HiGH SCHOOL LIFE PART 5 - atha's scrapbook

October 7, 2012

HiGH SCHOOL LIFE PART 5


HiGH SCHOOL LIFE PART 5

Salahkah bila aku menyukaimu, padahal itu adalah hal yang dilarang? Dan maafkan aku karena telah menyakitimu. Perlu kau ketahui, bukan hanya kau yang merasa pedih. Aku juga.
Hal ini yang baru aku ketahui belakangan, Tuhan selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan hadiah. Seperti sebuah pelangi yang ada sehabis hujan.

***

Kemarin, Taft mengajakku ke taman, lagi. Taft bilang ia menyukaiku, dan gilanya aku sudah tahu. Namun ada faktor lain yang baru aku ketahui seminggu belakangan ini. Faktor lain yang mengubah segalanya. Faktor lain yang nggak bisa dilupain gitu aja.
Dan aku merasa kesal dengan diriku, bagaimana mungkin aku telah membiarkan diriku jatuh terlalu dalam?

“Kenapa lo nolak gue?”

“Taft, gak gitu...”

“Jujur aja, Xav. Gue gabakal marah. Apa gara-gara perbedaan? Kayak yang lo bilang selama ini?”

“Nah, itu lo tau. Kita terlalu beda. Fix.”

“Terus maksudnya semuanya kemaren apa? Lo bilang mau percaya sama gue? Hah?? Kita beda apa sih emangnya? Prinsip? Hobi? Atau jangan-jangan agama? Lawak lo.”

“Jangan pernah nyuruh gue percaya sama lo, kalo lo sendiri nggak percaya sama adanya Tuhan.”

“Hei, itu hak gue buat punya agama atau enggak!”

“Dan ini hak gue buat nerima lo apa enggak.” Aku berdiri dari dudukku, menatapnya dalam, “Bye, Taft.”

“Anjing lo! Tai!”

Aku menatapnya miris, mencari-cari celah diantara kilatan marah di matanya. Berharap ada setitik harapan untuk memaafkan kesalahanku, yang mungkin terlalu memberikan harapan untuknya. Harapan yang seperti pasir, makin digenggam, makin hilang. Maafin aku, Taft.

“Maaf..” aku berbalik badan dan berjalan seperti biasa. Ralat, maksudku berusaha berjalan seperti biasa. Aku tiba-tiba merasa sesak, dan aku juga merasakan air mataku mulai merebak dengan cepat. Aku berharap besok tidak akan menjadi lebih buruk lagi...

***

Ketika aku tiba di kelas, yang terdengar hanya keributan. Aku menebak-nebak apa yang terjadi sehingga mereka ribut begini. Tidak biasanya, ini baru jam 6.15 pagi! Saat aku masuk, semua mata memandangku, lalu mata mereka kembali ke pusat perhatian semula. Aku mengikuti arah pandang mereka, dan tahulah aku bahwa ada yang tidak ‘biasa’ pagi ini. Bangkuku. Bangku kepunyaanku, yang sudah aku duduki selama kurang lebih 3 bulan ini sudah berpenghuni. Cewek cantik dengan pipi tirus, hidung mancung, kulit seputih susu, dan rambut panjang mengkilap itu menatapku datar. Matanya yang bulat besar itu tidak mau berhenti menatapku. Akhirnya aku mengalah, dan pergi dari kerumunan itu. Menuju bangku terakhir dipojokan kelas. Aku tidak tertarik lagi dengan gadis es itu. Dia lebih cocok bersama Taft, manusia semi-bisu itu.

Deg.

Ternyata hari ini tidak lebih baik dari kemarin.

Aku hanya menatap kerumunan itu. Mereka sibuk menginterogasi pehuni kelas baru itu. Aku tidak berniat 
kesana. Pikiranku sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Tiba-tiba kulihat makhluk semi-bisu ku. KU? Kau terlalu berkhayal, Xavi. Xavi? Please, jangan ingatkan aku tentang nama itu. Panggil saja aku kasihan. Aku lebih bisa menerimanya.

Taft menatapku sekilas, dengan pandangan bengis. Nampak sekali ia belum bisa memaafkanku. Tapi, ya sudahlah. Mau apa lagi. Ia nampak sedikit terkejut dengan kehadiran si gadis es tadi. Namun hanya sedetik, karena sedetik kemudian ia tersenyum. Senyum yang selalu aku suka. Hatiku mencelos. Taft tersenyum kepada gadis itu? Padahal ia hanya menatapku dingin saat kami pertama kali bertemu...

Kerumunan itu perlahan bubar saat bel masuk berdering.
Dan aku sendirian, lagi.

***

“Lo jealous, Ra?” suara Kelly menyadarkanku. Aku memang bercerita kepadanya tentang segala hal. Satu-satunya wanita yang aku percayai. Satu-satunya wanita yang bisa aku peluk, dan kutumpahi air mata, setelah mama pergi.

“Dih, cetek amat gue jealous sama dia. Dia bukan siapa-siapa gue kok.”

“But he WAS something, Ra. Like you said.” Kelly mengangkat bahu.

“WAS itu beda, ly sama IS”

“So, who is that lucky guy?”

“Lucky guy apaan?”

“Kata lo, lo udah nemu yang ‘IS’?”

“Dih, nenek lampir!!! Gue nggak ngomong gituuu. Bolot amat lu ya. Traktir gue ice cream cake, please.”

“Yuk, tapi mandi dulu sana.”

“Cih, lo itu kali yang belom mandi!!!”

Kelly is one of the best things I have. I can’t imagine life without her.

***

Sahabat selalu ada, seperti angin yang selalu ada di saat cuaca panas, berawan, bahkan badai sekalipun. Sahabat tidak pernah bosan dengan tingkah konyol kita. Sahabat akan selalu mendengarkan, tidak menghakimi. Mereka tidak akan menutupi kesalahan kita dengan kebohongan yang manis. Mereka akan terus terang mengatakannya walaupun mereka tau kita akan sakit hati. Dan... mereka tidak takut kehilangan kita. Karena mereka yakin kita tidak akan pernah pergi dari mereka.

***
wdyt? I've tried to make it longer :9 Leave comments please! You know one comment means he world to me :) THANKS for reading! hope you like it:)

No comments:

Post a Comment