Putih Abu-Abu - atha's scrapbook

April 3, 2016

Putih Abu-Abu

Draft yang ditulis sekitar wisuda kelulusan, Rina Sapih Abhiceka Cisya 2015, dan diedit serta dipublikasikan hampir satu tahun kemudian.
 

Tawanya sehangat matahari musim semi, tidak pernah berhenti memelukmu dari jauh. Sesuatu yang selalu kau rindukan ketika dunia gelap dan dingin. Sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum dan tertawa lebih lebar lagi, seakan bahagia itu benar-benar nyata. Aku tahu kebahagiaan tidak akan abadi, namun saat bersamamu adalah salah satu dari ratusan saat dimana aku ingin membekukan waktu. Mengobati luka, dan bangkit kembali.

Waktu cemburu ketika kuhabiskan ia bersamamu. Ia terasa seperti mengorupsi dirinya demi mempersingkat pertemuan kita. Dua tahun. Seratus empat minggu. Tujuh ratus tiga puluh hari. Tujuh belas ribu lima ratus dua puluh jam. Ratusan ribu menit, puluhan juta detik, dan milyaran kenangan bersamamu.

Aku tidak pernah mengeluh ketika interaksi denganmu memakan waktu lebih banyak daripada yang kugunakan untuk bercengkrama dengan keluargaku di rumah. Aku justru menyukainya. Sangat menyukainya. Aku tidak pernah keberatan ketika harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang ketika sudah tidak ada matahari. Hanya agar aku bisa bertemu denganmu.

Kau mengajariku banyak hal. Bagaimana menyenangkannya tumbuh dewasa dan membuat kesalahan bersama. Jatuh cinta, patah hati, kesetiaan, dan pengkhianatan. Kau tahu, aku senang bahwa kaulah yang menjadi temanku merasakan hal-hal fantastis untuk yang pertama kalinya. Bagaimana membahagiakannya memperoleh balasan setimpal atas apa yang telah kita usahakan dengan peluh dan darah. Serta bagaimana menyedihkannya ketika kau tidak lagi menganggapku sebagai tempat berbagi suka dan lara, saat aku masih mempercayaimu atas mimpi dan rahasiaku.

Aku rasa hidup menampar kita masing-masing dengan kadar yang berbeda. Mungkin persimpangan di ujung jalan itu membuat kita tumbuh menjadi individu yang tak sama. Tapi tolong ketahuilah, rasa sayangku padamu tidak akan pernah berubah.

Kau selalu menjadi yang paling manis untuk dikenang. Karena banyak hal.

Ketika segala penatnya rutinitas menyedot habis kebahagiaan kita, kau selalu punya cara untuk membuatku tertawa dan bersyukur bahwa aku tidak sendiri. Bahwa bersama itu lebih menyenangkan dan patut untuk dipertahankan. Celetukan konyol, tingkah laku spontan, bahkan lelucon yang sama sekali tidak lucu pun mampu membuat semua orang disekitar kita ikut tertawa. Ikut bahagia.

Walaupun terkadang kau egois.

Bocah-bocah tujuh belas tahun yang selalu merasa dirinya sudah dewasa. Sudah mengerti segalanya tentang dunia dan cinta. Tidak mau mengalah. Tidak mau disalahkan. Sama-sama keras kepala. Merasa paling benar sendiri.

Beberapa kali kita berselisih. Yang kalau kupikir-pikir sekarang alasannya tidak masuk akal sama sekali. Tapi ketika itu kita menganut paham yang sekeras batu. Solidaritas harus selalu yang nomor satu.

Berpisah denganmu sedikit banyak mengajariku tentang berbagai macam hal. Bagaimana menjadi kuat dan besyukur, misalnya. Menjadi tangguh tanpa lindungan tangan-tanganmu yang dulu selalu menjagaku dalam jarak aman, dan membuatku sadar bahwa aku perlu bersyukur karena ternyata salah satu hadiah terbaik yang diberikan Tuhan padaku adalah engkau.

Persahabatan kita.

Mungkin aku tahu alasan mengapa seragam SMA berwarna putih abu-abu. Karena cerita yang mengiringinya sudah berwarna-warni tanpa kelabu :)

Selamat berjuang, Owi. Semoga sukses selalu.
 


Yang selalu kangen Owi,
Atha.

2 comments: