atha's scrapbook: Sweet Stuffs
Showing posts with label Sweet Stuffs. Show all posts
Showing posts with label Sweet Stuffs. Show all posts

December 12, 2017

Menua dan Pulang Berdua

Tuesday, December 12, 2017 0
Menua dan Pulang Berdua

Ditatapnya kedua bola mata cerah perempuan itu. Hatinya tak henti mengucap syukur, Tuhan berikan ia sebagai teman hidupnya. “Kenapa kau mau menerimaku?”, ia masih heran. “Tuhan kirimkan kau untuk kucintai, dan mencintaiku.”

Dapur di rumah mereka menguarkan harum-haruman yang membuat lelaki itu hanya ingin makan di rumah. “Uda mau makan apa?” diucapkan dengan suara paling lembut sedunia. Tuhan, inikah surga?

Orang-orang melihat betapa sempurna hidup mereka. Orang-orang tidak tahu berapa banyak duka yang harus mereka sisipkan pada hati mereka yang herannya semakin hari tidak semakin sempit. Dua manusia yang Tuhan takdirkan untuk saling menguatkan.

Detik demi detik perlahan melunturkan kegagahan mereka berdua, namun tidak kecantikannya. Dan kelembutannya.

Hingga pada suatu masa, ujian paling berat menguji hidup mereka. Menguatkan cinta mereka.
Dibasuhnya kepala dan tubuh perempuan itu setiap hari dengan sayang. Dinina bobokkannya hingga ia terlelap berdua diselimuti dinginnya malam. Dipeluknya, dibimbingnya, diciumnya. Ia telah berjanji di depan Tuhan dan ayah perempuan itu untuk menjaganya. Dan ia menepatinya.

Ketika Tuhan terlalu rindu pada sang perempuan, lelaki itu dengan berat hati merelakannya. Membasuh dan menciuminya untuk terakhir kali. Air matanya sudah habis. Namun doa dan cintanya tidak. Ia letakkan foto sang perempuan di sebelah tempat tidurnya, membiarkan baju-baju perempuan itu tetap berada satu almari bersama baju-bajunya.

Ia beli liang di sebelahnya.

Sepuluh tahun berlalu dan cintanya tidak pernah berganti. Dipanggilnya nama istrinya di sela-sela napasnya yang sudah susah. “Papa kangen mama,” berulang kali ia ucapkan. Memastikan anak-anaknya mengerti ia begitu merindukan ibu mereka.

Tahun-tahun penuh kerinduan yang menyiksa bagi lelaki itu sudah usai. Kini mereka sudah tidur panjang. Berdua dipeluk bumi. Menua dan pulang dalam cinta yang selalu sama.

Meninggalkan cerita bahwa cinta itu nyata.



 ---
Menjadi saksi kisah cinta yang nyata memang menyenangkan, juga menyesakkan pada waktu yang sama.
I love you, Oma, Opa.
May Allah gives His eternal blessings for both of you.
Rest in love.

May 26, 2017

Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua

Friday, May 26, 2017 0
Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua
Manusia pada dasarnya selalu memihak, kepada apa yang diyakininya benar. Tapi, persepsi 'benar' dan 'salah' bagi setiap orang belum tentu sama. Kita hidup di dunia yang bukan hanya terdiri dari hitam dan putih, ada puluhan bahkan mungkin ratusan shades abu-abu di antaranya. Bukan porsi kita untuk menentukan dan memaksakan apa yang harus diyakini oleh orang lain.

Kita hidup heterogen. Sebut saja suku bangsa, bahasa, budaya, ras, agama, kebiasaan. Hidup berdampingan dengan yang berbeda-beda tentunya bukan hal yang mudah, ya? Tapi bukan tidak mungkin terjadi. Kita sudah pernah melakukannya. Leluhur kita sudah pernah. Kenapa sekarang tidak?

Ketidaksamaan di antara kita memang sangat sangat sering menimbulkan masalah. Bukan akhir-akhir ini saja. Tentunya kita semua pernah tahu bahwa beberapa puluh tahun lalu kaum kulit hitam mendapat diskriminasi besar-besaran di Amerika. Namun setelah beberapa dekade berlalu, salah satu presiden mereka berkulit hitam. Tapi apakah diskriminasi sudah benar-benar hilang disana? Sepertinya tidak.

Sampai kapan pun yang namanya perbedaan itu akan selalu ada. Alhamdulillah manusia diberi Allah akal untuk berpikir, yang seharusnya mampu digunakan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sekali lagi saya bilang, persepsi 'salah' dan 'benar' dari setiap orang belum tentu sama. Dan bukan hak kita untuk memaksakan setiap orang memiliki perserpsi yang sama dengan persepsi yang telah pikiran kita ciptakan untuk kita yakini. Perbedaan lagi.

Ketika kita sudah tahu bahwa kita berbeda-beda, memiliki hasil pemikiran yang berbeda-beda, dan mengimplementasikannya berbeda-beda, lalu mau apa? Apa susahnya menghargai?

Pada tengah jalan kita mungkin akan bertemu dengan manusia-manusia dengan keberpihakan yang sama dengan yang kita anut, dan pasti, pasti kita akan lebih cenderung suka padanya. Memihak padanya, membelanya. Tapi apakah kita harus membenci ketika kita bertemu dengan yang tidak memihak hal yang sama dengan yang kita pihak?

Saya suka sedih dengan keadaan Indonesia yang sekarang semakin carut-marut. Apakah Gadjah Mada dan mimpi besarnya menyatukan Nusantara mati sia-sia? Apakah perjuangan Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanuddin, dan puluhan pahlawan Nasional kita mati sia-sia?

Indonesia yang heterogen ini cantik. Disatukan dengan kata sakti 'Bhineka Tunggal Ika'. Founding Fathers kita percaya Indonesia bisa kuat, bisa bersatu karena keberagamannya. Sekarang keberagaman ini malah jadi senjata untuk saling serang saudaranya sendiri.

Kalau bicara agama, saya kira Indonesia sudah cukup adil. Hari-hari besar setiap agama yang diakui dijadikan hari libur nasional. Rumah-rumah ibadah bebas didirikan. Dan setiap orang berhak untuk memilih apa yang mereka yakini. Saya rasa kita sudah lupa dengan poin-poin dasar ini, dan terlalu mem-blow up apa yang seharusnya tidak perlu di-blow up. Saya percaya setiap agama mengajarkan kebaikan, dan setiap agama memiliki pandangannya masing-masing terhadap penganut agama lain atau dalam kata lain 'non-believer'. Dalam agama Islam sendiri, non-believer disebut 'kafir'. Namun saya rasa penggunaan kata 'kafir' di Indonesia sudah terlalu banyak dipakai untuk menghujat sampai-sampai terpatri dalam benak orang-orang 'kafir' adalah pendosa, tidak pantas diberi surga, dan calon penghuni neraka. Sehingga ketika seseorang dilabeli 'kafir', dia tidak akan terima karena siapa yang ingin dilabeli sebagai 'pendosa', bukan? Padahal arti kafir sendiri yang sebenarnya adalah 'yang bukan muslim', yang seharusnya tidak menjadi masalah ketika digunakan. Tapi sekali lagi, karena penggunaan kata tersebut selama ini adalah untuk menghujat, orang-orang sudah sensitif sekali dengan kata ini.

Hal-hal seperti itu yang membuat kita lupa akan keramah-tamahan dan keindahan keragaman yang kita punya. Indonesia sebenarnya diberikan rasa toleransi yang tinggi, namun emosi yang mudah tersulut, dan lagi-lagi yang paling saya benci, tidak mau cross check. Informasi apapun ditelan mentah-mentah, selama sumber yang memberikan mereka anggap 'benar', dan menolak mentah-mentah informasi dari sumber yang mereka benci. Padahal belum tentu yang mereka anggap benar itu benar, dan yang mereka anggap salah itu salah. Saya sudah bilang kita tidak hidup hanya dengan hitam dan putih. Ada banyak shades abu-abu di antaranya. Tidak mengapa punya pemikiran sendiri, tidak mengapa opini kita berbeda dengan suara mayoritas, tidak mengapa apa yang kita yakini benar tidak sama dengan yang mereka yakini benar. Selama kita mau menghormati, dan menghargai pendapat orang lain.

Apa sih enaknya hidup dalam ketakutan, kebencian, dan rasa marah yang tak kunjung berhenti? Kenapa kita tidak bisa kembali di masa ketika belum marak sosial media dan berita kacangan yang membuat muak, dimana semua orang baik-baik saja hidup berdampingan dengan perbedaan. Internet, media sosial, memang seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi, banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan lebih mudah, informasi-informasi darurat dapat segera tersampaikan, dan kita bisa silaturahmi dengan yang sangat jauh. Tapi di sisi lain, banyak orang yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk menyebarkan kebencian, berita subjektif yang sangat sangat tidak mendidik, atau menghujat sana sini. Marilah gunakan internet dengan bijak. Sebarkan kebaikan, ajakan kedamaian, dan informasi-informasi edukatif yang berguna.

Perdamaian itu bukan tidak mungkin terjadi. Saya pernah tinggal di 4 provinsi berbeda di Indonesia. Selama masa transisi, tentunya 'perbedaan' saya akan terasa dan terlihat oleh 'orang lokal'. Tapi apa saya dikucilkan hanya karena aksen saya berbeda dengan mereka, atau saya tidak mengerti apa yang mereka katakan sehingga mereka harus pakai bahasa Indonesia? Tidak. Manusia itu fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Satu-satunya makhluk yang cara adaptasinya adalah dengan akalnya. Manusia diciptakan untuk bisa hidup berdampingan dengan perbedaan, dan kita bukan tidak bisa beradaptasi dengan perbedaan-perbedaan di antara kita.

Biarlah perbedaan-perbedaan ini jadi pemanis di antara kita. Jadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk tingkat tinggi dengan akal yang mampu toleransi dengan perbedaan. 

Indonesia kaya bukan karena pendapatan per kapitanya tinggi. Bukan karena masyarakatnya semua hidup bergelimang harta. Indonesia kaya karena kita terdiri atas perbedaan-perbedaan yang diirikan banyak negara lain, lho. Tujuh belas ribu pulau, ratusan suku, bahasa daerah, lagu-lagu, tari-tarian, masakan, adat istiadatnya, dan fakta bahwa kita hidup baik-baik saja dengan keberagaman tersebut. Iyakah?

Semoga kita dijauhkan dari rasa benci dan amarah yang tidak perlu. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menyebarkan kebaikan dimanapun kita berada. Aamiin.

All my love,
Atha.

May 20, 2017

What A Funny World We Live in

Saturday, May 20, 2017 0
What A Funny World We Live in


As she closes her eyes, she sees him smiling under the summer’s sunlight hugged by sunset breeze on the top of a cliff next to the ocean. Soothing. Calming. She immediately smiles, knowing that he’s happy.
She has seen his sorrow surrounded by people’s laughter. Depressed and dark. It’s not the fact that he ran low that makes her sad. It’s because she could do nothing to help. That she couldn’t reduce his pain.
Now that everything is better, she only could hope that he would always be okay, always be safe, and always be tough enough to face all mess the world has to offer.

***

It’s her smile that lights up his tiring day. She never realizes that she is so special. One of a kind. She doesn’t believe it everytime people says she’s pretty and worth it. She always takes it as a joke.
Last night after hundreds of things he had to think about, she slipped into his mind. He laughed, potraying her bumping into someone’s back and keep saying ‘Im sorry’. Then she began cursing at herself telling how stupid she is, while he thought she isn’t.
He only could hope that she would begin believing at herself. Rather than focusing at her flaws, he hopes that she would expand her sight, borders, braveness, and finally could see that she’s that special. That she is the reason why he’s smiling tonight.

January 4, 2017

Eighteen Claptraps and Antiquities

Wednesday, January 04, 2017 0
Eighteen Claptraps and Antiquities
Maybe our definitions of happiness are that different. But still, I am staying being the one who is fool. From the first rays of sun until the beautiful orange skies in the afternoon, still believing that at some point we would stop showing each other who’s the best, because at the end, I would keep telling that you are, to me.

I would lose myself thinking about climbing the highest building around us, shouting hellos to the airplanes that fly above our heads, or simply screaming names to whoever walking under the roof. We would eat dozens slices of margarita pizza and get drunk over certain cans of bubbling ginger ales only God knows how much. Then we laugh because we realize how childish we are right now. And I don’t regret it, at all. We would stop anyway, to talk about our precious childhoods and how amazing it would be if we could relive it over again.

On Sundays we would hit the beaches; laying on the sands while having the nastiest sun-bathing ever because it was 12 pm and the sunshine made me sick. You would smile, telling me thousands times it’s okay to tan my already tanned skin; making me ranting for the next days, but keep saying let’s go when you say let’s do it again. Sun burns really felt nothing compared to the scars we’ve given to each other.

You would dance immediately when you hear numerous types of songs I hate, but I’d laugh instead because you are that bad on dancing. Then I’d feed you a big spoon of my all time favorite coconut shaved ice that you loathe, but you’d swallow it anyway because shaved ice gives us brain freeze which is the thing we love the most during summer days, exactly like what slurpee does to us. We abhor things the other love, and that was never matters, until the ants inside our heads dine the wrong cells.

I always felt enough and complete, I guess you did too. Then all things stopped working the way they were, and we started faking everything we could, including laughs and hugs that were never unreal. Looks like we wrote our vows without permanent markers; because now they are starting to fade, as well as our faith on each other.

It just stopped at certain point,
like the radio signal on thunderous nights.
The last thing I saw was your back walking away,
and you’re never back.
Leaving me wondering around of how to operate these things you once promised to teach.

December 25, 2016

Us in a Nutshell

Sunday, December 25, 2016 0
Us in a Nutshell
And I began to brood, whose fault it was. Me, for being such a ingenue, or you, for pretending over anything. I could call it sweet. Running through the basketball court at night which had weird redolent; breaking some school rules only to be joyful. One night we laid on the grass, watching the fireworks that we set on a dark sky. The other night we spent whole day at the park's benches and laughed so hard on our friend's lame jokes. We would out of the blue bump into each other every morning before the fog even vanished; saying hi and awkwardly talked about the weather.

I never thought that I would like you that much. We barely knew each other until one day you brought out the topic of my accent. "Weird," you'd say. You would look at me as if I was an indigenous person of an ancient tribe, just because I talked differently. Then you began ranting; why out of all people I was the one who had cute accent, why our lines crossed in a bizarre way, or why the way I behave bothered you so much. Trust me, I had no idea. I have no idea.

People called it outrageous, but to me that was your incipient attempt to make your dots connected into mine. You were always dancing in the fire while the best thing I did was talking effervescently. I was pretty much doing things behind the curtains and you always showed up under the spotlight. Best actor of all the dramas we played. Now I finally understand why they said "you've been given an elixir. wake up".

At the end, our ego won the battle. We both already gave up before the referee even blew his whistle. We were too afraid to say yes; resulting in a long, savage, fiery ruth. I, wearing my saggy, ugly, navy jacket, feeling unsure, called it quit. Few moments afterwards, I received a big, mysterious dispatch. You viciously were intertwining your lovely yarns, which used to make my gloomy days away, with my sweet best friend's.

Was I a fool to believe it was a sweet lagniappe? I guess I had no choice. We were seventeen and all we did was being comely to each other.
Thank you, though. It was a nice assemblage.

November 7, 2016

Ibu Awet Muda

Monday, November 07, 2016 2
Ibu Awet Muda
Ibu, 32 tahun (17 tahun yang lalu).
 Perempuan tangguh paling cantik di dunia, dan saya beruntung memanggilnya 'Ibu'.

Darinya saya belajar banyak.
Bagaimana caranya ikhlas memaafkan orang lain yang telah menyakiti hati. Bagaimana bisa sabar menghadapi cobaan demi cobaan yang seharusnya bukan menjadi tanggungjawab beliau.

Entah sudah berapa banyak tetes air mata dan aduan beliau kepada Allah tentang betapa kejamnya dunia mengukir hidupnya. Namun Ibu tidak pernah menampakkan bahwa beliau lelah. Bahwa ia sedih. Ibu selalu kuat dan mengajarkan saya untuk menjadi yang sama. "Anak Ibu harus kuat. Nggak boleh cengeng."

"Anak Ibu harus kuat. Anak Ibu harus bisa berjuang."
Dan dari Ibu saya akhirnya mengerti tentang perjuangan dan pengorbanan, karena perjuangan dan pengorbanan Ibu tidak pernah sekecil itu. Ibu bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Namun semangat Ibu untuk belajar, untuk menjadi lebih baik, dan untuk membahagiakan ibunya tidak pernah sederhana. Ibu merupakan anak pertama di keluarganya yang ngotot kuliah ke luar kota agar dapat pendidikan yang lebih baik, dan Ibu berhasil. Ibu merupakan alumni salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dan hal tersebut membuat saya iri beberapa tahun lalu. Tapi alhamdulillah, sekarang, saya satu almamater sama Ibu :) Seperti yang sudah saya ceritakan di 'Ngobrol', Ibu bukan merupakan ibu rumah tangga biasa. Ibu malaikat saya. Salah satu hadiah terbaik dari Allah untuk saya.

Sampai saat ini saya tidak pernah bisa paham bagaimana bisa Ibu memiliki hati seluas samudera. Hati yang mampu memaafkan. Hati yang mampu sabar. Hati yang mampu ikhlas.
Mungkin hati Ibu yang cantik tadi menjadi salah satu alasan mengapa hingga saat ini masih banyak orang yang salah menebak umur Ibu. (Ibu, jangan geer kalo baca ini, ya!)
 
Ibu, 48 tahun
(2015)
Ibu, 49 tahun
(Oktober 2016)

Pasti Athaya bercanda, ya?
Kalau mau boleh kok cek KTP Ibu hahaha. Selain mengajari saya beragam hal mengenai hidup, sebagai perempuan, tentu Ibu juga cerewet mengajari cara merawat badan, termasuk wajah. Berikut tips-tips yang ibu ajarkan kepada saya
  1. Asupan yang sehat
    Banyak minum air putih, makan sayur dan buah, kurangi makan junk food.
  2. Buang air besar harus lancar
    Mungkin terdengar menggelikan. Tapi percayalah, metabolisme yang lancar akan berakibat baik juga terhadap kulit.
  3. Tidur yang cukup, kurangi begadang
    Ibu selalu bilang lebih baik tidur cepat dan bangun sebelum subuh dibanding tidur larut malam dan bangun ketika matahari sudah tinggi.
  4. Pakai produk perawatan kecantikan yang aman dan cocok
    Sejak SMA, ibu selalu maskeran dan luluran satu minggu sekali. Tips yang selalu ibu tekankan kepada saya adalah selalu membersihkan muka setelah berpergian, serta harus tidur dalam keadaan muka sudah bersih dari kotoran dan terutama make up.
Tapi Ibu tetaplah perempuan, yang selalu khawatir akan rambut yang perlahan mulai berubah warnanya, garis-garis halus serta titik-titik kecokelatan pada wajah, dan kulit yang semakin mengendur. Oh Ibu, semuanya wajar mengingat usia Ibu.


"Tapi kalau bisa diperlambat penuaannya kenapa enggak, mbak?" kata Ibu.
Akhirnya beberapa waktu yang lalu saat saya sedang browsing sana sini, saya melihat produk baru L'Oreal, yaitu L’Oreal Paris Revitalift Dermalift yang merupakan produk anti-aging yang menurut saya bisa banget dicoba oleh Ibu! Dan juga ibu-ibu di luar sana, karena sepertinya menjanjikan sekali dan L'Oreal bukan merupakan pemain baru dalam pasar kosmetik sehingga tidak perlu diragukan lagi keamanan dan kualitasnya.

Selain asupan yang sehat dan begizi serta perawatan wajah yang tepat, hati yang cantik juga akan sangat membantu memercantik wajahmu, perempuan Indonesia!
Dimanapun kalian berada, jangan sia-siakan #UsiaCantik untuk bersedih meratapi tanda-tanda penuaan, karena tua itu pasti, tapi penuaan belum tentu cepat terjadi. Tetaplah cantik, perempuan-perempuan cantik

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.

October 9, 2016

Ngobrol

Sunday, October 09, 2016 0
Ngobrol

Saya suka sekali ngobrol. Bertukar pikiran, pendapat, dan sudut pandang akan penyelesaian suatu masalah, atau setidaknya opini mengenai sebuah fenomena. Jarang sekali bisa saya temukan teman ngobrol yang asik dan tahu banyak. Mungkin kebanyakan memang sukanya ngobrolin tentang gosip atau make up. It’s fun sometimes, but it gets me boring easily.

Ngobrol disini maksud saya adalah beneran ngobrol. Tentang berita yang lagi hits, perang dunia, ideologi, atau fenomena-fenomena ajaib khas Indonesia. Dan sampai sekarang teman ngobrol yang paling asik untuk saya adalah Ibu. Sama Ibu saya bisa ngobrolin banyak hal mulai dari politik, fenomena nikah muda, agama, sampai kebijakan pemerintah. Dua jam di telepon pun tidak terasa lama kalau ngobrol sama Ibu. 

Mungkin Ibu saya hanya ibu rumah tangga. Tapi pengetahuan dan pandangan beliau tentang dunia nggak sesederhana itu. Coba, ibu rumah tangga mana yang khatam novel Harry Potter 1-7, Twilight Saga, Sherlock Holmes, dan novel-novel Agatha Christie. Bahkan dongengku sebelum tidur sewaktu kecil adalah seri novel Lima Sekawan nya Enid Blyton. Film favorit Ibu adalah semua seri James Bond dan Mission Impossible... hahaha I lose at this point. Pengetahuan umum Ibu tentang dunia jauh lebih luas daripada saya. Ibu tahu kota-kota apa yang memiliki sejarah apa, ibukota-ibukota negara, sampai makanan khas dan tujuan wisata di negara-negara yang jarang kita tahu. Tapi Ibu ya tetap Ibu-Ibu. Sekarang lagi hobi sekali nonton sinetron Turki. Semoga beneran bisa keliling Turki one day ya, Mom.

Balik lagi ke topik. Kenapa, sih ngobrol itu penting. Dari ngobrol kita bisa tahu seperti apa seseorang itu, dan sepinter apa dia. Pintar tidak selalu tentang hal-hal kognitif yang hanya berorientasi pada akademik tapi social skill dan pengetahuan umumnya nol besar. Bukan. I’m not into those kind of people. Beberapa teman saya tanya, “Atha suka cowo yang kayak apa?” dan akan selalu saya jawab “Yang lebih pintar dari Atha.” Dari jawaban itu teman-teman saya selalu menatap saya aneh dan selalu bilang  So you like nerds who wear thick glasses and socially inactive and all they do is studying by themselves?”  Nggak. Orang-orang pintar menurut kamus saya adalah mereka yang pintar secara sosial, dalam artian akhlaknya bagus dan tahu bagaimana cara memerlakukan orang lain. Selain itu, mereka juga memiliki pengetahuan umum yang luas serta cara pandang yang cerdas, jadi asik sekali kalau jadi teman ngobrol dan diskusi. And they can teach me something I don’t know. Udah deh kalau sudah ketemu yang begitu saya langsung nge-fans.

Seperti yang kita tahu dari jaman sekolah dasar dahulu. Manusia adalah makhluk sosial, dan selalu butuh kegiatan sosial. Hal yang paling mendasar untuk bisa mengawali hubungan sosial ini ya ngobrol tadi. Sehingga sebenarnya ngobrol adalah salah satu kebutuhan dasar yang mau nggak mau harus kita penuhi. Entah hanya ngomongin kejelekan orang, atau diskusi tentang harga minyak bumi. Tinggal kita saja yang memilih, mau terus menerus ngobrolin hal nggak penting semacam kejelekan orang atau menambah ilmu baru dengan ngobrol yang melibatkan sudut pandang- sudut pandang baru.

Jadi, ngobrol yuk?

September 9, 2016

Those Who Live Far Away from Their Loved Ones

Friday, September 09, 2016 0
Those Who Live Far Away from Their Loved Ones

“Distance means nothing when someone means everything”,
said someone who doesn’t understand the meaning of missing someone else.
Said someone who’s trying so hard hiding their feeling of longing.

Don’t be too naive. Nothing can heal a longing heart except physical contacts or when your eyes finally see them again. In 4D. Real. Not just voices, pictures, or videos.

And I miss
my mom’s lap.
My daddy’s kiss on the forehead.
Seeing my sister sleep.
Laughing so hard with my best friends. And seeing them re-applying lip tint everytime we take picture.
The smell of my bedroom.
My grandma’s cooking.
Rebuking my grandpa to stop smoking.
My junior high’s classmates. How we used to watch movies after school. Or take a nap during breaks.
My mother’s hug.
The cities I grew up in.
My old neighbours.
Bibi’s cooking. And Bibi too.
High school.
The things I do every Friday with my best friends when I was in junior high.
My high school sweethearts.
My sister’s cheap jokes.
Chemistry lab works on high school.
Gossip time with my mates in english club.
And so on...
My heart starts confusing about which thing I miss the most.

Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard...

Sometimes I feel like I’ve grown up so much than I was few years ago.
“You are the bravest one I have ever known. You deserve the best. You did good. Keep doing good.” I always tell my self those things everytime things get harder. Everytime I feel weaker.
I kinda am proud of my self because I am brave enough to live alone in a city I don’t know so far away from my family. Not so many could experience this.

But.

I also keep reminding my self that there are SO MUCH teenagers who are as old as me out there struggle harder than I do.
Like my struggling is nothing compared to them.

But sometimes it feels hard everytime I see my friends get the chance to go home every day. Every weekend, or every month.

Get to eat their mothers’ cooking every meals everyday and eat dinner with all family members at night. Get to hug their moms. Get kisses on the forehead from their dads. Arguing with their siblings.
Or anything else I haven’t done, gotten, experienced or felt in months.

For you who say I am too much, well maybe you haven’t felt it.

And for you who feel the same way, cheers. We are stronger than we think. Good luck on your studies, don’t ever lose faith. Prove to them who say you’re exaggerating that you could do so much better. Well, sad to say, they will never understand our struggling. Don’t hope that they will. They won’t. Unless they have experienced it themselves.
Stay strong! Because our family do too. Make them proud. 

Love from Jogjakarta, Indonesia, 1.180km from home,
Atha

July 25, 2016

Kamukah yang Kucinta?

Monday, July 25, 2016 0
Kamukah yang Kucinta?
Jadi beberapa bulan yang lalu aku bikin artikel buat ikutan lomba #CintadalamKata di idntimes.com tapi ngga menang, padahal udah bikin 2 hehe daripada ngga ada yang baca, aku share aja ya disini. Btw emang tema lombanya cinta cmiww

Kamukah yang Kucinta?
Dan aku katakan sekali lagi.

“Aku mencintaimu.”

Entah kota ini yang terlalu romantis atau aku yang terlalu puitis. Tapi memang begitu kenyataannya. Aku, yang selama ini tidak peduli dengan cinta, bisa jatuh hati begitu saja kepadamu, yang tak pernah berhenti bermain wanita. Kukira kita impas, karena selama ini kita tidak pernah menghargai cinta seperti yang seharusnya dilakukan manusia sebagai balasan syukur atas rasa yang belum tentu dirasa setiap insan.

Kau tahu, aku takut.

Aku takut jika tempatku jatuh akan meremukkan seluruh tulangku, karena ketahuilah aku telah jatuh sejatuh-jatuhnya. Namun aku lebih takut lagi, jika kau tangkap aku, terbangkan aku, dan jatuhkan aku dari tempat yang jauh lebih tinggi. Bisa meledak semua isi kepala dan perutku.

Aku tidak pernah memilih untuk mencintaimu. Oh, dengan cinta saja aku tidak percaya. Lalu kau perlahan datang, menyusup ke dalam rongga-rongga jantung yang selama ini hanya terisi darah, darah, dan darah. Kau berikan cinta di dalamnya. Detaknya menjadi-jadi, tak bisa diatur lagi. Entah kau melakukannya secara sadar atau tidak. Tetapi terima kasih, aku bahagia.

Tidak ada hari tanpa bahagia. Lantunan rasa hatiku mengalun lembut setiap detiknya. Membiarkan diriku jatuh, jatuh, dan jatuh lebih dalam lagi. Kau tahu? Cinta adalah bahagia jika kau jatuh cinta pada orang yang tepat. Aku rasa kau tepat. Setidaknya menurutku begitu.

Hingga suatu hujan kau menghilang. Lenyap begitu saja tanpa kabar sama sekali. Tak ada artinya kah aku untukmu? Tetapi mungkin memang seharusnya begitu. Aku tidak diciptakan Tuhan dari salah satu costaemu yang hilang. Setidaknya terima kasih telah menyadarkanku bahwa masih ada yang jauh lebih menyakitkan dari tulang yang patah. Hati yang retak, kepercayaan yang rusak, mata yang membengkak, dan bahagia yang tak lagi tampak.

Manusia egois, kau tahu? Manusia selalu ingin menjadi yang satu-satunya. Tak terkecuali aku. Setiap malam aku selalu merengek kepada Tuhan agar mengantarmu untukku. Tak apa, bila aku hanya bisa bersamamu sepanjang malam dan mendapati air mata pada permukaan bantalku di pagi hari. Sungguh, tak apa. Itu jauh melegakan dibanding tidak adanya kabar darimu.

Ternyata selama ini aku salah, dan sekarang aku mengerti, mengapa mereka mengagungkan rasa ini. Aku paham, mengapa rindu lebih menyayat dibanding jatuh cinta. Setidaknya tolong beri aku kabar, walau kabar itu berarti kau sedang bahagia dengan yang tepat. Dan ia bukan aku.

Cinta yang Tak Pernah Kau Pedulikan

Monday, July 25, 2016 0
Cinta yang Tak Pernah Kau Pedulikan
Jadi beberapa bulan yang lalu aku bikin artikel buat ikutan lomba #CintadalamKata di idntimes.com tapi ngga menang, padahal udah bikin 2 hehe daripada ngga ada yang baca, aku share aja ya disini. Btw emang tema lombanya cinta cmiww

Cinta yang Tak Pernah Kau Pedulikan

Cintanya sering kita lupakan karena terkadang kita terlalu sibuk. Terlalu sibuk mengkhawatirkan apakah kita sudah cukup ideal untuk pasangan yang kita idam-idamkan sejak lama. Padahal ia dan cintanya tak pernah menuntut syarat. Ia telah memberikan cintanya bahkan sejak sebelum dapat melihatmu. Kau tidak pernah tahu bahwa doa-doanya kepada Tuhan jauh sebelum pertemuan antara ia dan kau adalah agar kau cepat-cepat hadir dalam dekapannya.

Hari paling bahagia dalam hidupnya adalah ketika ia bertemu denganmu. Di hari itu, ia akan mengecup lama keningmu seraya menghembuskan kelegaan yang teramat dalam. “Akhirnya kau datang, sayangku.” Di hari itu, ia dengan egois menobatkan dirinya sendiri sebagai laki-laki paling beruntung sedunia.

Ia akan berusaha mati-matian agar kau dapat merasakan arti kata nyaman. Ia rela menebus kebahagianmu dengan apa saja, bahkan jika harus sejumlah tak hingga, ia sanggup. Membuatmu senang adalah tugas keduanya setelah melindungimu. Menjagamu dari bahaya agar mimpi-mimpi yang kau rangkai bersamanya dapat menjadi nyata satu persatu.

Hari demi hari ia lalui bersamamu. Namun, masih saja sama seperti beberapa tahun belakangan. Kau tak pernah peduli pada cintanya. Sekolah, model baju dan rambut, perhiasan, serta laki-laki paling tampan di sekolah jauh lebih menarik perhatianmu.

Lagi-lagi ia pandai berpura-pura. Ia berlagak seolah tak peduli saat mendengarmu bercerita dengan semangat bahwa kau sangat bahagia hari itu. Laki-laki yang kau suka mengantarmu pulang ke rumah dan mengatakan hal yang kau damba-dambakan. Tahukah kau bahwa setengah mati ia menahan kecemburuannya? Dalam hatinya hanya berlaku satu pasal yang belum juga kau pahami; kau adalah miliknya.

Tak seperti perempuan, ia akan diam saja melihat kau patah hati. Tetapi mungkin kau tidak pernah menyadari bahwa hatinya juga terluka sangat dalam, melihat hati kecil yang sudah susah payah dibahagiakannya itu dipatahkan begitu saja oleh orang yang bahkan tidak ia kenal.

Hari paling menyedihkan dalam hidupnya adalah ketika ia harus rela melihatmu diambil oleh orang lain dari pelukannya. Tidak, di hari itu ia tidak akan menangis terisak seperti saat mengetahui universitas ternama itu menerimamu. Ia akan tersenyum dan lagi-lagi berdoa kepada Tuhan agar tangan-tangan Tuhan bisa mewakili tangan-tangannya yang sudah tidak mungkin lagi untuk melindungimu.

Ia memang tidak pernah mengatakannya. Namun percayalah, ia mencintaimu jauh lebih besar dari yang kau tahu.

Didedikasikan untuk para ayah, yang tidak pernah berkesempatan mengikrarkan cintanya untuk anak-anak perempuannya. Terutama untukmu, Bapak.

April 29, 2016

Kindly Help Me, Please!

Friday, April 29, 2016 0
Kindly Help Me, Please!
Few days ago I joined a cyberspace writing competition, and today I got an email telling me that I made it into the final!
SO, the judgement to decide the winner is based on the quality of the article, the number of how much the article is shared, and the number of pageviews.
And I want you to help me!

Kindly open and read my article. If you like it, share this article to your friends and relatives through your social medias!
 
Berjuanglah Wahai Pejuang Masa Depan, Demi Indonesia yang Sombong dan Egois

 The announcement will be on Monday, May 2nd 2016.
I will let you know, whether I win or lose :)
Thank you very much. Vielen Dank. Hvala puno. Terima kasih banyak!

Love,
Atha

April 3, 2016

Putih Abu-Abu

Sunday, April 03, 2016 2
Putih Abu-Abu
Draft yang ditulis sekitar wisuda kelulusan, Rina Sapih Abhiceka Cisya 2015, dan diedit serta dipublikasikan hampir satu tahun kemudian.
 

Tawanya sehangat matahari musim semi, tidak pernah berhenti memelukmu dari jauh. Sesuatu yang selalu kau rindukan ketika dunia gelap dan dingin. Sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum dan tertawa lebih lebar lagi, seakan bahagia itu benar-benar nyata. Aku tahu kebahagiaan tidak akan abadi, namun saat bersamamu adalah salah satu dari ratusan saat dimana aku ingin membekukan waktu. Mengobati luka, dan bangkit kembali.

Waktu cemburu ketika kuhabiskan ia bersamamu. Ia terasa seperti mengorupsi dirinya demi mempersingkat pertemuan kita. Dua tahun. Seratus empat minggu. Tujuh ratus tiga puluh hari. Tujuh belas ribu lima ratus dua puluh jam. Ratusan ribu menit, puluhan juta detik, dan milyaran kenangan bersamamu.

Aku tidak pernah mengeluh ketika interaksi denganmu memakan waktu lebih banyak daripada yang kugunakan untuk bercengkrama dengan keluargaku di rumah. Aku justru menyukainya. Sangat menyukainya. Aku tidak pernah keberatan ketika harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang ketika sudah tidak ada matahari. Hanya agar aku bisa bertemu denganmu.

Kau mengajariku banyak hal. Bagaimana menyenangkannya tumbuh dewasa dan membuat kesalahan bersama. Jatuh cinta, patah hati, kesetiaan, dan pengkhianatan. Kau tahu, aku senang bahwa kaulah yang menjadi temanku merasakan hal-hal fantastis untuk yang pertama kalinya. Bagaimana membahagiakannya memperoleh balasan setimpal atas apa yang telah kita usahakan dengan peluh dan darah. Serta bagaimana menyedihkannya ketika kau tidak lagi menganggapku sebagai tempat berbagi suka dan lara, saat aku masih mempercayaimu atas mimpi dan rahasiaku.

Aku rasa hidup menampar kita masing-masing dengan kadar yang berbeda. Mungkin persimpangan di ujung jalan itu membuat kita tumbuh menjadi individu yang tak sama. Tapi tolong ketahuilah, rasa sayangku padamu tidak akan pernah berubah.

Kau selalu menjadi yang paling manis untuk dikenang. Karena banyak hal.

Ketika segala penatnya rutinitas menyedot habis kebahagiaan kita, kau selalu punya cara untuk membuatku tertawa dan bersyukur bahwa aku tidak sendiri. Bahwa bersama itu lebih menyenangkan dan patut untuk dipertahankan. Celetukan konyol, tingkah laku spontan, bahkan lelucon yang sama sekali tidak lucu pun mampu membuat semua orang disekitar kita ikut tertawa. Ikut bahagia.

Walaupun terkadang kau egois.

Bocah-bocah tujuh belas tahun yang selalu merasa dirinya sudah dewasa. Sudah mengerti segalanya tentang dunia dan cinta. Tidak mau mengalah. Tidak mau disalahkan. Sama-sama keras kepala. Merasa paling benar sendiri.

Beberapa kali kita berselisih. Yang kalau kupikir-pikir sekarang alasannya tidak masuk akal sama sekali. Tapi ketika itu kita menganut paham yang sekeras batu. Solidaritas harus selalu yang nomor satu.

Berpisah denganmu sedikit banyak mengajariku tentang berbagai macam hal. Bagaimana menjadi kuat dan besyukur, misalnya. Menjadi tangguh tanpa lindungan tangan-tanganmu yang dulu selalu menjagaku dalam jarak aman, dan membuatku sadar bahwa aku perlu bersyukur karena ternyata salah satu hadiah terbaik yang diberikan Tuhan padaku adalah engkau.

Persahabatan kita.

Mungkin aku tahu alasan mengapa seragam SMA berwarna putih abu-abu. Karena cerita yang mengiringinya sudah berwarna-warni tanpa kelabu :)

Selamat berjuang, Owi. Semoga sukses selalu.
 


Yang selalu kangen Owi,
Atha.

January 2, 2016

2036

Saturday, January 02, 2016 0
2036
Mungkin aku bukanlah mereka yang pantas kau dambakan, sayangku. Aku bukan gadis manis yang dapat dengan sempurna memoles bibir selihai koki handal memoles mentega di atas satu lembar roti. Aku bukan gadis penurut yang meng-iyakan semua yang ayah dan ibu katakan, duduk diam di rumah belajar menjahit dan menyulam. Aku juga bukan gadis tangguh yang bisa berlari mendaki dalam satu helaan napas. Tapi ketahuilah bahwa aku menyayangi dan memahamimu lebih daripada dirimu sendiri.

Dua puluh tahun lagi lilin di atas kue ulang tahunku akan berbentuk tiga dan delapan, sementara milikmu mungkin tiga dan sembilan atau bahkan empat dan nol? Entahlah. Aku bahkan belum mengenalmu.

Pada saat itu sayangku, orang-orang di sekitar kita akan melabeli kita dengan tulisan ‘dewasa’ besar-besar pada bagian depannya, anak-anak akan mulai masuk sekolah menengah, lalu kau dan aku akan mulai menuai garis-garis halus pada wajah kita yang tidak lagi kekanakan.

Seperti biasa, menjelang maghrib tiba aku akan berteriak kesal karena ketiga anak laki-laki kita sulit sekali disuruh mandi. Setelah seharian berurusan dengan povidone-iodin, resin komposit, dan beberapa orang pasien yang cerewetnya minta ampun, aku ingin mereka mendengarkan dan menurut kepadaku. Bau alkohol bercampur porselen -ahli kedokteran gigi menyarankan untuk mulai mengurangi pemakaian amalgam beberapa tahun yang lalu- yang menguar dari tubuhku membuatku semakin jengah. Aku tidak ingin kau pulang dan mendapatiku yang berbau porselen serta anak-anak yang bau matahari.

Namun pada akhirnya kau hanya tertawa. Kau terlalu keras pada mereka, katamu. Oh, aku hanya ingin anak-anakku tidak sakit. Lagi-lagi kau tersenyum, dan membuat sesalku menjadi berlipat-lipat karena belum sempat mengganti bau alkohol-porselen dengan bau kombinasi alkohol yang lebih manis, vanilla musk atau lavender, misalnya.

Aku tahu kau lelah. Lensa kacamatamu bercerita bahwa ada klien yang komplain terus menerus karena hasil rancanganmu tidak pernah memuaskan mereka. Mungkin kau juga akan bercerita betapa kesalnya kau hari itu ketika salah satu mesin produksi berhenti beroperasi dan tidak ada yang mau bertanggung jawab. Selanjutnya kita berdua akan mulai berbagi apa saja. Hukum, politik, sains, teknologi, kesehatan, sosial, agama, dan hal-hal paling menjengkelkan hari itu. Betapa seorang istri konglomerat memarahi dan memaki-maki asistenku karena biaya orthodonsi yang harus dibayarkan melebihi ekspektasinya. Aku kesal sekali. Aku tahu uang belanjanya berkali-kali lipat jauh diatas pendapatanku. 

Dinding-dinding rumah kecil kita di pinggiran kota Padang mungkin sudah bosan mendengar segala keluh kesah yang kita lontarkan setiap malam selama beberapa tahun terakhir. Setiap malam mimpiku berkeliaran kemana-mana karena aku tidak tahu apa yang akan esok kabarkan mengenai kariermu. Mungkin saja bulan depan KTPku akan bertuliskan Nusa Tenggara Barat. Atau Kalimantan Selatan. Atau bahkan Maluku Utara.

Oh, mungkin cerita kita akan berbeda dari yang sudah aku eksplanasikan. Mungkin kita tidak akan tinggal di pinggiran kota Padang. Mungkin kau tidak memakai kacamata dan pekerjaanmu tidak menuntut kita untuk selalu berpindah. Mungkin anak-anak kita tidak semuanya laki-laki (namun aku selalu ingin punya anak laki-laki banyak). Atau mungkin tidak pernah ada dua puluh tahun lagi. Siapa yang tahu, kan?

Tetapi jika aku sangat beruntung untuk bisa hidup dua puluh tahun lagi, aku akan merasa menjadi perempuan paling terberkati di dunia. Aku punya kau, teman berbagi segalanya menghadapi ratusan ribu hari yang aku jamin akan jauh lebih menyenangkan dibanding film-film Hollywood kesukaan kita.

Sampai ketemu, sayang. 

December 14, 2015

Would the World be Different without You?

Monday, December 14, 2015 0
Would the World be Different without You?
I was asked today,
What is the world’s problem you think you can solve?
What will you do to solve it?
And
Why does the world need you?

It hit me hard. Because before today, I only thought about my self, my family, my friends, and yeah sometimes my country, Indonesia. I have never thought that the world needs me. That I could be the one who can solve the world’s problem.

I was taught today to be more open-minded, to open my eyes to the world’s problem, to realize, and understand.

I just realized today, that the world could be different with my presence, that I live in it and have responsibility to make the world a better place, like Michael Jackson said on one of his songs, Heal the World.

The world could be a beautiful place to live in, when people stop judging before they know and understand others. People need to realize that differences mean nothing. We are all humans. We have same rights, needs, and responsibilities. We were just created in different packages. Like if we were all created the same, wouldn’t it be soooo boring, right?

So throw the differences away. Act like they don’t even exist.

Why do we need war, when we can share and spread the love?

It's nice you know, when we can live and learn together, understand each other.
Someone had ever said, "Mountains can never reach each other despite their bigness, but people can."

Go travel, go see the world. Open your eyes wider because the world is much much bigger than we've ever expected. Once you're there, go do something that could change the world, at least someone's life.

And finally, ask yourself,
would the world be different without me?

November 10, 2015

Rumah

Tuesday, November 10, 2015 2
Rumah
Kalau bagimu bahagia adalah terus berpindah, bagiku bahagia adalah menghirup satu meter kubik udara yang sama denganmu. Mengeksresi karbon dioksida dalam dimensi ruang yang sama, berbagi lelucon yang sama sekali tidak lucu, dan berbagi kehangatan kenangan yang sama.

Aku telah memutari bumi belasan ribu kilometer. Namun tidak ada yang terasa senyaman rumah. Tidak ketika tidak ada bayanganmu yang jatuh tepat pada bintik kuning di retina mataku, menimbulkan impuls yang membuat seluruh sel sarafku menari bahagia.

Kamu sama saja seperti waktu. Tidak akan pernah statis.

Berkata ‘ya’ pada pertanyaanmu beberapa tahun lalu sama saja menyetujui segala konsekuensi yang tersembunyi dalam setiap kalimat yang kau lontarkan.

“Aku bukan hidup dalam kurungan, entah teralis besi, susunan beton, atau anyaman bambu. Aku hidup bergesekan dengan ranting pohon, aliran sungai, sengatan matahari, dan tamparan dingin angin malam. Bersinggungan dengan warna kulit warna-warni, kota-kota gelap tak berlentera, dan milyaran kata-kata asing yang bahkan tak kupahami.”

Tidak. Aku sama sekali tidak lupa. Bagaimana caraku untuk bisa melupakan semua hal yang telah mengubah kelabu menjadi merah jambu?

***
Frankfurt am Main, dua bulan sebelumnya, pukul 2 pagi waktu setempat.
Aku sedang menekuni berlembar-lembar halaman jurnal tentang sejarah Uni Eropa berbahasa Jerman. Kepalaku sakit. Sudah 6 jam sejak aku membaca kalimat pertama pada jurnal yang pertama. Namun hingga saat ini aku masih belum bisa paham. Tujuh jurnal dengan segala kerumitannya itu aku tinggalkan begitu saja. Aku ingin tidur. Tidak peduli jika besok ada ujian akhir mata kuliah sejarah kebudayaan Uni Eropa.
Oh sial.
Maksudku hari ini.
Tepat tujuh jam lagi.

Aku rasa tidur selama lima jam sudah sangat lebih dari cukup.

Aku baru akan memejamkan mata saat tiba-tiba telepon genggamku berdering nyaring satu kali. Tanda ada sebuah surel yang masuk.

Semoga kabar dari yang ditunggu-tunggu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Calya Akayasa,
kemarin sial sekali. Aku lagi ambil gambar Manhattan skyline dari Brooklyn Bridge sambil pegang hape. Ceroboh, ya? Pasti kamu tahu kelanjutannya. Sekarang hapenya sudah berenang bareng ikan di East River.
Maaf buat semua messages di Line/sms/Whatsapp yang belum sempat kubalas. Maaf, buat semua kekhawatiran yang kemarin-kemarin.
Hari ini ujian akhir sejarah kebudayaan Uni Eropa, ya? Wah, aku tahu kamu pasti bisa. Kamu sudah hafal ratusan nama raja ratu yang mirip-mirip itu dari SMA, kan? Thesis nya gimana? Kapan sidang?
Sleep tight, and good luck for tomorrow. Saling mendoakan terus, ya. Jaga diri baik-baik, Cal.
You know I love you,
Alastair Haider
p.s. see you really really soon, Schatzi!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ternyata surel singkat itu mampu membuatku menangis ditengah kantuk yang tak tadinya tak bisa ditahan. Berbagai perasaan melebur menjadi satu. Lega, jengkel, dan rindu yang tidak tahu dimana ujungnya. Merasakan lelah dan khawatir secara bersamaan bukan merupakan perasaan yang menyenangkan.

Kubalas surel Asta lambat-lambat sembari menahan buliran bening air mata yang tidak mau berhenti.

Asta, tenyata pergi dari rumah membuatku paham arti rindu yang berkepanjangan...

***
Jogjakarta, lima tahun lalu.
“Jadi... mau nggak Cal?”

Aku masih terdiam dan terengah-engah sembari memandangi ujung-ujung sepatuku yang tergeletak di atas paving block jogging track lapangan GSP. Ya, aku kehabisan napas setelah berlari sore mengitari GSP tiga kali.

Dan setelah ditembak Asta.

Aku mengatur napas satu persatu. Melihat Asta yang menatapku penuh harap.

“Harus banget ya, nanyanya pas aku lagi keringetan dan ngos-ngosan?”

“Calya...” Asta menahan gemas.

“Boleh, deh.”

“BOLEH, DEH? Cal, aku bukan lagi ngajak makan malam...” Asta menghela napas berat.

“Kamu maunya aku jawab pakai kalimat kayak apa? Iya, Asta. Aku mau jadi pacar kamu. Gitu?” Aku tersenyum jahil penuh kemenangan.

Akhirnya Asta tertawa lepas dan mengacak-acak rambutku yang penuh peluh. Lima detik kemudian ia mengeluh menyesal melakukan itu. Sekarang telapak tangannya lengket dan berbau tidak enak.

“Cal, obrolan kita nggak akan pernah garing, kan?”

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab yakin. “Nggak, lah. Kita punya pengetahuan dalam bidang berbeda. Kamu open-minded. Kamu teman diskusi paling seru yang pernah aku kenal, Ta. Jangan berubah, ya. Tetap ajarin aku soal kamera, gunung, atau mineral. Aku janji nggak akan bosan.”

“Iya, asal kamu juga nggak bosan-bosan kasih tahu aku soal dunia. Tentang sejarah peradaban manusia, politik, dan budayanya. Tentang mimpi-mimpi besarmu. Tentang hal yang paling kamu benci dalam satu hari. Tentang apa yang kamu pikir perlu kamu bagi.”

Aku tersenyum dan memandang Asta sayang. Lalu tiba-tiba tertawa saat aku mulai merasakan mataku memanas dan mengeluarkan air mata. Beberapa detik kemudian aku menjawab ada keringat yang masuk mata saat Asta bertanya kenapa.

Ya Tuhan, aku bahagia.
***
Jogjakarta, hari ini.

Hari ini hari pertamaku menjejakkan kaki lagi di Jogjakarta setelah kurang lebih dua tahun aku tinggal di Jerman menyelesaikan program beasiswa master. Hari ini harusnya Asta yang menjemput di bandara. Harusnya.

Tapi beberapa hari belakangan Asta sulit dihubungi. Meninggalkan kembali jejak-jejak kekhawatiran yang dua tahun belakangan selalu menghantuiku. Dua tahun yang naik turun seperti roller coaster. Dua tahun yang sempat membuatku ragu. Dua tahun yang ternyata lama sekali.

Selama dua tahun belakangan aku merasa jarak antara aku dan Asta bukan hanya Jerman-Indonesia. Lebih dari itu. Oke, aku tahu Asta sering keliling dari satu negara ke negara lain karena hobi dan pekerjaannya. Bukan, bukan jarak harfiah seperti itu. Tetapi jarak antar perasaan. Jarak yang akan terus mengecil dan semakin mengabur saat kau dan seseorang sudah memiliki koneksi rasa bahagia yang sulit diartikan. Aku menyebutnya jarak batin.

Sekarang aku merasa jarak batin antara aku dan Asta memuai, dan aku rasa aku perlu sedih juga khawatir.

Karena sesungguhnya jarak batin jauh lebih menyakitkan dibanding jarak geografis.

Namun aku bukan perempuan cengeng. Aku tahu aku bisa menjaga diri, begitu juga Asta.
***

Di hari ketiga Asta baru bisa dihubungi. Malam ini ia berjanji akan menjemput dan mengajak makan malam. Nostalgia, katanya. Hatiku berdebar. Aku akan bertemu Asta setelah dua tahun yang telah berhasil kami selesaikan.

Dan disanalah ia. Berdiri di depan pagar dengan hoodie biru dongker hadiah ulang tahun dariku tiga tahun lalu. Ia tersenyum. Namun aku merasa asing.

Dengan kikuk aku menghambur ke pelukannya.

“Halo lagi, Ta.”

Welcome home, Calya.” Asta mengecup puncak kepalaku. Aku merasa asing.

Asta melepaskan pelukannya saat sadar aku hanya terdiam satu menit berikutnya.

“Kamu nggak  apa-apa?”

Aku menggeleng pelan. “Yuk, keburu malam.”

Sepanjang perjalanan menembus angin malam Jogjakarta, aku hanya terdiam di atas jok motor. Asta terasa berbeda. Ia mengenakan parfum yang beda, punggung yang lebih lebar, model rambut, serta intonasi suara yang berbeda.

Mungkin Asta juga merasakan perbedaanku. Dibuktikan dengan tidak adanya perdebatan seru mengenai harga minyak atau penyetaraan kesehatan di atas jok motor seperti biasanya. Malam ini hanya hembusan angin dan deru knalpot yang terdengar.

Dua tahun bisa berarti banyak, ya, Ta.

Setelah memesan makanan, kami kembali terdiam. Sampai Asta bertanya basa-basi. Aku benci basa-basi.

“Ta, kita kenapa, ya?”

“Kenapa gimana?” Raut wajah Asta berubah bingung. Namun aku yakin sebenarnya ia mengerti.

“Beda. Apa karena udah nggak ketemu selama dua tahun? Atau semakin kesini kita semakin yakin kalau passion kita beda?”

Asta tertawa hambar. “Dari dulu passion kita juga udah beda, Cal. Tapi, iya. Jujur, aku juga ngerasain itu. Aku sempat hampir stress. Dulu, waktu aku punya banyak masalah, cerita sama kamu, diskusi sama kamu bisa bikin semuanya selesai. Dan bikin aku bahagia.

Dua tahun belakangan aku akui komunikasi kita jelek banget. Kamu mulai kuliah master, aku mulai kerja. Kamu sibuk, aku sibuk. Aku pergi keliling-keliling yang nggak setiap tempat ada akses internet. Dulu ketika aku pulang, ada kamu yang selalu siap nyambut. Dua tahun belakangan, nggak.

Aku ingin menangis. Jujur bukan obrolan seperti ini yang aku harapkan. “Aku juga punya mimpi yang harus aku kejar, Ta. Dan jangan kamu pikir cuma kamu disini yang rasain susah. Kamu kira hidupku gampang dua tahun belakangan?

Aku nggak mau bahas masalah long distance lagi karena toh sudah pernah kita bahas dan sekarang aku sudah pulang.

Tapi tahu nggak, Ta? Sekarang aku sudah bisa terbang juga. Aku memang sudah pulang, tapi aku nggak janji akan bisa lama berdiam.

Yang aku takutkan cuma satu. Jalur terbang kita beda, dan apa yang kita sebut ‘pulang’ juga akan berbeda. Menurut kamu, ‘pulang’ itu apa?”

“Pulang. Kembali ke rumah, Cal.” Asta terlihat yakin.

“Menurut kamu rumah itu apa?”

“Rumah itu tempat dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Tempat dimana kamu bisa bahagia tanpa ada batas yang bisa kamu ukur.”

“Dimana?”

“Ayolah, Cal. Berhenti ragu. Kamu tahu jawabanku selalu sama. Bukan dimana, tapi siapa. Buatku, pulang, rumah, itu kamu.”

“Kamu selalu jalan, Ta. Gimana caramu pulang ke rumah? Aku selalu ingat bahwa kamu pernah bilang bahwa kamu bukanlah mereka yang terkungkung teralis besi, susunan beton, atau anyaman bambu. Buatku, rumah adalah yang bisa melindungi. Yang bisa memagari. Yang bisa kusebut dengan zona nyaman.”

Barriernya dilebarin dikit boleh, nggak, Cal?”

“Maksud kamu?”

Barriermu terlalu sempit. Sama aku, ayo kita lebarin barriernya jadi tepian dunia. Zona nyaman itu cuma sugesti. Percaya, deh, sama aku.

Perjalanan, petualangan kita lima tahun ini terlalu berharga buat ditukar dengan kata menyerah.”

Aku menatap Asta tanpa ekspresi. “Aku nggak ngerti.”

“Apa yang udah kamu dapat setelah pergi dari rumah?”

“Tenyata pergi dari rumah membuatku paham arti rindu yang berkepanjangan.”

Asta tersenyum.

“Sakit, Ta. Nggak menyenangkan.”

“Rindu itu menyebalkan sekaligus membahagiakan. Rindu membuat kita sadar siapa yang benar-benar berarti siapa yang tidak.”

“Tapi kamu selalu pergi.”

“Pergi untuk pulang, Cal. Lagian nanti kalau aku pergi kamu bisa ikut.”

“Mana bisa...”

“Bisa, kalau kamu mau jadi rumahku. Tempatku pulang. Tempatku berbagi segalanya. Sedih, senang, bahkan kulit ayam KFC.”

“Katanya selama ini aku rumahmu? Selama ini juga kita sharing macem-macem, kok.”

“Berhenti pacaran, yuk?”

Aku menoleh kaget.

“Besok aku ke rumahmu lagi, ya. Mau ngomong sama ayah bunda.”

“Ta...”

“Terus ntar biar papah mamah ketemu ayah bunda.”

“Ta...”

“Terus biar bisa cepat diurus. Kata orang ribet, ruwet, tapi bikin bahagia, sih. Ntar aku mau designnya warna silver, kamu mau tambah warna apa? Ungu? Jangan. Gimana kalo...”

“Ta...!”

Akhirnya Asta menoleh. “Kok nangis, sih?”

“Aku udah nemuin rumah...”

“Iya, lah. Itu juga aku udah tahu. Jalan Manggis no. 37, kan? Kelamaan di Jerman, sampe lupa alamat sendiri?”

“ASTAAAAAAAA”

“Apa, sayang?”

Aku tertawa dan menghapus seluruh air mata yang keluar. Menghujani Asta dengan cubitan bertubi-tubi dan membuat seluruh pengunjung warung tenda pecel lele itu menoleh. Aku tidak peduli. Aku sudah bertekad untuk berhenti meragukan hal yang bahkan tidak perlu diragukan.

Aku bahagia.

Aku pulang pada rumah yang membahagiakan.