atha's scrapbook

March 3, 2013

Nggak Semua Salahnya Pemerintah

Sunday, March 03, 2013 0
Nggak Semua Salahnya Pemerintah

Hari ini saya mendapat beberapa broadcast messages di bbm yang isinya tentang isu UAN (Ujian Akhir Nasional) dengan 20 paket. Kurang lebih intinya, pesan itu mengandung kutukan bagi pemerintah yang dengan teganya memberikan 20 paket soal yang berbeda. Pesan itu mengatakan bahwa pemerintah seenaknya menekan batin siswa. Mengapa pemerintah menuntut siswa untuk menguasai seluruh mata pelajaran?  Mengapa tidak dari kecil disuruh memilih jurusan? Mengapa pemerintah tega menyiksa siswa dengan 20 paket soal? Mengapa pemerintah tidak mengurusi masalah koruptor?

WELL.

Apakah pemerintah sepenuhnya bisa disalahkan?

Sekarang gantian deh saya yang tanya.

Memangnya kalo UAN ada 20 paket soal kenapa? Takut nggak bisa nanya temen sekelas? Takut harga kunci jawaban jadi lebih mahal? Takut ribet sms ke kelas-kelas sebelah? Ngerjain ujian kan sendiri-sendiri.

Mungkin saya terdengar sok pinter, sok hebat. Saya juga pelajar kok, nanya temen pas ujian ya pernah. Tapi menurut saya UAN dengan 20 paket soal bukan harusnya jadi rutukan. Mungkin pemerintah mau mengajarkan kejujuran...
Memang sih, saya juga jengkel, kesel, kenapa UAN dijadikan patokan / nilai ukur kelulusan siswa. Masa 6 tahun, 3 tahun, ditentuin sama 4 hari? Gak lucu.
Tapi ambil sisi positifnya ajadeh. Kan kita udah tau kalo UAN itu nyeremin, bikin stress. Jadi ada satu cara yang murah tapi bikin males, bikin ribet, bikin ngantuk, tapi dijamin lulus. Apa? Yak, betul. Belajar...

Mengapa pemerintah menuntut siswa untuk menguasai seluruh mata pelajaran?  Mengapa tidak dari kecil disuruh memilih jurusan, memilih mata pelajaran yang disukai?

Saya tanya deh buat yang udah SMA. Yang udah lebih dewasa dibanding SD sama SMP. Milih jurusan bikin lo stress gak? Nentuin IPA, IPS, apa Bahasa. Belom lagi kalo beda pendapat sama orang tua. Belom lagi galau karena ternyata pilihan pacar dan sahabat beda sama lo.
NAH GIMANA KALO ANAK SD YANG LO SURUH MILIH JURUSAN? *emaap lupa matiin capslock

Anak SMA aja masih bingung. Apalagi anak SD.

Ambil sisi positifnya ajadeh. Dengan mempelajari semua mata pelajaran, pengetahuan kita tentunya jauh lebih banyak. Keuntungan lain, dengan mempelajari semua mata pelajaran lo bisa tau mana yang lo suka mana yang enggak, lo bisa tau lo bakat dimana, dan itu bekal buat milih jurusan pas SMA sama pas kuliah.
Kayak contoh, di sekolah saya ada 5 pilihan bahasa asing. Pas semester 1 kelas X semua siswa diwajibkan mempelajari kelimanya. Awalnya sih ngeluh, ribet, bingung. Tapi ternyata seru juga. Nah setelah satu semester nyobain kelimanya, saya jadi tahu mana yang saya suka, mana yang saya mau ambil. Gitu juga dengan mata pelajaran, jadi ketika lo udah cukup dewasa untuk memilih jurusan dan mata pelajaran yang lo suka, lo bakal udah siap:)

Teman, sebelum menuntut hak kita, harusnya kita tanya dulu sama diri kita sendiri, udah belom kita melaksanakan kewajiban? Kata bu guru, harusnya kita itu ngerjain kewajiban dulu, baru menuntut hak. Jadi, daripada ngomel-ngomel mengutuki pemerintah, bikin prestasi dong. Tunjukin sama orang-orang di luar sana kalo dengan kurikulum Indonesia yang berat ini kita masih bisa berprestasi dan bikin harum nama sekolah, daerah, bahkan Indonesia.

Semangat ya! Inget kita nggak akan berenti belajar saat lulus sekolah, karena kita akan belajar untuk hidup yang sesungguhnya saat kita nanti terjun langsung ke masyarakat.

Kesimpulan dari postingan kali ini adalah... jangan pernah menilai suatu permasalahan dari satu sudut pandang. Coba juga nilai dari sudut pandang-sudut pandang yang lain dan nilailah mana yang paling benar. Gua yakin kok lo udah cukup dewasa untuk membedakan yang benar dan yang salah :))



Das ist alles und danke schon!
Gute Nacht :*

atha

January 30, 2013

Aku (Masih) Kangen Ibu

Wednesday, January 30, 2013 0
Aku (Masih) Kangen Ibu

"Katanya pengen punya hati yang seluas samudera?
Masa gini aja cengeng?
Belajar untuk maafin orang, mbak. Belajar minta maaf, belajar ikhlas, belajar jadi dewasa. Inget, sekarang udah nggak mau dibilang anak kecil lagi kan?" -Ibu


January 26, 2013

tersakiti tidak berarti harus menyakiti

Saturday, January 26, 2013 0
tersakiti tidak berarti harus menyakiti
Untuk yang merasa tersakiti karena menyakiti,

Jangan pernah sembunyi dan mengumpat mereka.
Karena jika kamu begitu,
kamu pecundang.

Jika mereka menyebutmu trouble-maker, jangan marah. Itu tandanya mereka perhatian.

Jika hati mereka tersakiti karenamu, kamu  harusnya sadar. Itu tandanya mereka punya hati, sama sepertimu.

Jika air mata mereka keluar karena kejengkelan mereka, dengarkanlah mereka. Itu tandanya mereka sudah terlalu lama menahan perasaan mereka.

Jika suara mereka bergetar ketika membicarakan namamu,  tanya apa yang mereka mau. Itu tandanya bagi mereka menyebutkan namamu sama saja menyakiti hati mereka.

Jika amarah mereka sudah terlalu banyak hingga tidak bisa keluar, mengertilah. Itu tandanya mereka masih bisa mengontrol emosi mereka, agar hatimu tidak juga tersakiti.

Dan jika mereka marah,
percayalah mereka masih sayang kamu.


********

Untuk yang merasa menyakiti karena tersakiti,

Ketika hatimu robek, sakit, haruskah kamu berbalik dan membalas dendam?
Ketika harapan terbesarmu buyar karena hal yang tidak kamu mengerti, haruskah kamu berbalik dan marah?
Ketika semua hal baik dihadapanmu menghilang, haruskah kamu berbalik dan berteriak agar semua terang?
Ketika kenyataan berbanding terbalik dengan mimpimu, haruskah kamu berbalik dan mengurung dan menyiksa dirimu?
dan ketika semua rencanamu terganti oleh hal-hal yang kamu tidak suka, haruskah kamu berbalik dan menyakiti orang-orang disekitarmu?

Tidak. sama. sekali.

Tanyakan pada dirimu,
apakah kamu ingin menjadi jahat dengan membalas dendam?
apakah kamu mau menghabiskan tenagamu dengan marah?
apakah dengan berteriak dunia akan mendengarkan?
apakah ada keuntungan dari mengurung dan menyiksa diri?
apakah kamu tega menyakiti orang-orang disekitarmu?

kalau jawabanmu ya,
kamu pecundang.

Malang, 26 Januari 2013
atha


nb: no offense. ini cuma puisi biasa. buat yang marah gara-gara tersindir/gimana, that's your problem dude.

The Best Man in the Whole World

Saturday, January 26, 2013 0
The Best Man in the Whole World
If you ask me who is the best man in the whole world, my answer will be always my dad. Bapak. Some people thinks that calling a father with 'bapak' doesn't sound great. I mean, they think that it is too old-fashioned or ndeso maybe. But a big no. I really am proud calling my dad 'bapak'. I know that I'm gonna marry a man someday, but my dad is always be the best man I have ever known.
And this post is dedicated to you, my hero :)

My dad was born in December 24th 1965 (count  his age by yourself) in Cilacap, a small town in Central Java, Indonesia. His dad aka Opa is working in a textile company and was assigned in Cilacap. Opa has ever stayed in Pematang Siantar (where he met Oma:')) then he moved to Cilacap when he was just married. Okay, back to my dad. Dad spent like 2 years in Cilacap and moved to Semarang. And I can say Semarang is my dad's hometown (although Opa adalah orang Madura yang besar di Jakarta dan Oma adalah orang Padang asli) because he grew up in here. Opa's job was promised a happy life, I mean my dad's childhood wasn't really hard. He graduated from high school in 1984.

The journey started in college.

My dad decided to go to Jogja to continue his study because he wanted to take mining engineering at Universitas Pembangunan Nasional. In Jogja all the miracles happened. My dad was my mom's neighbour. My mom was going to Universitas Gadjah Mada (which makes me jealous of her every single time). They were dating for like 7 or  8 years (which makes me jealous again, because you know? My dad is my mom's first boyfriend!) and now have married happily for 19 years.
My dad finished his college in 1992, which means that he went to college for like 8 years o__O (i heard mining engineering was hard) then he got a job in a state-owned coal mining company and assigned in a really really small town in the deep South Sumatera, Tanjung Enim (google it!). His salary wasn't too much but he didn't give up. He married my mom in 1994 in Malang (my mom's imaginary wedding was happened :')) and took my mom to live in Tanjung Enim.

My dad got his little hero in 1995. Khanza Farrasafif Muhammad. First son, first kid, and  it was really easy to make Mas Ancha became his everything. But Allah loves mas ancha too much, and took him just when mas ancha is one month old. My dad's world became really dark, he cried in mas ancha's funeral (and it just really hurts knowing him cried because he's really strong. And if he cried, that means he couldn't hold the pain anymore). Just like a month after mas ancha's funeral, my dad got like a scholarship from the company to have a course in Sydney for three months. He didn't pay at all. Totally free!

After came back from Sydney, my dad's life was getting better. He got promotion and ME! YES ME! I CAME TO HIS LIFE IN 1997. He was really happy, mom was really happy, and all the family were happy because I could cheer my parents up.
Then, Bapak became my everything. He taught me everything like seriously everything! 'Bapak' was my first word you know?:') Dad introduced me English and taught me to read when I was two years old (I could read a short story when I was 3 :p). He taught me to play football, to draw, to write, and protected me no matter what. The stroy of three musketeers end in 2001 because my little annoying sister, Aqilla Khairani Shafira was born. Lol I love her, kok! My parents love us very much and they NEVER call us with 'kamu'. They always call us mbak and adek. Me and my sister think 'kamu' in our family is a rude word. You may call us weird but I seriously don't care.


He's my doctor.

Have I told you that I have ever swallowed a ring? Lol, but I'm not joking. I have ever have a ring that happily stuck in my throat. And he made that ring out by making me vomited. There were three blood vomits. I didn't cry, my mom did! I was 5 at that time.


His dark world back again...

His beloved woman, his mama, my Oma, passed away in 18th of June 2003. My birthday? Yes:") Oma was a reaaaaallllyyyyy nice person. You will love her at the first sight. She's incredible... My dad didn't cried at the funeral, and 6 years of me was asking "Kok bapak mamanya meninggal nggak nangis? Yang nangis malah ibu.." he answered me, "Buat apa nangis, nggak akan bawa Oma kembali. Yang penting doanya mbak." He smiled and kissed my head.

He is such a strong human being. He didn't give up and kept doing his daily activity normally.

He got scholarship again in Lebaran 2003. This time, to Japan. For a month. He went to Tokyo, Kyoto, and Osaka. He sent us postcards and told us Shinkansen was really nice. AAAAHH shinkansen... I really am proud of him. Jealous? Maybe yes, but he always tells me that I HAVE TO be better than him. How to be better than him when he's already the best?

He never bring me down.

He got scholarship again in 2008 for 10 months and mom always says "kenapa bapak dapet ke luar negerinya belajar mulu.." Lol. Guess where did my dad go? FRANCE!!! Like seriously, France!! He stayed in Fontainebleau, a town that located 60km from Paris. YES. PARIS. He went to Paris every weekend... and saw Eiffel Tower, and Arc De Triomphe, and Lafayette and Gare de Lyon... And I asked him in a crazy way "How's Paris? How's Eiffel Tower? Bapak naik ke atas gak? AAAA Eiffel!!" And he answered "Biasa aja ah, masih ngangenin Ka'bah tau mbaaa" And it made me think. Seriously.
Not only France, he got a chance to had a study tour to Germany,Luxemburg,Norway,Sweden and felt SNOW!!! OMG SEEING SNOW IS ONE OF MY BIGGEST DREAMS EVER. He said snow was extremely nice..

I told you.

I didn't love him because he has ever travelled around Europe. Not because he's an engineer.

I love him because he loves me. Because he protects me. Because he makes me feel special. I love him for him, not for his look, his job, his experiences. Maybe he didn't know... But bapak, you gotta know that I love you sooooo much{}

Sorry if there are grammatical mistakes, yeah English isn't my main language.

Malang, January 26th 2013
with a stomach that sounds loud,
atha.

January 23, 2013

ketika semua abu-abu

Wednesday, January 23, 2013 0
ketika semua abu-abu
Ketika semua hal berubah menjadi abu-abu, aku cuma butuh kamu, dan semua warna yang kamu punya...

Jika kamu mempunyai satu buah apel, makanlah.
Dan jika kamu punya dua, tawari aku.
Aku tidak akan menerima,
namun aku akan bahagia karena kamu menganggap aku ada.

Jika kamu melihat awan putih yang berarak bebas, tersenyumlah.
Dan jika kamu melihat pelangi, menyanyilah bersamaku.
Aku tidak akan bilang kamu gila,
namun aku akan bahagia karena kamu bahagia bersamaku.

Jika kamu mendengar kicau burung, pejamkan matamu.
Dan jika kamu mendengar simfoni, mari menari bersamaku.
Aku tidak akan menghina,
namun aku akan bahagia karena kamu dan aku menjadi aneh bersama.

Doamu adalah senyumku hari itu.
Dan saat kamu tertawa bersamaku, tidak ada yang lebih indah dari ini.

Kita tidak saling bertemu,
namun aku ingin percaya bahwa kamu dan aku sama-sama berharap begitu.

Kita tidak saling menatap,
namun aku ingin percaya bahwa kamu dan aku sama-sama bahagia.

dan Kita juga tidak saling bicara,
tapi aku ingin percaya bahwa kamu dan aku sama-sama saling mendoakan...

dan tolong, jangan pernah keluarkan air matamu karenaku,
kecuali kamu merasa bahagia dan bangga.
Aku cinta kamu, ibu:*

Malang, 23 Januari 2013
atha

January 20, 2013

I just love the words

Sunday, January 20, 2013 0
I just love the words
"I think that that is like the dumbest thing that I have ever heard. You know what? I never said anything, but your entire premise is bullshit. And would you like to know why? Because these imaginary new donuts that you offer people, they may never arrive. They're not real. And me, personally, I am not the type of person who wants to sit around and wait for something that might never arrive. When they know that the thing they have in front of them is.. it's tasty! It's good okay? And you know what? It's not about the age of the donut, it's about the flavor. And you know the other thing? The new donuts, they're going to start stale someday, too." -Tom on The Five-Year Engagement