atha's scrapbook: Craps
Showing posts with label Craps. Show all posts
Showing posts with label Craps. Show all posts

August 15, 2023

Till death do us part

Tuesday, August 15, 2023 0
Till death do us part

 Love-birds tend to make corny promises when they get married. One of which is to stay together until death do them part. But what happened after death? Does love suddenly dissapear and it’s okay for one spouse to look for another and repeat to promise the same thing?


The concept of monogamy somehow becomes blurry; yes, they’re only married to one person at a time, but no, they’re not in love with one person only.


I’ve never married and don’t understand how feelings grown between spouses. The one person who you’d spend most of your time with, the one whom you share your deepest secrects and worst fears to. I’m really sure it is one of the strongest connections not-blood-related humans could ever make.


I may sound stiff, but what I imagine in a marriage is that my spouse will be the love of my life. I could never love anyone the same. Or worse, I will never love again.


But it turns out that humans are dinamic. People change, feelings change.


There are people who get remarried after death, or after a divorce. There are ones who love the next person more than their exes. But there are also people who doesn’t want to get remarried. There are ones who are too afraid to fall in love again.


But there’s one thing in common; people just want to be okay, everyone wants to feel safe and secured. Oh, to love and to be loved.


So I guess the idea of “till death do us part” doesn’t seem too corny. People tends to make ridiculous promises when they’re happy. I mean, there’s nothing wrong in wanting more, wanting for the best.


I secretly wish there is better alternative term than “till death do us part”.


All my love,

Atha


February 4, 2022

What Could Go Wrong?

Friday, February 04, 2022 0
What Could Go Wrong?

I had so much visions for 2021; graduated, getting married, and getting my first job. Then I had to swallow a super-bitter pill when things turned out the way I never imagined they would.


On early 2021, a shocking truth, one thing I never imagined would come true in my life, the last last thing on earth I wished to happen, happened. I lost my mother. In a blink of an eye. Out of the blue. To this day I’m still trying to digest that fact.


My life started crashing down from there.


I never thought I would experience such thing, feel such feelings. Now I understand when people say they feel numb, empty, heart-broken. You lose something you can never replace. To say it’s been hard would be an understatement. I will forever try to explain, but it will take you forever to understand.


Like a blessing in disguise, I got the chance to distract myself from my own grieving. I was preparing my national exam. I studied 15 hours a day, every day, for almost 2 months. Though at night nobody could stop me from making my pillowcase wet.


After graduating, I didn’t have anything to distract me anymore. Days feel longer in a house full of grieving people. House didn’t feel like home anymore without the presence of its main core; a mother. I lost interest in everything, especially in connecting to people. I broke up. I ignored my friends. I hated myself. To those whom I have hurt, I am truly sorry…


Truth is, never in my life I imagined my life would be like this. 2021 was the most roller-coaster thing I have experienced. I know I will be grieving my whole life. I know my life and dreams will never be the same anymore. But may 2022 and the following years will be okay. Dreams could always be rewritten. Like my most favorite line in ‘Snowdrop’; “You have to live. No matter how hard it would be, you have to live.”


Wishing everyone a great year ahead!


All my love,

Atha.

April 22, 2017

Semangat, ya.

Saturday, April 22, 2017 0
Semangat, ya.
Tersenyumlah. Setulus saat kita mengucapkan terima kasih kepada yang telah benar-benar meringankan beban kita. Seceria saat pada akhirnya kita bisa bertemu dengan orang yang kita sayang.

Aku tahu dunia tidak selamanya manis. Ada banyak hal berat di luar sana yang harus kamu lalui yang tidak aku tahu. Ada begitu banyak tanggung jawab dan masalah yang harus kamu hadapi setiap harinya. Seberat itu sampai-sampai doamu setiap hari adalah bisa menangis di pelukan ibu. Penenang yang mungkin hanya bisa kamu dapatkan tiga atau empat kali dalam setahun. Sabarlah. Hasil baik tidak didapat dengan cara yang mudah.

Aku tahu kamu dengan segala mimpi besarmu, dan aku bangga dengan hal itu. Aku bangga dengan orang-orang yang sanggup memperjuangkan mimpi-mimpi besar mereka, dengan mereka yang dengan berani mendobrak tradisi bodoh dan kolot, juga dengan mereka yang terus menerus tanpa takut memperkecil batas ketidakmampuan mereka. Oleh karena itu, tetaplah berjuang atas apa yang kamu yakini benar.

Semangat, ya, untuk apapun yang sedang kamu perjuangkan. Semoga Allah selalu sayang kamu.
Salam sayang dariku.

October 30, 2016

She is Too Afraid

Sunday, October 30, 2016
She is Too Afraid
She is too afraid to shout her thoughts out.
too afraid of crowded places.
of strange faces.
She is just too afraid.

She is too afraid to talk about her deepest secrets.
too afraid of dark.
of empty boxes which are fulled of dust.
She is just too afraid.

People says big girls don't cry.
but girls are human too.
each is given a pair of Tränendrüse.
each needs to put her head down to the ground.
34 times a day.

January 2, 2016

2036

Saturday, January 02, 2016 0
2036
Mungkin aku bukanlah mereka yang pantas kau dambakan, sayangku. Aku bukan gadis manis yang dapat dengan sempurna memoles bibir selihai koki handal memoles mentega di atas satu lembar roti. Aku bukan gadis penurut yang meng-iyakan semua yang ayah dan ibu katakan, duduk diam di rumah belajar menjahit dan menyulam. Aku juga bukan gadis tangguh yang bisa berlari mendaki dalam satu helaan napas. Tapi ketahuilah bahwa aku menyayangi dan memahamimu lebih daripada dirimu sendiri.

Dua puluh tahun lagi lilin di atas kue ulang tahunku akan berbentuk tiga dan delapan, sementara milikmu mungkin tiga dan sembilan atau bahkan empat dan nol? Entahlah. Aku bahkan belum mengenalmu.

Pada saat itu sayangku, orang-orang di sekitar kita akan melabeli kita dengan tulisan ‘dewasa’ besar-besar pada bagian depannya, anak-anak akan mulai masuk sekolah menengah, lalu kau dan aku akan mulai menuai garis-garis halus pada wajah kita yang tidak lagi kekanakan.

Seperti biasa, menjelang maghrib tiba aku akan berteriak kesal karena ketiga anak laki-laki kita sulit sekali disuruh mandi. Setelah seharian berurusan dengan povidone-iodin, resin komposit, dan beberapa orang pasien yang cerewetnya minta ampun, aku ingin mereka mendengarkan dan menurut kepadaku. Bau alkohol bercampur porselen -ahli kedokteran gigi menyarankan untuk mulai mengurangi pemakaian amalgam beberapa tahun yang lalu- yang menguar dari tubuhku membuatku semakin jengah. Aku tidak ingin kau pulang dan mendapatiku yang berbau porselen serta anak-anak yang bau matahari.

Namun pada akhirnya kau hanya tertawa. Kau terlalu keras pada mereka, katamu. Oh, aku hanya ingin anak-anakku tidak sakit. Lagi-lagi kau tersenyum, dan membuat sesalku menjadi berlipat-lipat karena belum sempat mengganti bau alkohol-porselen dengan bau kombinasi alkohol yang lebih manis, vanilla musk atau lavender, misalnya.

Aku tahu kau lelah. Lensa kacamatamu bercerita bahwa ada klien yang komplain terus menerus karena hasil rancanganmu tidak pernah memuaskan mereka. Mungkin kau juga akan bercerita betapa kesalnya kau hari itu ketika salah satu mesin produksi berhenti beroperasi dan tidak ada yang mau bertanggung jawab. Selanjutnya kita berdua akan mulai berbagi apa saja. Hukum, politik, sains, teknologi, kesehatan, sosial, agama, dan hal-hal paling menjengkelkan hari itu. Betapa seorang istri konglomerat memarahi dan memaki-maki asistenku karena biaya orthodonsi yang harus dibayarkan melebihi ekspektasinya. Aku kesal sekali. Aku tahu uang belanjanya berkali-kali lipat jauh diatas pendapatanku. 

Dinding-dinding rumah kecil kita di pinggiran kota Padang mungkin sudah bosan mendengar segala keluh kesah yang kita lontarkan setiap malam selama beberapa tahun terakhir. Setiap malam mimpiku berkeliaran kemana-mana karena aku tidak tahu apa yang akan esok kabarkan mengenai kariermu. Mungkin saja bulan depan KTPku akan bertuliskan Nusa Tenggara Barat. Atau Kalimantan Selatan. Atau bahkan Maluku Utara.

Oh, mungkin cerita kita akan berbeda dari yang sudah aku eksplanasikan. Mungkin kita tidak akan tinggal di pinggiran kota Padang. Mungkin kau tidak memakai kacamata dan pekerjaanmu tidak menuntut kita untuk selalu berpindah. Mungkin anak-anak kita tidak semuanya laki-laki (namun aku selalu ingin punya anak laki-laki banyak). Atau mungkin tidak pernah ada dua puluh tahun lagi. Siapa yang tahu, kan?

Tetapi jika aku sangat beruntung untuk bisa hidup dua puluh tahun lagi, aku akan merasa menjadi perempuan paling terberkati di dunia. Aku punya kau, teman berbagi segalanya menghadapi ratusan ribu hari yang aku jamin akan jauh lebih menyenangkan dibanding film-film Hollywood kesukaan kita.

Sampai ketemu, sayang. 

May 19, 2014

Bosan

Monday, May 19, 2014 0
Bosan
Hari itu yang tidak pernah beredar dan bersinar menjadi yang tersisa.
Sepi.
Yang bersinar dan beredar tidak ada.
Semua berjalan sangat lambat, seolah jarum detik pada jam dinding itu tidak pernah bergerak.
Tidak ada teriakan
dan semua lelucon menjadi tidak lucu sama sekali.
Semua yang tersisa merasa tidak berguna.
Namanya juga sisa.
Residu.
Hasil saringan.
Ya pantasnya memang di nomorduakan.
Hehe

Dan hari itu dibalik sorot silau cahaya dan topeng sandiwara, aku bisa lihat.
Walaupun aku yakin cuma sepersekian detik saja.
at least at real life i have ever felt that once....
Yaampun aku bicara apa.

Hormones.
Kampret.

found on ask.fm

April 14, 2014

Kicked, One Hundred and Eighty Degrees

Monday, April 14, 2014 0
Kicked, One Hundred and Eighty Degrees
illustrated picture. found on Google images.

12 April 2014, 23.00WIB

Andera Kalista membisu di hadapan layar laptopnya. Pikiran serta imajinasinya menyembur ke segala arah hingga membuatnya bingung. Garis batas antara khayalan serta kenyataan semakin lama semakin memudar. Malam semakin giat menghembuskan udara beku, membuat Andera tersadar dan segera menutup jendela kamarnya. Ia menyentak jendela dengan kasar, sebal karena tak kunjung mendapat ide. Andera tahu sekarang sudah pukul sebelas malam dan ia harus segera mengirimkan draft cerpen ke editornya sebelum pukul dua belas.

Satu jam lagi.

Apa yang bisa ditulis dalam waktu satu jam?

Seketika Andera membeku. Mungkin kali ini ia terpaksa harus menulis sedikit cerita tentang masa lalunya. Ia sudah tidak peduli. 10 tahun menjadi penulis tentu tidak akan membuat orang-orang berpikir bahwa itu adalah kisah nyata.

Kesepuluh jari-jari Andera perlahan mulai menari-nari dengan cepat di atas keyboard.

***

12 Mei 2014, 19.00WIB

Andera berkali-kali mengutuki dirinya. Perkiraannya salah, salah besar. Lima menit yang lalu ia menerima email dari seseorang yang mengaku teman lamanya.

Tenang, Andera. Mungkin ia hanya wartawan, batin Andera.

Sial, wartawan mana yang tahu kalau ia pernah kejatuhan kotoran burung semasa SMA?

Sial.

Sial.
***

12 April 2014, 24.00WIB

Andera melihat sekali lagi draft itu sebelum dikirimkan ke editornya. Lumayan, batinnya.

Teruntuk wanita yang hati dan perasaannya selalu menang. Percayalah terkadang kau harus menuruti apa yang dikatakan logikamu. Kutulis cerpen ini dalam waktu satu jam ketika aku tidak tahu harus membela yang mana, nyataku atau imajinasiku. Garis batas antara keduanya sudah semakin mengabur.

Diamku dan Diammu
Semua yang kamu lakukan abstrak. Terkadang bisa membuatku merah jambu, namun tak jarang kelabu. Memahamimu jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan sebelumnya. Mengerti jalan pikirmu yang entah ada berapa cabang. Tahukah kamu aku memperhatikanmu lebih dari yang bisa kau tahu?

Caramu berjalan dan mengenakan mantel. Caramu tertawa dan tersenyum. Caramu memandang ketika tertarik terhadap sesuatu. Dan luapan emosi semangat saat kau bercerita dengan mata penuh binar.

Aku rasa aku mulai bisa  memahamimu.

Namun ternyata aku salah.

Kau jauh lebih rumit daripada trigonometri.
*

Angin bertiup kencang, memaksa beberapa helai daun untuk melepaskan diri dari tempatnya bergantung. Aku melangkah pelan, mencoba merasakan angin yang menari-nari diatas pakaianku. Angin yang sama dengan yang menggugurkan daun. Beberapa burung merpati menoleh bingung saat dedaunan disekitar tempat mereka berpijak mulai berguguran. Gemerisik semak dan gesekan botol plastik pada aspal yang kering masih kalah berisik dibandingkan dengan perkelahian antara otak dan hatiku. Selalu saja begitu. Entah apa yang melapisi hati perempuan, hingga tak mau lagi mengenal kata logika.

Aku memilih satu diantara puluhan kursi itu untuk duduk dan sekedar merapikan rambutku. Sudah sepuluh menit novel yang baru saja kubeli aku biarkan terbuka. Kalimat pertama novel itu membuatku terlalu sibuk berpikir.

Aku dan kamu adalah pantulan cahaya di kaca. Ada, namun tak nyata.

Dua anak perempuan berlari-lari kecil sambil berteriak sebentar lagi akan hujan. Namun aku tetap bergeming. Apa yang selama ini kupertahankan, ternyata balik menghujamku. Seluruh tubuhku bergetar menahan tangis. Ketika tetes air hujan mengenai halaman pertama novel dipangkuanku, akhirnya aku membiarkan pertahanan diriku runtuh. Kubiarkan tetes-tetes bening itu meluncur turun melewati pipi, dan ikut membasahi halaman novel bersama air hujan.
*

Namanya Milo, seperti nama susu cokelat hangat kesukaanku. Jujur, dia biasa saja. Dia bermain bola seperti anak laki-laki kebanyakan. Mengerjakan tugas dengan seenaknya juga seperti anak laki-laki kebanyakan. 
Selalu pinjam alat tulis, lupa membawa pr, dan segala hal biasa lainnya.

Segalanya terlihat biasa saja,
Sampai ketika aku tidak sengaja menemukannya menangis di balik rak buku di sudut paling belakang perpustakaan sekolah.

Kala itu, ia terlihat sangat rapuh.

Aku tidak berani mendekatinya. Terlalu takut untuk ikut campur. Setahuku, jika laki-laki sudah menangis, tentu masalahnya sudah tidak bisa dianggap sepele. Namun aku tidak tahu lagi, aku bukan salah satu diantara mereka.

Jadi, disinilah aku. Berdiri mematung dengan jarak sepuluh jengkal dari tempatnya terduduk dan sesenggukan. Tentu saja aku bersembunyi. Aku tidak ingin ketahuan stalking.

Waktu itu aku hanya seratus persen penasaran.

Tiba-tiba Milo bangkit. Matanya terlihat merah sekali.

Entah benar atau hanya perasaanku saja, namun matanya berkilat marah menatap ke arahku. Mau tidak mau aku keluar dari rak-rak buku itu. Sudah ketahuan.

“Lisa, jangan bilang siapa-siapa.” Ia mendesis serta memalingkan muka. Mencoba menyembunyikan kedua matanya yang masih merah. Tanpa diminta aku juga tidak punya rencana memberi tahu yang lain. Toh aku tidak mengenalnya. Aku hanya menatap seadanya kemudian berbalik. Saat aku hendak melangkah, ia memanggilku.

“Lisa...”

Aku menoleh, sebisa mungkin mengatur mimik wajahku agar menampilkan tanda tanya yang besar.

“Aku mau cerita.” Sambungnya pelan.

Aku mematung selama beberapa detik. Cowok? Curhat? Aku baru mengenalnya sejak tahun ajaran baru dimulai tiga bulan yang lalu. Dan cowok ini bilang mau cerita? Sama aku?

Milo menepuk-nepuk lantai marmer disebelahnya. Aku menurut saja. Tepat ketika aku duduk dengan sempurna di sebelahnya, kata demi kata mengalir lambat dari bibirnya.

“Orang tuaku mau cerai. Aku baru tahu tadi malam. Tadi malam aku kebelet pipis tengah malam dan mendengar mereka bertengkar. Mereka bertengkar nggak kayak di sinetron-sinetron, Sa. Mereka diskusi, tapi aku bisa bedain mana diskusi biasa mana yang nggak.”

Aku terkesiap, bingung harus berkata apa kemudian berkali-kali memarahi diriku sendiri di dalam hati begitu sadar kalimat apa yang aku gunakan sebagai tanggapan. “Memang apa bedanya diskusi biasa sama yang nggak?”

Terdengar Milo menghela napas panjang. Mungkin ia mengira aku menganggap ini semua lucu. Namun ekspresinya berubah seketika melihat wajahku yang  innocent. Sungguh, ketika itu aku tidak tahu harus bilang apa.

Mulai hari itu aku mengenal siapa Milo sebenarnya. Entah bagaimana caranya, namun aku dan Milo semakin dekat saja. Tidak, kami tidak pacaran. Namun aku senang sekali menemukan teman ngobrol yang seru. Yang sama-sama menyukai Ritter Sport, cokelat asal negara Adolf Hitler itu. Aku dengan varian Praline dan dia dengan yang Cornflakes.

Kami selalu ada untuk sama lain. Bagaimana ketika aku jadi mak comblang ketika ia naksir dengan temanku, atau ketika ia yang selalu ada ketika aku harus putus dengan pacarku. Segalanya nampak menyenangkan sekali sampai suatu ketika Milo menghilang di tahun akhir masa SMA kami.
Rumahnya sepi, tersegel rapat. Orang-orang bagian tata usaha sekolah juga enggan menyebutkan kemana Milo. Hapenya tidak pernah aktif.

Dan seminggu kemudian pak pos datang ke rumahku membawa surat beramplop cokelat kumal.

Dari Milo.

Dia bilang perceraian kedua orang tuanya berdampak sangat besar untuknya. Ia yang semula menetap di kota ini dengan Ibunya mendadak harus pindah tinggal dengan ayahnya.
Ibunya mau menikah lagi.
Astaga Milo..
*

Aku kehilangan Milo. Sahabat sehangat susu cokelat yang panas. Setiap dua minggu sekali ia mengirimiku surat tanpa alamat sehingga aku tidak bisa membalasnya dan tidak ada ide dimana dia berada. Dalam surat-suratnya ia dengan lancar menuliskan bagaimana tidak enaknya merindukanku. Bukan tipikal Milo yang kukenal.

Sampai surat ke delapan belas yang membuatku hampir kena serangan jantung. Surat itu tidak panjang. Hanya beberapa baris pembuka seperti surat kebanyakan lalu dilanjutkan dengan lirik lagu. Ya, lirik lagu. Sejak kapan Milo berubah menjadi romantis begini?

Untukmu Lisa, whos sometimes being replaced by my un-warm six string riding in the seat.

Brantley Gilbert More Than Miles

Maybe I should take take picture off the dashboard
Before memory hits the brakes and takes the wheel
Yeah I bet she
s still crying on that front porch
Yeah this time it
s going to take some time to heal

Cause Im on my way to Tennessee
Singing Georgia on my mind
Chasing what they say
s a dream
Thinking maybe it ain
t mine
Cause that girl
s in every song I sing
She
s in every song I write
That six string riding in the seat won
t keep me warm tonight

God what am I supposed to do here?
Cause there
s still more than miles in my rearview
Yeah Ive been changing lanes without my mirrors
Cause every time I look behind me I see her
I think I just realized how much I need her

So Im turning back for Georgia
Stopping short of Tennessee
I cant put my dreams before her man I need her here with me
Cause that girl
s in every song I sing
She
s in every song I write
That six string riding in the seat can sleep in the back tonight

Dan surat berikutnya merupakan surat terakhir Milo, juga dengan lirik lagu yang membuat moodku naik turun secara drastis hari itu. Bagaimana tidak? Isi surat Milo berbanding terbalik dengan lirik lagu yang ia sertakan.

Lisa, mungkin ini adalah surat terakhirku. Jangan terlalu pikirkan lirik lagu di bawah ini. Dan tolong, jangan pernah menungguku kembali. Karena mungkin aku tidak akan pernah melakukannya.

The Beatles When Im Sixty-four

When I get older losing my hair
Many years from now
Will you still be sending me a valentine
Birthday greetings, bottle of wine?
If I
d been out till quarter to three
Would you lock the door?
Will you still need me, will you still feed me
When I
m sixty-four?

Youll be older too
And if you say the word
I could stay with you

I could be handy, mending a fuse
When your lights have gone
You can knit a sweater by the fireside
Sunday mornings go for a ride
Doing the garden, digging the weeds
Who could ask for more?
Will you still need me, will you still feed me
When I
m sixty-four?

Every summer we can rent a cottage in the Isle of Wight
If it
s not too dear
We shall scrimp and save
Grandchildren on your knee
Vera, Chuck & Dave

Send me a postcard, drop me a line
Stating point of view
Indicate precisely what you mean to say
Yours sincerely, wasting away
Give me your answer, fill in a form
Mine for evermore
Will you still need me, will you still feed me
When I
m sixty-four?

Diam berarti banyak ya, Milo. Para pakar perasaan di luar sana bilang “A guy and a girl can be just friends. But at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.”
And I love you too, Milo. Come home soon...
*

Pada akhirnya toh kamu tidak pernah kembali, seperti surat terakhirmu. Apa saja yang sudah terjadi padamu sejak euforia SMA itu berakhir? Apa kamu masih suka Ritter Sport Cornflakes?  Aku merindukanmu tapi aku tidak bisa, Milo. Aku sudah terlalu lelah untuk sekedar merindukanmu.

***

12 Mei 2014 18.55

Sudah tiga bulan aku tidak pulang. Kehidupan kasar kota metropolitan yang egois ini memaksaku menyisakan waktu lebih banyak untuknya ketimbang untuk Bunda. Belum lagi jika deadline mengejar. Aku harus siaga 24/7 hingga garis-mati itu selesai.

Aku sedang asyik browsing tiket pesawat murah untuk pulang menengok Bunda ketika notifikasi emailku berkedip. Satu pesan masuk.

From:  Muhammad Mikail
Subject: Halo Andera Kalista

Astaga, is this really you? Aku nggak pernah nyangka kalo Arakalis writer terkenal kesukaanku itu kamu sampai aku membaca cerpen terakhirmu yang terbit kira-kira satu bulan yang lalu.

So, apa kabar? Masih suka kejatuhan kotoran burung semasa SMA? Atau masih belum bisa move on dari Gatra? Kamu nangis lama sekali waktu itu. Nostalgia kadang menyesakkan, ya. But still Andera, Will you still need me, will you still feed me When I’m sixty-four?

Maaf sudah pergi lebih dari satu dekade. Tapi masih maukah kamu jadi partner in crime ku? Jadi orang yang paling dekat denganku, yang lebih dari sekedar teman masa remaja.

Aku memandangi pesan itu dengan tidak percaya. Seenaknya saja Mika –oke, nama aslinya Mika bukan Milo- memperlakukanku begitu. Seenaknya menyuruhku berhenti menunggu dan kini dia memintaku kembali. Dia kira aku apa.

Sejak lulus SMA tidak pernah ada nama Mika lagi. Aku menyelesaikan SMA dengan nilai yang cukup memuaskan. Kuliah di jurusan Komunikasi dan selesai dalam waktu tiga tahun. Di tahun yang sama dengan tahun kelulusanku, aku mendapat kesempatan mengikuti Festival Jurnalistik di München, Jerman dan bertemu dengan seseorang yang menjadi temanku menyelesaikan kehidupan fana ini.

Aku membalas pesan itu dengan satu tangan. Tanganku yang satunya kugunakan untuk menahan beban Kanya, anakku. Jadi ibu baru memang membuatku terlalu sensitif sampai tidak sadar kalau aku membalas pesan Mika dengan agak kasar.

To : Muhammad Mikail
Subject : Re:Halo Andera Kalista

Mika, sekarang aku sudah jadi ibu. Aku sekarang paham sekali kenapa dulu Bunda atau bahkan Mamamu terlalu protektif.

Terima kasih sudah menjadi penggemar karya-karyaku. Semoga bisa menginspirasi.

p.s. Tolong, jangan pernah menungguku kembali. Karena aku tidak akan pernah melakukannya.

***
writer's note : Just another fiction story. Hope you like it!

March 6, 2014

craps

Thursday, March 06, 2014 0
craps
I did not know much things

But I could say you were the sparks in my eyes
I did not understand how things could change
But I could say you were the reason of the heart that beats faster


I’ve spent many minutes thinking

Were you worth my minutes?
I could do better things in those minutes
Let’s say trying not to thinking of you


I could feel it when the raindrops falling

I could feel them running through my skin laughing
Life were just that easy, everyone was happier
What were people thinking, seriously?


The Earth is moving

So are all the particles
Were you one of them?
Were we one of them?


Wow
Just realized that you were more complicated than French’s grammars

And just realized that I used were  instead of are J



p.s do you want to build a snowman? It doesn’t have to be a snowman.