atha's scrapbook: Fiction Stories
Showing posts with label Fiction Stories. Show all posts
Showing posts with label Fiction Stories. Show all posts

November 10, 2015

Rumah

Tuesday, November 10, 2015 2
Rumah
Kalau bagimu bahagia adalah terus berpindah, bagiku bahagia adalah menghirup satu meter kubik udara yang sama denganmu. Mengeksresi karbon dioksida dalam dimensi ruang yang sama, berbagi lelucon yang sama sekali tidak lucu, dan berbagi kehangatan kenangan yang sama.

Aku telah memutari bumi belasan ribu kilometer. Namun tidak ada yang terasa senyaman rumah. Tidak ketika tidak ada bayanganmu yang jatuh tepat pada bintik kuning di retina mataku, menimbulkan impuls yang membuat seluruh sel sarafku menari bahagia.

Kamu sama saja seperti waktu. Tidak akan pernah statis.

Berkata ‘ya’ pada pertanyaanmu beberapa tahun lalu sama saja menyetujui segala konsekuensi yang tersembunyi dalam setiap kalimat yang kau lontarkan.

“Aku bukan hidup dalam kurungan, entah teralis besi, susunan beton, atau anyaman bambu. Aku hidup bergesekan dengan ranting pohon, aliran sungai, sengatan matahari, dan tamparan dingin angin malam. Bersinggungan dengan warna kulit warna-warni, kota-kota gelap tak berlentera, dan milyaran kata-kata asing yang bahkan tak kupahami.”

Tidak. Aku sama sekali tidak lupa. Bagaimana caraku untuk bisa melupakan semua hal yang telah mengubah kelabu menjadi merah jambu?

***
Frankfurt am Main, dua bulan sebelumnya, pukul 2 pagi waktu setempat.
Aku sedang menekuni berlembar-lembar halaman jurnal tentang sejarah Uni Eropa berbahasa Jerman. Kepalaku sakit. Sudah 6 jam sejak aku membaca kalimat pertama pada jurnal yang pertama. Namun hingga saat ini aku masih belum bisa paham. Tujuh jurnal dengan segala kerumitannya itu aku tinggalkan begitu saja. Aku ingin tidur. Tidak peduli jika besok ada ujian akhir mata kuliah sejarah kebudayaan Uni Eropa.
Oh sial.
Maksudku hari ini.
Tepat tujuh jam lagi.

Aku rasa tidur selama lima jam sudah sangat lebih dari cukup.

Aku baru akan memejamkan mata saat tiba-tiba telepon genggamku berdering nyaring satu kali. Tanda ada sebuah surel yang masuk.

Semoga kabar dari yang ditunggu-tunggu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Calya Akayasa,
kemarin sial sekali. Aku lagi ambil gambar Manhattan skyline dari Brooklyn Bridge sambil pegang hape. Ceroboh, ya? Pasti kamu tahu kelanjutannya. Sekarang hapenya sudah berenang bareng ikan di East River.
Maaf buat semua messages di Line/sms/Whatsapp yang belum sempat kubalas. Maaf, buat semua kekhawatiran yang kemarin-kemarin.
Hari ini ujian akhir sejarah kebudayaan Uni Eropa, ya? Wah, aku tahu kamu pasti bisa. Kamu sudah hafal ratusan nama raja ratu yang mirip-mirip itu dari SMA, kan? Thesis nya gimana? Kapan sidang?
Sleep tight, and good luck for tomorrow. Saling mendoakan terus, ya. Jaga diri baik-baik, Cal.
You know I love you,
Alastair Haider
p.s. see you really really soon, Schatzi!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ternyata surel singkat itu mampu membuatku menangis ditengah kantuk yang tak tadinya tak bisa ditahan. Berbagai perasaan melebur menjadi satu. Lega, jengkel, dan rindu yang tidak tahu dimana ujungnya. Merasakan lelah dan khawatir secara bersamaan bukan merupakan perasaan yang menyenangkan.

Kubalas surel Asta lambat-lambat sembari menahan buliran bening air mata yang tidak mau berhenti.

Asta, tenyata pergi dari rumah membuatku paham arti rindu yang berkepanjangan...

***
Jogjakarta, lima tahun lalu.
“Jadi... mau nggak Cal?”

Aku masih terdiam dan terengah-engah sembari memandangi ujung-ujung sepatuku yang tergeletak di atas paving block jogging track lapangan GSP. Ya, aku kehabisan napas setelah berlari sore mengitari GSP tiga kali.

Dan setelah ditembak Asta.

Aku mengatur napas satu persatu. Melihat Asta yang menatapku penuh harap.

“Harus banget ya, nanyanya pas aku lagi keringetan dan ngos-ngosan?”

“Calya...” Asta menahan gemas.

“Boleh, deh.”

“BOLEH, DEH? Cal, aku bukan lagi ngajak makan malam...” Asta menghela napas berat.

“Kamu maunya aku jawab pakai kalimat kayak apa? Iya, Asta. Aku mau jadi pacar kamu. Gitu?” Aku tersenyum jahil penuh kemenangan.

Akhirnya Asta tertawa lepas dan mengacak-acak rambutku yang penuh peluh. Lima detik kemudian ia mengeluh menyesal melakukan itu. Sekarang telapak tangannya lengket dan berbau tidak enak.

“Cal, obrolan kita nggak akan pernah garing, kan?”

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab yakin. “Nggak, lah. Kita punya pengetahuan dalam bidang berbeda. Kamu open-minded. Kamu teman diskusi paling seru yang pernah aku kenal, Ta. Jangan berubah, ya. Tetap ajarin aku soal kamera, gunung, atau mineral. Aku janji nggak akan bosan.”

“Iya, asal kamu juga nggak bosan-bosan kasih tahu aku soal dunia. Tentang sejarah peradaban manusia, politik, dan budayanya. Tentang mimpi-mimpi besarmu. Tentang hal yang paling kamu benci dalam satu hari. Tentang apa yang kamu pikir perlu kamu bagi.”

Aku tersenyum dan memandang Asta sayang. Lalu tiba-tiba tertawa saat aku mulai merasakan mataku memanas dan mengeluarkan air mata. Beberapa detik kemudian aku menjawab ada keringat yang masuk mata saat Asta bertanya kenapa.

Ya Tuhan, aku bahagia.
***
Jogjakarta, hari ini.

Hari ini hari pertamaku menjejakkan kaki lagi di Jogjakarta setelah kurang lebih dua tahun aku tinggal di Jerman menyelesaikan program beasiswa master. Hari ini harusnya Asta yang menjemput di bandara. Harusnya.

Tapi beberapa hari belakangan Asta sulit dihubungi. Meninggalkan kembali jejak-jejak kekhawatiran yang dua tahun belakangan selalu menghantuiku. Dua tahun yang naik turun seperti roller coaster. Dua tahun yang sempat membuatku ragu. Dua tahun yang ternyata lama sekali.

Selama dua tahun belakangan aku merasa jarak antara aku dan Asta bukan hanya Jerman-Indonesia. Lebih dari itu. Oke, aku tahu Asta sering keliling dari satu negara ke negara lain karena hobi dan pekerjaannya. Bukan, bukan jarak harfiah seperti itu. Tetapi jarak antar perasaan. Jarak yang akan terus mengecil dan semakin mengabur saat kau dan seseorang sudah memiliki koneksi rasa bahagia yang sulit diartikan. Aku menyebutnya jarak batin.

Sekarang aku merasa jarak batin antara aku dan Asta memuai, dan aku rasa aku perlu sedih juga khawatir.

Karena sesungguhnya jarak batin jauh lebih menyakitkan dibanding jarak geografis.

Namun aku bukan perempuan cengeng. Aku tahu aku bisa menjaga diri, begitu juga Asta.
***

Di hari ketiga Asta baru bisa dihubungi. Malam ini ia berjanji akan menjemput dan mengajak makan malam. Nostalgia, katanya. Hatiku berdebar. Aku akan bertemu Asta setelah dua tahun yang telah berhasil kami selesaikan.

Dan disanalah ia. Berdiri di depan pagar dengan hoodie biru dongker hadiah ulang tahun dariku tiga tahun lalu. Ia tersenyum. Namun aku merasa asing.

Dengan kikuk aku menghambur ke pelukannya.

“Halo lagi, Ta.”

Welcome home, Calya.” Asta mengecup puncak kepalaku. Aku merasa asing.

Asta melepaskan pelukannya saat sadar aku hanya terdiam satu menit berikutnya.

“Kamu nggak  apa-apa?”

Aku menggeleng pelan. “Yuk, keburu malam.”

Sepanjang perjalanan menembus angin malam Jogjakarta, aku hanya terdiam di atas jok motor. Asta terasa berbeda. Ia mengenakan parfum yang beda, punggung yang lebih lebar, model rambut, serta intonasi suara yang berbeda.

Mungkin Asta juga merasakan perbedaanku. Dibuktikan dengan tidak adanya perdebatan seru mengenai harga minyak atau penyetaraan kesehatan di atas jok motor seperti biasanya. Malam ini hanya hembusan angin dan deru knalpot yang terdengar.

Dua tahun bisa berarti banyak, ya, Ta.

Setelah memesan makanan, kami kembali terdiam. Sampai Asta bertanya basa-basi. Aku benci basa-basi.

“Ta, kita kenapa, ya?”

“Kenapa gimana?” Raut wajah Asta berubah bingung. Namun aku yakin sebenarnya ia mengerti.

“Beda. Apa karena udah nggak ketemu selama dua tahun? Atau semakin kesini kita semakin yakin kalau passion kita beda?”

Asta tertawa hambar. “Dari dulu passion kita juga udah beda, Cal. Tapi, iya. Jujur, aku juga ngerasain itu. Aku sempat hampir stress. Dulu, waktu aku punya banyak masalah, cerita sama kamu, diskusi sama kamu bisa bikin semuanya selesai. Dan bikin aku bahagia.

Dua tahun belakangan aku akui komunikasi kita jelek banget. Kamu mulai kuliah master, aku mulai kerja. Kamu sibuk, aku sibuk. Aku pergi keliling-keliling yang nggak setiap tempat ada akses internet. Dulu ketika aku pulang, ada kamu yang selalu siap nyambut. Dua tahun belakangan, nggak.

Aku ingin menangis. Jujur bukan obrolan seperti ini yang aku harapkan. “Aku juga punya mimpi yang harus aku kejar, Ta. Dan jangan kamu pikir cuma kamu disini yang rasain susah. Kamu kira hidupku gampang dua tahun belakangan?

Aku nggak mau bahas masalah long distance lagi karena toh sudah pernah kita bahas dan sekarang aku sudah pulang.

Tapi tahu nggak, Ta? Sekarang aku sudah bisa terbang juga. Aku memang sudah pulang, tapi aku nggak janji akan bisa lama berdiam.

Yang aku takutkan cuma satu. Jalur terbang kita beda, dan apa yang kita sebut ‘pulang’ juga akan berbeda. Menurut kamu, ‘pulang’ itu apa?”

“Pulang. Kembali ke rumah, Cal.” Asta terlihat yakin.

“Menurut kamu rumah itu apa?”

“Rumah itu tempat dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Tempat dimana kamu bisa bahagia tanpa ada batas yang bisa kamu ukur.”

“Dimana?”

“Ayolah, Cal. Berhenti ragu. Kamu tahu jawabanku selalu sama. Bukan dimana, tapi siapa. Buatku, pulang, rumah, itu kamu.”

“Kamu selalu jalan, Ta. Gimana caramu pulang ke rumah? Aku selalu ingat bahwa kamu pernah bilang bahwa kamu bukanlah mereka yang terkungkung teralis besi, susunan beton, atau anyaman bambu. Buatku, rumah adalah yang bisa melindungi. Yang bisa memagari. Yang bisa kusebut dengan zona nyaman.”

Barriernya dilebarin dikit boleh, nggak, Cal?”

“Maksud kamu?”

Barriermu terlalu sempit. Sama aku, ayo kita lebarin barriernya jadi tepian dunia. Zona nyaman itu cuma sugesti. Percaya, deh, sama aku.

Perjalanan, petualangan kita lima tahun ini terlalu berharga buat ditukar dengan kata menyerah.”

Aku menatap Asta tanpa ekspresi. “Aku nggak ngerti.”

“Apa yang udah kamu dapat setelah pergi dari rumah?”

“Tenyata pergi dari rumah membuatku paham arti rindu yang berkepanjangan.”

Asta tersenyum.

“Sakit, Ta. Nggak menyenangkan.”

“Rindu itu menyebalkan sekaligus membahagiakan. Rindu membuat kita sadar siapa yang benar-benar berarti siapa yang tidak.”

“Tapi kamu selalu pergi.”

“Pergi untuk pulang, Cal. Lagian nanti kalau aku pergi kamu bisa ikut.”

“Mana bisa...”

“Bisa, kalau kamu mau jadi rumahku. Tempatku pulang. Tempatku berbagi segalanya. Sedih, senang, bahkan kulit ayam KFC.”

“Katanya selama ini aku rumahmu? Selama ini juga kita sharing macem-macem, kok.”

“Berhenti pacaran, yuk?”

Aku menoleh kaget.

“Besok aku ke rumahmu lagi, ya. Mau ngomong sama ayah bunda.”

“Ta...”

“Terus ntar biar papah mamah ketemu ayah bunda.”

“Ta...”

“Terus biar bisa cepat diurus. Kata orang ribet, ruwet, tapi bikin bahagia, sih. Ntar aku mau designnya warna silver, kamu mau tambah warna apa? Ungu? Jangan. Gimana kalo...”

“Ta...!”

Akhirnya Asta menoleh. “Kok nangis, sih?”

“Aku udah nemuin rumah...”

“Iya, lah. Itu juga aku udah tahu. Jalan Manggis no. 37, kan? Kelamaan di Jerman, sampe lupa alamat sendiri?”

“ASTAAAAAAAA”

“Apa, sayang?”

Aku tertawa dan menghapus seluruh air mata yang keluar. Menghujani Asta dengan cubitan bertubi-tubi dan membuat seluruh pengunjung warung tenda pecel lele itu menoleh. Aku tidak peduli. Aku sudah bertekad untuk berhenti meragukan hal yang bahkan tidak perlu diragukan.

Aku bahagia.

Aku pulang pada rumah yang membahagiakan.

October 27, 2014

Our Own Constellations

Monday, October 27, 2014 0
Our Own Constellations

Sometimes, you gotta say it. Things are gonna be wasted if they are left unspoken.

***

Kaira membanting penanya ke tanah lalu sedetik kemudian menyesalinya. Ia memungut benda biru berkilauan itu, menyebabkan tangannya menyentuh permukaan paving block yang dingin.

Sudah mau November lagi, batinnya.

Kaira tidak pernah suka dingin di bulan November. Walaupun tidak sedingin Desember, angin bulan November selalu saja menjadi yang paling dingin. Tidak menentu datangnya.

Berhari-hari Kaira berharap inspirasi untuknya menulis akan datang. Berhari-hari juga tidur malamnya tidak nyenyak. Konstelasi bintang diatas sana mungkin tahu penyebabnya. Salah satu dari 88 diantaranya harus tahu jawabannya.

Wahai archer yang sebentar lagi tiba, salam hangatku menyambut kedatangan dinginmu selalu.

***
Mungkin ia titisan Cleopatra.

Atau dewi Athena.

Cantik, pintar, dan kuat. Rambutnya coklat pekat hampir hitam. Hidungnya mancung dan garis rahangnya tegas. Menandakan seseorang dengan prinsip hidup yang kuat.

Zeus memandangi kata-kata yang barusan diketiknya. Sound gay, but whatever. I like it.

Andai ia punya petir, ia bersumpah akan menghanguskan Castor dan Pollux -si kembar yang membuat dunianya sekarang jungkir balik- detik itu juga.

***
Malam itu sama saja seperti malam-malam sebelumnya. Kaira berguling-guling di atas kasur, merutuki matanya yang tak kunjung menutup. Iseng, ia membuka WhatsApp.

Last seen today at 22.54

Dua detik kemudian,

Online

Shit.

Mata Kaira semakin tidak mau memejam. Dengan telaten dilihatnya terus kata Online itu. Kapan akan berubah menjadi typing... ? Mungkin Kaira sudah terlalu lelah untuk sekadar sadar. Kaira menyerah. Menutup WhatsApp dan matanya pada pukul 23.25. Mungkin sang archer belum mau datang. Atau tidak akan pernah datang?

***
Malam itu Zeus sadar Castor dan Pollux sedang bersinar. Walau mungkin ia telat empat bulan, Zeus yakin sinar milik si kembar itu akan tetap ada hingga sang archernya tiba.

Semoga saja.

***
Kaira tersenyum-senyum sendiri. Archernya tiba! Archernya tiba! Padahal belum waktunya ia muncul. Mungkin bukan archer...

“Kenapa harus ‘Kaira’? Apa ada hubungannya sama Kairo?”

“Haha ternyata emang cuma se-cetek itu, ya. Kairo jadi Kaira.”

“Aku serius, Kai.”

Tidak ada yang pernah memanggilnya Kai...

“Aku juga serius, Zeus. I was born in that exotic city.” Kaira tersenyum menang.

“Wow.”

“I know right? Haha.”

“Eh, tadi mau bilang apa Kai?” Tiba-tiba air muka Zeus berubah menjadi serius. Dan Kaira tidak pernah suka saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana perasaan akan selalu menang melawan logika. Saat dimana ia tidak bisa mengendalikan seluruh hormon yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Saat ia tidak bisa mengontrol detak kardionya.

I love you, the king of the Olympus. I wish I could stop. I really wish I could...

“Ai.. ngga papa, Zeus. Ngga jadi.” Buru-buru Kaira membereskan perlengkapan tulis menulisnya dan berlalu pergi.

Zeus memandangi punggung Cleopatra-nya menjauh dan hilang.

If only you knew, Princess...

***
“Mehrunnisa Kaira!”

Refleks, Kaira menoleh. Zeus. Her –wished to be- archer.

“Apa?”

“Kalo aku panggil, bales panggil juga, gih.”

Mau tak mau, Kaira tersenyum. “Halo, Zeus.”

“Padahal tadi aku panggil kamu pake nama lengkap...”

Kayak anak kecil aja, sih. Ada apa?”

Zeus nyengir. “Ajarin aku Hukum Keppler, dong.  Aku nggak mudeng.”

Nggak salah, nih? Anak olimpiade fisika minta ajarin  anak yang kalo ulangan langganan djisamsoe?”

“Terlalu litotes kamu, Kai.” Zeus mencibir. “Aku maunya kamu yang ajarin.”

“Katanya kamu suka astronomi? Masa Hukum Keppler aja nggak mudeng?”

“Ada yang salah, soalnya Kai.”

Kaira mengernyitkan dahi. Bingung. “Salah? Apa yang salah?”

The constellations. Us, Kai.” Lalu tiba-tiba ngeloyor pergi.

Kaira semakin tidak paham tentang permainan Zeus.

Damn you, pretty little loser.

***
Zeus mengutuki dirinya berkali-kali. Sumpah, ia merasa sangat kesal. Sangat bodoh.

Brengsek.

Shit.

Gue bukan cewe, bego! Ngapain sok kode ke Kaira?!

Tai.

Tell me how to tell you why and how, Princess...

***
If only I had someone. Like Castor had Pollux, and vice versa.
If only I had the guts to tell.
If only I were not made of dust in dusk and dawn.
If only I were any other pretty girl.
If.
Only.

Kaira menghela napas perlahan-lahan. Dadanya semakin lama semakin sakit. Pneumotoraks tidak boleh membuatnya berhenti.

Kaira segera meraih pena biru kesayangannya dan mulai menulis diatas bangku taman dekat paving block yang semakin lama semakin mendingin.

Ia harus selesai sebelum November tiba.

***
Dear,
The king of the Olympus,
My favorite constellation,
The one I chose over the other 88,
My best of laughs and tears,
                
Halo :)
                Last week I just got this information, Zeus.
                I think God loves me too much, hehe.
                
I just figured out that I had a special buddy inside my pulmo. We can call him Pneumotoraks, Zeus. What an unique name, right?
                
He made me hard to breathe but it’s okay as long as he’s just doing his job. God sent him to me to make me stronger, King. Talking about strength, I always know you knew better!
                
Kamu secara nggak langsung ngajarin aku jadi kuat. Secara nggak langsung memicu aku buat jadi yang lebih baik dari hari ini.

Kamu selalu bikin aku sadar kalo ternyata perfect  itu bahkan relatif. Semua yang ada di antara kamu dan aku relatif. Satu-satunya hal yang nggak relatif ya kerelatifan itu sendiri.
                
Gimana? Aku sudah cocok jadi anak olimpiade astronomi, belum?
                
Zeus, aku nggak pernah paham sama permainan kamu. Semuanya terlalu mengulur waktu dan aku bahkan baru sadar kalo aku nggak punya banyak lagi.
                
Jangan marah ya setelah terima surat ini.
Terima kasih, ya :)
Last but not least, I just really want you to know that
You are always be my favorite constellation, Zeus.
Sincerely yours,
Castor&Pollux’s twin sister.

***
Zeus tidak peduli dengan teriakan ‘dilarang berlari’ suster-suster sepanjang koridor rumah sakit. Langkah kakinya ia usahakan besar-besar agar cepat sampai. Butuh waktu sepuluh menit bagi Zeus untuk mencerna kata demi kata kiasan yang digunakan Kaira.

Dasar penulis.

Pemandangan pertama yang dilihat Zeus saat masuk kamar Kaira adalah orang-orang yang mengerubungi tempat tidur.

“Permisi...”

Kerumunan itu menyebar.

Pemandangan kedua yang dilihat Zeus adalah Cleopatranya yang dililit berbagai selang. Hidung indahnya tertutup kap oksigen. Mata mereka bertemu. Dan Zeus berani bersumpah bahwa Kaira terlihat senang.

***
Archerku! The brightest constellation in my sky.

Dia datang. Kaira tersenyum senang.

“Masuk, Zeus.”

Setelah meminta semua orang untuk meninggalkan mereka berdua, Kaira membuka kap oksigennya.

“Jangan, Kai. Pake aja.”

“Sebentar doang.” Kaira mencoba duduk.

Pake, Kai. Atau aku pulang.”

Akhirnya Kaira menurut. Ia memasang kembali kap oksigennya dan dengan tanpa suara ia mengucapkan ‘halo’.

Zeus mengusap puncak kepala Kaira dan tersenyum. “Halo juga, Kai. Aku kesini mau bilang kalo whatever you mean in that letter, I feel that too.

Kaira menangis dalam diam.

“Jangan nangis...”

“Mochosei, Zu.”

Zeus mengangguk.

Cepat sembuh, the most beautiful queen in history...

***
Pada akhirnya Zeus tetap menyesal.

Kaira pergi beberapa jam setelah Zeus berkata ‘see you soon, sunshine’.

Kenapa?

Kenapa menyesal?

Zeus bahkan belum sempat berkata

***
Zeus menuliskan surat balasan. Entah bagaimana cara menyampaikannya.

Dear,

My very own Cleopatra,

My favorite hello and my hardest goodbye,

I love you.

I love you.

Zeus loves you.

Zeus loves you.

Sleep well, sweetheart.

Sleep tight, my Athena.

I love you.
Forever yours,
Your archer.

April 14, 2014

Kicked, One Hundred and Eighty Degrees

Monday, April 14, 2014 0
Kicked, One Hundred and Eighty Degrees
illustrated picture. found on Google images.

12 April 2014, 23.00WIB

Andera Kalista membisu di hadapan layar laptopnya. Pikiran serta imajinasinya menyembur ke segala arah hingga membuatnya bingung. Garis batas antara khayalan serta kenyataan semakin lama semakin memudar. Malam semakin giat menghembuskan udara beku, membuat Andera tersadar dan segera menutup jendela kamarnya. Ia menyentak jendela dengan kasar, sebal karena tak kunjung mendapat ide. Andera tahu sekarang sudah pukul sebelas malam dan ia harus segera mengirimkan draft cerpen ke editornya sebelum pukul dua belas.

Satu jam lagi.

Apa yang bisa ditulis dalam waktu satu jam?

Seketika Andera membeku. Mungkin kali ini ia terpaksa harus menulis sedikit cerita tentang masa lalunya. Ia sudah tidak peduli. 10 tahun menjadi penulis tentu tidak akan membuat orang-orang berpikir bahwa itu adalah kisah nyata.

Kesepuluh jari-jari Andera perlahan mulai menari-nari dengan cepat di atas keyboard.

***

12 Mei 2014, 19.00WIB

Andera berkali-kali mengutuki dirinya. Perkiraannya salah, salah besar. Lima menit yang lalu ia menerima email dari seseorang yang mengaku teman lamanya.

Tenang, Andera. Mungkin ia hanya wartawan, batin Andera.

Sial, wartawan mana yang tahu kalau ia pernah kejatuhan kotoran burung semasa SMA?

Sial.

Sial.
***

12 April 2014, 24.00WIB

Andera melihat sekali lagi draft itu sebelum dikirimkan ke editornya. Lumayan, batinnya.

Teruntuk wanita yang hati dan perasaannya selalu menang. Percayalah terkadang kau harus menuruti apa yang dikatakan logikamu. Kutulis cerpen ini dalam waktu satu jam ketika aku tidak tahu harus membela yang mana, nyataku atau imajinasiku. Garis batas antara keduanya sudah semakin mengabur.

Diamku dan Diammu
Semua yang kamu lakukan abstrak. Terkadang bisa membuatku merah jambu, namun tak jarang kelabu. Memahamimu jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan sebelumnya. Mengerti jalan pikirmu yang entah ada berapa cabang. Tahukah kamu aku memperhatikanmu lebih dari yang bisa kau tahu?

Caramu berjalan dan mengenakan mantel. Caramu tertawa dan tersenyum. Caramu memandang ketika tertarik terhadap sesuatu. Dan luapan emosi semangat saat kau bercerita dengan mata penuh binar.

Aku rasa aku mulai bisa  memahamimu.

Namun ternyata aku salah.

Kau jauh lebih rumit daripada trigonometri.
*

Angin bertiup kencang, memaksa beberapa helai daun untuk melepaskan diri dari tempatnya bergantung. Aku melangkah pelan, mencoba merasakan angin yang menari-nari diatas pakaianku. Angin yang sama dengan yang menggugurkan daun. Beberapa burung merpati menoleh bingung saat dedaunan disekitar tempat mereka berpijak mulai berguguran. Gemerisik semak dan gesekan botol plastik pada aspal yang kering masih kalah berisik dibandingkan dengan perkelahian antara otak dan hatiku. Selalu saja begitu. Entah apa yang melapisi hati perempuan, hingga tak mau lagi mengenal kata logika.

Aku memilih satu diantara puluhan kursi itu untuk duduk dan sekedar merapikan rambutku. Sudah sepuluh menit novel yang baru saja kubeli aku biarkan terbuka. Kalimat pertama novel itu membuatku terlalu sibuk berpikir.

Aku dan kamu adalah pantulan cahaya di kaca. Ada, namun tak nyata.

Dua anak perempuan berlari-lari kecil sambil berteriak sebentar lagi akan hujan. Namun aku tetap bergeming. Apa yang selama ini kupertahankan, ternyata balik menghujamku. Seluruh tubuhku bergetar menahan tangis. Ketika tetes air hujan mengenai halaman pertama novel dipangkuanku, akhirnya aku membiarkan pertahanan diriku runtuh. Kubiarkan tetes-tetes bening itu meluncur turun melewati pipi, dan ikut membasahi halaman novel bersama air hujan.
*

Namanya Milo, seperti nama susu cokelat hangat kesukaanku. Jujur, dia biasa saja. Dia bermain bola seperti anak laki-laki kebanyakan. Mengerjakan tugas dengan seenaknya juga seperti anak laki-laki kebanyakan. 
Selalu pinjam alat tulis, lupa membawa pr, dan segala hal biasa lainnya.

Segalanya terlihat biasa saja,
Sampai ketika aku tidak sengaja menemukannya menangis di balik rak buku di sudut paling belakang perpustakaan sekolah.

Kala itu, ia terlihat sangat rapuh.

Aku tidak berani mendekatinya. Terlalu takut untuk ikut campur. Setahuku, jika laki-laki sudah menangis, tentu masalahnya sudah tidak bisa dianggap sepele. Namun aku tidak tahu lagi, aku bukan salah satu diantara mereka.

Jadi, disinilah aku. Berdiri mematung dengan jarak sepuluh jengkal dari tempatnya terduduk dan sesenggukan. Tentu saja aku bersembunyi. Aku tidak ingin ketahuan stalking.

Waktu itu aku hanya seratus persen penasaran.

Tiba-tiba Milo bangkit. Matanya terlihat merah sekali.

Entah benar atau hanya perasaanku saja, namun matanya berkilat marah menatap ke arahku. Mau tidak mau aku keluar dari rak-rak buku itu. Sudah ketahuan.

“Lisa, jangan bilang siapa-siapa.” Ia mendesis serta memalingkan muka. Mencoba menyembunyikan kedua matanya yang masih merah. Tanpa diminta aku juga tidak punya rencana memberi tahu yang lain. Toh aku tidak mengenalnya. Aku hanya menatap seadanya kemudian berbalik. Saat aku hendak melangkah, ia memanggilku.

“Lisa...”

Aku menoleh, sebisa mungkin mengatur mimik wajahku agar menampilkan tanda tanya yang besar.

“Aku mau cerita.” Sambungnya pelan.

Aku mematung selama beberapa detik. Cowok? Curhat? Aku baru mengenalnya sejak tahun ajaran baru dimulai tiga bulan yang lalu. Dan cowok ini bilang mau cerita? Sama aku?

Milo menepuk-nepuk lantai marmer disebelahnya. Aku menurut saja. Tepat ketika aku duduk dengan sempurna di sebelahnya, kata demi kata mengalir lambat dari bibirnya.

“Orang tuaku mau cerai. Aku baru tahu tadi malam. Tadi malam aku kebelet pipis tengah malam dan mendengar mereka bertengkar. Mereka bertengkar nggak kayak di sinetron-sinetron, Sa. Mereka diskusi, tapi aku bisa bedain mana diskusi biasa mana yang nggak.”

Aku terkesiap, bingung harus berkata apa kemudian berkali-kali memarahi diriku sendiri di dalam hati begitu sadar kalimat apa yang aku gunakan sebagai tanggapan. “Memang apa bedanya diskusi biasa sama yang nggak?”

Terdengar Milo menghela napas panjang. Mungkin ia mengira aku menganggap ini semua lucu. Namun ekspresinya berubah seketika melihat wajahku yang  innocent. Sungguh, ketika itu aku tidak tahu harus bilang apa.

Mulai hari itu aku mengenal siapa Milo sebenarnya. Entah bagaimana caranya, namun aku dan Milo semakin dekat saja. Tidak, kami tidak pacaran. Namun aku senang sekali menemukan teman ngobrol yang seru. Yang sama-sama menyukai Ritter Sport, cokelat asal negara Adolf Hitler itu. Aku dengan varian Praline dan dia dengan yang Cornflakes.

Kami selalu ada untuk sama lain. Bagaimana ketika aku jadi mak comblang ketika ia naksir dengan temanku, atau ketika ia yang selalu ada ketika aku harus putus dengan pacarku. Segalanya nampak menyenangkan sekali sampai suatu ketika Milo menghilang di tahun akhir masa SMA kami.
Rumahnya sepi, tersegel rapat. Orang-orang bagian tata usaha sekolah juga enggan menyebutkan kemana Milo. Hapenya tidak pernah aktif.

Dan seminggu kemudian pak pos datang ke rumahku membawa surat beramplop cokelat kumal.

Dari Milo.

Dia bilang perceraian kedua orang tuanya berdampak sangat besar untuknya. Ia yang semula menetap di kota ini dengan Ibunya mendadak harus pindah tinggal dengan ayahnya.
Ibunya mau menikah lagi.
Astaga Milo..
*

Aku kehilangan Milo. Sahabat sehangat susu cokelat yang panas. Setiap dua minggu sekali ia mengirimiku surat tanpa alamat sehingga aku tidak bisa membalasnya dan tidak ada ide dimana dia berada. Dalam surat-suratnya ia dengan lancar menuliskan bagaimana tidak enaknya merindukanku. Bukan tipikal Milo yang kukenal.

Sampai surat ke delapan belas yang membuatku hampir kena serangan jantung. Surat itu tidak panjang. Hanya beberapa baris pembuka seperti surat kebanyakan lalu dilanjutkan dengan lirik lagu. Ya, lirik lagu. Sejak kapan Milo berubah menjadi romantis begini?

Untukmu Lisa, whos sometimes being replaced by my un-warm six string riding in the seat.

Brantley Gilbert More Than Miles

Maybe I should take take picture off the dashboard
Before memory hits the brakes and takes the wheel
Yeah I bet she
s still crying on that front porch
Yeah this time it
s going to take some time to heal

Cause Im on my way to Tennessee
Singing Georgia on my mind
Chasing what they say
s a dream
Thinking maybe it ain
t mine
Cause that girl
s in every song I sing
She
s in every song I write
That six string riding in the seat won
t keep me warm tonight

God what am I supposed to do here?
Cause there
s still more than miles in my rearview
Yeah Ive been changing lanes without my mirrors
Cause every time I look behind me I see her
I think I just realized how much I need her

So Im turning back for Georgia
Stopping short of Tennessee
I cant put my dreams before her man I need her here with me
Cause that girl
s in every song I sing
She
s in every song I write
That six string riding in the seat can sleep in the back tonight

Dan surat berikutnya merupakan surat terakhir Milo, juga dengan lirik lagu yang membuat moodku naik turun secara drastis hari itu. Bagaimana tidak? Isi surat Milo berbanding terbalik dengan lirik lagu yang ia sertakan.

Lisa, mungkin ini adalah surat terakhirku. Jangan terlalu pikirkan lirik lagu di bawah ini. Dan tolong, jangan pernah menungguku kembali. Karena mungkin aku tidak akan pernah melakukannya.

The Beatles When Im Sixty-four

When I get older losing my hair
Many years from now
Will you still be sending me a valentine
Birthday greetings, bottle of wine?
If I
d been out till quarter to three
Would you lock the door?
Will you still need me, will you still feed me
When I
m sixty-four?

Youll be older too
And if you say the word
I could stay with you

I could be handy, mending a fuse
When your lights have gone
You can knit a sweater by the fireside
Sunday mornings go for a ride
Doing the garden, digging the weeds
Who could ask for more?
Will you still need me, will you still feed me
When I
m sixty-four?

Every summer we can rent a cottage in the Isle of Wight
If it
s not too dear
We shall scrimp and save
Grandchildren on your knee
Vera, Chuck & Dave

Send me a postcard, drop me a line
Stating point of view
Indicate precisely what you mean to say
Yours sincerely, wasting away
Give me your answer, fill in a form
Mine for evermore
Will you still need me, will you still feed me
When I
m sixty-four?

Diam berarti banyak ya, Milo. Para pakar perasaan di luar sana bilang “A guy and a girl can be just friends. But at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.”
And I love you too, Milo. Come home soon...
*

Pada akhirnya toh kamu tidak pernah kembali, seperti surat terakhirmu. Apa saja yang sudah terjadi padamu sejak euforia SMA itu berakhir? Apa kamu masih suka Ritter Sport Cornflakes?  Aku merindukanmu tapi aku tidak bisa, Milo. Aku sudah terlalu lelah untuk sekedar merindukanmu.

***

12 Mei 2014 18.55

Sudah tiga bulan aku tidak pulang. Kehidupan kasar kota metropolitan yang egois ini memaksaku menyisakan waktu lebih banyak untuknya ketimbang untuk Bunda. Belum lagi jika deadline mengejar. Aku harus siaga 24/7 hingga garis-mati itu selesai.

Aku sedang asyik browsing tiket pesawat murah untuk pulang menengok Bunda ketika notifikasi emailku berkedip. Satu pesan masuk.

From:  Muhammad Mikail
Subject: Halo Andera Kalista

Astaga, is this really you? Aku nggak pernah nyangka kalo Arakalis writer terkenal kesukaanku itu kamu sampai aku membaca cerpen terakhirmu yang terbit kira-kira satu bulan yang lalu.

So, apa kabar? Masih suka kejatuhan kotoran burung semasa SMA? Atau masih belum bisa move on dari Gatra? Kamu nangis lama sekali waktu itu. Nostalgia kadang menyesakkan, ya. But still Andera, Will you still need me, will you still feed me When I’m sixty-four?

Maaf sudah pergi lebih dari satu dekade. Tapi masih maukah kamu jadi partner in crime ku? Jadi orang yang paling dekat denganku, yang lebih dari sekedar teman masa remaja.

Aku memandangi pesan itu dengan tidak percaya. Seenaknya saja Mika –oke, nama aslinya Mika bukan Milo- memperlakukanku begitu. Seenaknya menyuruhku berhenti menunggu dan kini dia memintaku kembali. Dia kira aku apa.

Sejak lulus SMA tidak pernah ada nama Mika lagi. Aku menyelesaikan SMA dengan nilai yang cukup memuaskan. Kuliah di jurusan Komunikasi dan selesai dalam waktu tiga tahun. Di tahun yang sama dengan tahun kelulusanku, aku mendapat kesempatan mengikuti Festival Jurnalistik di München, Jerman dan bertemu dengan seseorang yang menjadi temanku menyelesaikan kehidupan fana ini.

Aku membalas pesan itu dengan satu tangan. Tanganku yang satunya kugunakan untuk menahan beban Kanya, anakku. Jadi ibu baru memang membuatku terlalu sensitif sampai tidak sadar kalau aku membalas pesan Mika dengan agak kasar.

To : Muhammad Mikail
Subject : Re:Halo Andera Kalista

Mika, sekarang aku sudah jadi ibu. Aku sekarang paham sekali kenapa dulu Bunda atau bahkan Mamamu terlalu protektif.

Terima kasih sudah menjadi penggemar karya-karyaku. Semoga bisa menginspirasi.

p.s. Tolong, jangan pernah menungguku kembali. Karena aku tidak akan pernah melakukannya.

***
writer's note : Just another fiction story. Hope you like it!