternyata, di dalam kereta tidak hanya kami yang membawa bawaan banyak. Bahkan ada yang membawa sepeda, atau anjing peliharaan mereka. Oh, gini ya. Pemandangan diluar keren sekali namun terasa kurang. Bagi anak tropis, musim dingin adalah salju dan saya tidak melihat salju sama sekali. Mana winternya? Mungkin belum, ya. Bahkan pertanyaan kami setelah pertama kali bertemu Betti adalah kapan salju akan turun. "Mungkin minggu depan. Kami berharap begitu," katanya. Sekitar 30 menit hingga akhirnya kereta berhenti di stasiun Konstablerwache (saya baru berhasil mengeja Konstablerwache dengan benar setelah hampir 2 minggu). Suhu dingin kembali menyapa. Betti hanya tertawa melihat kedelapan anak Indonesia ini berteriak kedinginan. Toko-toko di Kurt-Schumacher-Str. masih tutup. Saya pikir karena masih pagi, namun saya sadar bahwa itu adalah hari Minggu. Dasar mental turis, tidak peduli kedinginan saya tetap foto toko-toko tutup itu. Karena bus yang ditunggu tidak kunjung datang, akhirnya Betti bilang kita harus jalan kaki. Okay...
Setelah tinggal agak lama baru saya sadar jika membawa koper berjalan di trotoar atau bahkan di pusat kota pun adalah hal biasa di sini. Okay lagi.

Dingin. Dingin. Masih jauh tidak. Dingin. Cuma itu yang saya pikirkan. Hidung saya mulai mengeluarkan ingus, dan ketika menyebrangi jembatan angin Frankfurt membuat muka saya membeku. Badan saya masih harus beradaptasi. Setelah sampai di Jugendherberge dan check-in, menitipkan paspor dan uang dan sebagainya, saya terheran-heran melihat ada anak yang hanya mengenakan kaos tak berlengan. Gila, saya 3 lapis saja begini... Belakangan anak bule-memakai-kaos-tak-berlengan itu jadi salah satu teman saya yang paling dekat.

Saya menangis di hari kedua saat akhirnya bisa ditelpon ibu. Saya merasa asing. Aneh. Teman kamar saya yang satu seolah tidak peduli dan dua yang lainnya terus menerus bicara bahasa Spanyol yang saya tidak mengerti. Tapi saat sarapan teman kamar saya yang saya kira tidak peduli itu justru menjadi yang paling perhatian.
"Are you okay?" "Yeah sure, why? Did you hear me crying in the bathroom or what?" "No. You said you miss home, and I know how it feels. Just stay off of your phone for awhile. It helps."
Now I miss her to pieces <///3

Hanya dua hari. Hanya dua hari saya merasa aneh dan sedih. Selebihnya, it was a lot of fun!!!!!!!

Pertama kalinya saya memakai outifit impian masa kecil saya, winter coat & gloves & scarf yang melilit ke leher. Winter coat punya ibu yang ketika sd hanya saya pakai untuk berkhayal di depan kaca. Winter coat yang dibeli bapak tahun 2008 akhirnya dipakai...
Eiserner Steg, Frankfurt am Main, Jan 12th 2015

Esoknya mereka membawa kami semua ke Senckenberg Museum yang menurut saya mirip sekali dengan Museum Satwa - Batu Secret Zoo, Malang. Malah lebih lengkap yang di Malang. Bersyukurlah jadi anak Indonesia, serius. Bukan cuma karena museum ini, tapi banyak hal hebat lainnya.
Gajah Lampung~~~

Setiap malam sebelum tidur, ada Abendrunde. Suatu acara dimana dibahas semua yang sudah terlewati hari itu dan apa saja kegiatan untuk besok. Disana juga semua boleh menyuarakan pendapatnya. Dan mereka menyediakan Wunsch Box bagi yang ingin berpendapat atau berkeinginan secara anonim. Saya membom Wunsch Box di dua hari terakhir sebelum pulang dengan tulisan-tulisan seperti "Ich möchte ins Kino gehen", "Ich möchte kochen zusammen", "Nach Feldberg noch einmal fahren" dan lain-lain. Saya tahu itu sudah sangat terlambat namun ketika itu saya hanya merasa sedih bahwa sebentar lagi saya akan pulang.

Pemandangan setiap Abendrunde.

Contoh jadwal kegiatannya. Niat banget, ya:"))

Sejak mendapat koneksi internet, selain berkomunikasi dengan orang tua dan teman-teman, hal yang saya lihat selama beberapa jam sekali adalah ramalan cuaca. Kapan salju turun. Kapan salju turun...
Salju pertama kali saya lihat di Frankfurt. Ketika itu masih gelap. Masih sekitar jam setengah delapan pagi. Saya dan teman-teman sekamar saya masih setengah sadar ketika mendengar suara berisik dari jendela luar. Teriakan-teriakan itu keras sekali, tapi bukan jenis teriakan mengganggu. Namun teriakan bahagia. Teman saya membuka tirai dan melihat apa yang terjadi.
Anak-anak laki-laki berteriak-teriak sambil melempar sesuatu ke arah jendela.
"SCHNEE!!! SCHNEE!!" hanya itu yang saya pahami, selebihnya mereka bicara bahasa Spanyol. "Wirklich? Schnee??!!" "Ja, Atha!! Ja!!"
Saya langsung ke kamar mandi dan menyambar sweater yang baru saya beli di Primark kemarin. Saya hanya berpikir bagaimana cara tercepat untuk melihat salju. Teman latin Amerika saya melakukan hal yang sama. "Komm!! SCHNELL!!"
"Was ist los?" Nampaknya teman NZ saya baru sadar. "SCHNEE!! SCHNEE!!" saya berteriak girang di depannya dan reaksinya adalah "Oh." Dan kembali merapatkan selimut. Okay, I know you've seen it before:") haha
Saya mengetuk pintu kamar teman saya dan reaksinya sama seperti saya.
Ternyata gini rasanya...

Salju cair beberapa jam kemudian. Dan kira-kira empat hari setelah salju pertama itu, saya merasakan hujan salju untuk yang pertama kali. Di Mainz. Dan berton-ton berhektar-hektar salju hari selanjutnya ketika Jens mengajak kami semua wandering ke Gunung Feldberg. Suhu minus tiga derajat celcius di sana merupakan suhu terdingin yang pernah saya rasakan.

***
The point is...
  • Percaya rencana Tuhan.
    Dari SD mimpi saya adalah AFS. Saya berusaha, saya ikut seleksi. Namun Allah bilang tidak. Saya hanya sampai tahap 3. Tapi Allah menggantinya dengan yang lain. :)
  • Jangan pernah lelah bermimpi.
    Ketika kelas 10, saya ikut pertemuan besar pertama klub bahasa Inggris saya. Ketika itu klub tersebut ulang tahun yang ke 35. Saya masih anak bawang. Hanya duduk di kursi penonton melihat acara demi acara. Saat itu salah satu senior saya berbicara di depan, menceritakan tentang pengalamannya selama 3 minggu di Jerman. Seru sekali. Dalam hati saya bertekad saya pengen juga. Ketika itu saya tidak tahu caranya. But I believe I will find the way. And guess what? I did. I went to Germany with the same program as her.

    Sejak SD atau bahkan lebih muda lagi, keinginan terbesar saya adalah melihat salju. Di tahun 2008 bapak dapat beasiswa ke Prancis selama 9 bulan. And he saw snow. And it made me a little bit jealous. Saya pengen juga. I don't know how but I will figure it out. And I did.
    Bapak tinggal di Fontainebleau, 60km dari pusat kota Paris. And he made me a little bit jealous, but I promise I'm on my way there. I'm working on it.

    Setahun yang lalu saya iseng menulis draft  novel berlatar belakang kota Mannheim. Kenapa Mannheim? Karena setelah browsing, sekolah ekonomi terbaik di dunia ada di Mannheim. So I chose Mannheim. Setahun setelahnya, Januari 2015, saya mengunjungi Mannheim. Walaupun nggak ke universitasnya tapi cuma ke Technoseum, it already felt awesome:')

    and so on...


Keep dreaming folks, me too. I am not satisfied yet. I still have tons of big dreams which I should make come true. I hope my stories encouraging you to keep believing that big things could happen if you want them to happen. It depends on you. Not anybody else. If I can, you can. If they can, we can.

feel free to ask me more @athayanadhira
cheers,
atha