atha's scrapbook

November 22, 2012

coret-coretan

Thursday, November 22, 2012 0
coret-coretan

Siapa bilang hidup itu mudah?
Jika hidup itu mudah, kita tidak perlu lagi bermacam warna.
Hanya perlu hitam, putih, dan kelabu.
Tidak perlu lagi jalan belokan, dan tebing yang curam.
Hanya perlu lurus, datar, dan tiada batas.
Hidup yang seperti itu hanya dinilai satu kata,
membosankan.

Kadang, buat jalan diatas jalan berbatu kita butuh sepatu dengan sol yang tebal.
Tapi apa gunanya sepatu dengan sol yang tebal kalau kita bahkan tidak mau berjalan?

Dalam hidup ada berusaha, ada menyerah, ada gagal, ada berhasil.
Menyerah, gagal, dan berhasil itu satu paket. Tapi berusaha nggak kenal sama toleransi.
Kalau kamu nggak berusaha, ya kamu nggak bakalan ngerasain paket tadi.

Banyak orang bilang hidup dengan dikelilingi harta adalah surga.
Namun hidup dengan dikelilingi tawa, canda, dan senyuman adalah bahagia.
Bahagia itu sederhana, seperti kata mereka.

Bahagia itu merasakan apa yang ingin kamu rasakan.
Bahagia itu berada di sekeliling orang-orang yang kamu sayang.
Bahagia itu mudah, karena
bahagia itu kita yang bikin, bukan dia ataupun mereka.


22  November 2012
atha! :-)



October 31, 2012

Untuk Kamu

Wednesday, October 31, 2012 0
Untuk Kamu

Suatu waktu aku merasa harus menunggu
tanpa tahu ujung penantianku.
Lelah, bosan, dan putus asa telah menyuruhku berhenti,
berhenti menunggu sebuah ketidakpastian.

Aku telah mencoba bergerak bersama waktu,
namun kamu membuatku jatuh ke titik awal lagi.
Aku mencoba untuk tidak peduli,
tetapi lagi-lagi kamu mengoyak rencanaku.
Rencana untuk melupakanmu.

Malam itu kamu melakukan hal paling manis sedunia,
namun semuanya selesai saat matahari membuka mataku secara paksa.
Hanya khayalan,
mimpi,
imajinasi yang terlalu manis.
Karena aku paham, kenyataan tidak akan semanis ini.

Aku bertanya padamu, semua ini tentang apa?
Samakah tahun ini dengan beberapa tahun lalu?
Apakah dunia masih sama?
Ah, terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Membuatku harus menyerah,
atau lebih lama lagi menunggu.

***

"I thought you were gone forever, I thought you'd walked away from everything, because I failed, because I destroyed the only thing that ever mattered to me. I waited for you to come, but you didn't." - Alexandra Adornetto, Halo

October 7, 2012

HiGH SCHOOL LIFE PART 5

Sunday, October 07, 2012 0
HiGH SCHOOL LIFE PART 5

HiGH SCHOOL LIFE PART 5

Salahkah bila aku menyukaimu, padahal itu adalah hal yang dilarang? Dan maafkan aku karena telah menyakitimu. Perlu kau ketahui, bukan hanya kau yang merasa pedih. Aku juga.
Hal ini yang baru aku ketahui belakangan, Tuhan selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan hadiah. Seperti sebuah pelangi yang ada sehabis hujan.

***

Kemarin, Taft mengajakku ke taman, lagi. Taft bilang ia menyukaiku, dan gilanya aku sudah tahu. Namun ada faktor lain yang baru aku ketahui seminggu belakangan ini. Faktor lain yang mengubah segalanya. Faktor lain yang nggak bisa dilupain gitu aja.
Dan aku merasa kesal dengan diriku, bagaimana mungkin aku telah membiarkan diriku jatuh terlalu dalam?

“Kenapa lo nolak gue?”

“Taft, gak gitu...”

“Jujur aja, Xav. Gue gabakal marah. Apa gara-gara perbedaan? Kayak yang lo bilang selama ini?”

“Nah, itu lo tau. Kita terlalu beda. Fix.”

“Terus maksudnya semuanya kemaren apa? Lo bilang mau percaya sama gue? Hah?? Kita beda apa sih emangnya? Prinsip? Hobi? Atau jangan-jangan agama? Lawak lo.”

“Jangan pernah nyuruh gue percaya sama lo, kalo lo sendiri nggak percaya sama adanya Tuhan.”

“Hei, itu hak gue buat punya agama atau enggak!”

“Dan ini hak gue buat nerima lo apa enggak.” Aku berdiri dari dudukku, menatapnya dalam, “Bye, Taft.”

“Anjing lo! Tai!”

Aku menatapnya miris, mencari-cari celah diantara kilatan marah di matanya. Berharap ada setitik harapan untuk memaafkan kesalahanku, yang mungkin terlalu memberikan harapan untuknya. Harapan yang seperti pasir, makin digenggam, makin hilang. Maafin aku, Taft.

“Maaf..” aku berbalik badan dan berjalan seperti biasa. Ralat, maksudku berusaha berjalan seperti biasa. Aku tiba-tiba merasa sesak, dan aku juga merasakan air mataku mulai merebak dengan cepat. Aku berharap besok tidak akan menjadi lebih buruk lagi...

***

Ketika aku tiba di kelas, yang terdengar hanya keributan. Aku menebak-nebak apa yang terjadi sehingga mereka ribut begini. Tidak biasanya, ini baru jam 6.15 pagi! Saat aku masuk, semua mata memandangku, lalu mata mereka kembali ke pusat perhatian semula. Aku mengikuti arah pandang mereka, dan tahulah aku bahwa ada yang tidak ‘biasa’ pagi ini. Bangkuku. Bangku kepunyaanku, yang sudah aku duduki selama kurang lebih 3 bulan ini sudah berpenghuni. Cewek cantik dengan pipi tirus, hidung mancung, kulit seputih susu, dan rambut panjang mengkilap itu menatapku datar. Matanya yang bulat besar itu tidak mau berhenti menatapku. Akhirnya aku mengalah, dan pergi dari kerumunan itu. Menuju bangku terakhir dipojokan kelas. Aku tidak tertarik lagi dengan gadis es itu. Dia lebih cocok bersama Taft, manusia semi-bisu itu.

Deg.

Ternyata hari ini tidak lebih baik dari kemarin.

Aku hanya menatap kerumunan itu. Mereka sibuk menginterogasi pehuni kelas baru itu. Aku tidak berniat 
kesana. Pikiranku sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Tiba-tiba kulihat makhluk semi-bisu ku. KU? Kau terlalu berkhayal, Xavi. Xavi? Please, jangan ingatkan aku tentang nama itu. Panggil saja aku kasihan. Aku lebih bisa menerimanya.

Taft menatapku sekilas, dengan pandangan bengis. Nampak sekali ia belum bisa memaafkanku. Tapi, ya sudahlah. Mau apa lagi. Ia nampak sedikit terkejut dengan kehadiran si gadis es tadi. Namun hanya sedetik, karena sedetik kemudian ia tersenyum. Senyum yang selalu aku suka. Hatiku mencelos. Taft tersenyum kepada gadis itu? Padahal ia hanya menatapku dingin saat kami pertama kali bertemu...

Kerumunan itu perlahan bubar saat bel masuk berdering.
Dan aku sendirian, lagi.

***

“Lo jealous, Ra?” suara Kelly menyadarkanku. Aku memang bercerita kepadanya tentang segala hal. Satu-satunya wanita yang aku percayai. Satu-satunya wanita yang bisa aku peluk, dan kutumpahi air mata, setelah mama pergi.

“Dih, cetek amat gue jealous sama dia. Dia bukan siapa-siapa gue kok.”

“But he WAS something, Ra. Like you said.” Kelly mengangkat bahu.

“WAS itu beda, ly sama IS”

“So, who is that lucky guy?”

“Lucky guy apaan?”

“Kata lo, lo udah nemu yang ‘IS’?”

“Dih, nenek lampir!!! Gue nggak ngomong gituuu. Bolot amat lu ya. Traktir gue ice cream cake, please.”

“Yuk, tapi mandi dulu sana.”

“Cih, lo itu kali yang belom mandi!!!”

Kelly is one of the best things I have. I can’t imagine life without her.

***

Sahabat selalu ada, seperti angin yang selalu ada di saat cuaca panas, berawan, bahkan badai sekalipun. Sahabat tidak pernah bosan dengan tingkah konyol kita. Sahabat akan selalu mendengarkan, tidak menghakimi. Mereka tidak akan menutupi kesalahan kita dengan kebohongan yang manis. Mereka akan terus terang mengatakannya walaupun mereka tau kita akan sakit hati. Dan... mereka tidak takut kehilangan kita. Karena mereka yakin kita tidak akan pernah pergi dari mereka.

***
wdyt? I've tried to make it longer :9 Leave comments please! You know one comment means he world to me :) THANKS for reading! hope you like it:)

September 21, 2012

HiGH SCHOOL LIFE PART 4

Friday, September 21, 2012 2
HiGH SCHOOL LIFE PART 4

Hayyyy part 4 nihh, maaf ya kalo jelek + ceritanya muter-muter gak karuan-___- 
enjoyyyy~

HiGH SCHOOL LIFE PART 4


Saat semua perbedaan terpapar jelas, masih bisakah kedua unsur yang berbeda, garis bawahi, sangat berbeda, bersatu? Tolong jelaskan bagaimana, rasanya mencari tahu sesuatu dengan susah payah dan hasilnya malah membuatmu kecewa!

Hei,
Dekat tapi jauh
Dekat tapi sepi
Walaupun dekat, tapi sedih

***

Semuanya cuma kebetulan, kesalahan yang manis. Orang bisa suka, dan akhirnya jatuh cinta, cuma kebetulan. Banyak faktor yang mempengaruhi segala kejadian. Bukan hanya satu, tapi banyak. Waktu, air mata, sakit hati, omong kosong, tawa, dan yang paling penting... tatapan mata. Aku belajar banyak tentang hal itu hari ini. Bukan dalam fisika, tapi dalam mata pelajaran yang lebih nyata, yaitu kehidupan.

Pertemuan kita mungkin memang takdir. Namun perkenalan kita? Aku rasa bukan. Kita yang membuat itu sebagai kebetulan, kesalahan yang manis. Lalu semua kejadian yang kita alami? Yap, bukan takdir. Sekali lagi bagiku hanya sebuah kebetulan, kesalahan yang manis.

***

Layang-layang itu terbang mengangkasa. Seakan-akan sedang tertawa bersama awan. Seakan-akan tidak memiliki masalah. Tidak seperti hidupku, dan tidak juga seperti hidupmu, kan?

Langkahku satu-satu diatas jalan setapak membuat sedikit keributan akibat gelang kaki yang kupakai. Dia berdiri disana, memainkan layang-layang. Aku mengutuknya, karena bertingkah laku seperti anak kecil. Saat jarak antara kami hanya tinggal 5 langkah, ia menoleh. Dan tersenyum. Menyapaku. Sapaan pertama yang kudapat hari ini.

“Hai Xav.”

“Hai.” Aku duduk di rerumputan. Menutup mataku, dan berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk paru-paru ku. Ia melihatku sekilas, menurunkan layang-layangnya, dan duduk disebelahku.

“Maaf ya, ngirim mailbox jam 3 pagi..”

“Maaf itu gak gampang, Taft dapetinnya.”

“Sama kayak perbedaan? Susah ngilanginnya?”

Aku terdiam cukup lama, sampai akhirnya memberanikan diri menjawab,
“Taft, perbedaan itu diciptakan untuk menguji seberapa kuat manusia bisa diuji.”

“Itu doang, Xav? Lawak lo. Gue udah nemu banyak perbedaan. Gue udah hadapin, gue udah susah payah ngilanginnya. Tapi hasilnya? Tetep aja gue dapet banyak perbedaan.” Taft tertawa miris, sedikit menyindir.

“Ya, namanya juga perbedaan, Taft. Ya pasti selamanya akan tetep beda.”

Taft menoleh, dan menatapku miris.
“Lo bilang kita boleh percaya sama hal yang nggak pasti, Xav...”

“Iya, Taft. Emang boleh, tapi ini kasusnya beda. Banget.”

“Dalam sudut pandang lo, iya emang beda! Tapi lo pernah gak, mikir dari sudut pandang gue? Pernah nggak, Xav?”

Aku menelan ludah sebanyak-banyaknya. Menghirup oksigen sedalam-dalamnya. Memejamkan mata sekuat-kuatnya. Saat membuka mataku, aku tidak bisa melihat Taft. Yang kulihat hanyalah buram yang menghasilkan tetes-tetes air bening, dan tubuh Taft yang mendekat kearahku.

“Kasih tau gue, Xav. Lo nangis buat apa.” Ia menggerakkan ibu jarinya, menghapus beberapa tetes air mataku. Namun sepertinya percuma, karena mataku tidak mau berhenti memproduksi air mata.

“Apa perlu gue jawab, kalo jawaban gue nggak akan buat masalah ini selesai?”

“Ya.” Air mataku semakin deras, bahuku terguncang-guncang pelan. Taft meraihku kedalam pelukannya, dan gilanya, aku membiarkannya yang mencoba menenangkanku.

“Gue takut, Taft. Gue capek. Gue frustasi. Gue bingung. Gue gatau mesti gimana...”

“Bagi takutnya, capeknya, frustasinya, bingungnya ke gue, Xav..”

“Hahaha buat apa? Gak berguna.”

"Xav, terkadang berbagi itu bisa membantu. Dan lo tau nggak sih, kalo terkadang berbagi itu membuat kita lupa sama masalah, sama perbedaan, walaupun cuma sebentar."

“Lo harus percaya sama gue, Xav...” Taft menggantungkan ucapannya. Menatapku dalam, dan melepaskan pelukannya.

Aku menatapnya heran, “Percaya? Percaya apa, Taft gue nggak ngerti.”

Aku tidak mengerti dan tidak akan pernah mau mengerti. Karena, tidak semua hasil selalu seperti harapanmu. Karena semua kejadian cuma kebetulan, kesalahan yang manis.

***
eaakkkk maaf ya pendek. thanks for reading! Leave comments pleaseee, one comment means the world to me :) thank you! xoxoxo \m/

September 18, 2012

could it be worse?

Tuesday, September 18, 2012 0
could it be worse?
When you try your best, but you don't succeed


When you get what you want, but not what you need


When you feel so tired, but you can't sleep


Stuck in reverse


When the tears come streaming down your face


When you lose something you can't replace


When you love someone, but it goes to waste


Could it be worse?


Coldplay - Fix You


Could it be worse......?
Could it be worse......?

Terkadang hidup nggak adil ya, ada saat dimana kita merasa down, merasa sendirian, merasa jadi pecundang, merasa... nggak berguna.

Terkadang hidup berat banget ya, ada saat dimana kita merasa lemah, cengeng, dan pengen nyerah... secepatnya.
Dan ada saatnya ketika kita pengen teriak "BISAKAH HIDUPKU LEBIH BERAT LAGI?"
Ha. Percuma. Segini aja gak kuat, apa lagi ditambahin?
Bodoh.

Tapi, terkadang hidup itu juga indah ya, ada saat dimana kita bisa tertawa sekeras-kerasnya, merasa paling bahagia, merasa tidak ada beban lagi seolah semua terasa menyenangkan, merasa terbang... tinggi.

Jujur, saat saya menulis ini saya sedang tidak berada pada mood terbaik saya. Kamu tahulah, cewek. Adakalanya saya merasa terlalu sensitif, terlalu cengeng. Ibu bilang itu wajar, sebagai anak-cewek-yang-masih-lima-belas-tahun. I just need a place to share my stories with... I've lost my mommy's ears, that used to listen my stories. She's away from me, thousands miles apart :-)

So, I got the conclusion ,
Just.. face the problems.
Never give up.
Remember something that gives you strength.
And fly...

September 16, 2012

HiGH SCHOOL LIFE PART 3

Sunday, September 16, 2012 0
HiGH SCHOOL LIFE PART 3
Finally dapet ide lagi buat nulis, di part 3 banyak kata-kata bagus looh :3 haha ini diaa~


HiGH SCHOOL LIFE PART 3



Aku berjalan pelan. Air mataku tidak juga mau kering. Tapi tak apalah, toh tidak juga terlihat. Seakan dihapus oleh air mata bumi. Ya, sekarang memang sedang hujan, tapi aku tidak merasa dingin. Aku hanya merasa sendirian. Aku merasa semua orang jahat terhadapku. Kenapa aku tidak punya satu orang saja yang bisa mengerti? Haha kamu tahulah, aku ini memang tidak penting.

***

Aku menghitung. Ya, menghitung. Detik per detik yang berjalan sangat lambat. Denyut nadi yang pelan, detak jantung yang lemah, tarikan nafas yang berat, langkah yang seakan melayang, dan tetesan air mata yang jatuh. Nggak semudah mengerjakan soal aljabar. Jauh lebih sulit.

Kamu tahu bagaimana seseorang bisa datang dan pergi dengan cepat, kan? Tidak memberitahu terlebih dahulu. Tidak membiarkanmu menarik nafas satu detik saja. Tapi apakah kamu tahu, bagaimana rasanya diajak terbang tinggi, lalu dicampakkan begitu saja? Seperti balon yang sedang mengangkasa, lalu dipanah. Sakit memang, namun aku belajar sesuatu. 

Tidak mau terbang lagi..

Dia yang kemarin membuatku tertawa, dia yang kemarin tertawa sambil menatapku. Kini giliranku menatapnya, sambil menangis? Apakah ini adil? Dia membuatku tertawa dan dia juga yang membuatku menangis. Berlebihan dan menjijikkan memang, mengingat aku bukan siapa-siapa. Temannya pun tidak...

Lalu maksud semuanya kemarin apa?

“Xav, di langit banyak bintang loh...”

“Gue yakin di langit banyak bintang. Walaupun gue gabisa liat karena gue lagi ditempat les. Tapi gue percaya kok kalo di langit banyak bintang.”

“Buat apa percaya kalo nggak bisa liat? Buat apa percaya sama hal yang belom pasti? Ngabisin waktu tau gak.”

“Hei, terkadang kita emang harus percaya sama hal yang nggak pasti, karena hal-hal yang pasti belom tentu bisa dipercaya.”

“I’ll keep your words, Xav! Belajar yang bener yaa.”

And it made me blushing, you know.

***

Sekarang, setelah semua ini? Haruskah aku tetap percaya?? Percaya pada kemungkinan terburuk, atau kemungkinan terbaik? Aku banyak bertanya, ya. Maaf.

***

“Xav, ayolah gue yakin lo denger omongan gue. Lo cuma nggak mau ngangkat telpon gue kan? Fine, mailbox ini cuma semenit so gue gak mau basa-basi. Gue tunggu di taman besok jam 10 pagi, kalo lo nggak dateng we’ll be strangers, oke bye!”

Bunyi mesin itu memekakkan telinga. Bayangkan saja, benda itu berbunyi jam 3 dini hari!

Aku menghela nafas satu-satu, dan menangis tanpa suara. Mengapa keadaan menjadi jauh lebih sulit? Bukankah harusnya setiap hari menjadi lebih mudah karena aku sudah diajari untuk kuat? Aku sudah bersumpah tidak akan terbang lagi bersama Taft. Tapi jika Taft berlutut dan memohon apakah aku kuat untuk mengatakan tidak?

Dasar Taft gila! Menelpon jam 3 pagi! Taft memang sudah gila, merubah nama Shafira menjadi Xavi. Dan Taft juga gila, menyebabkan pikiranku dipenuhi oleh namanya.

Benda itu berbunyi lagi..

"Xav, lo pernah bilang sama gue kalo terkadang kita harus percaya sama hal yang nggak pasti, karena hal-hal yang pasti belom tentu bisa dipercaya, kan? Sekarang semuanya nggak pasti kan? Gue minta lo percaya, sekali ini aja.”

Aku terdiam mendengar suara Taft yang seperti kereta api itu. Cepat, dan membahagiakan.

***

Thanks for reading! You rock! leave comments please, xoxoxo