atha's scrapbook

May 19, 2015

Throw Things Back

Tuesday, May 19, 2015 0
Throw Things Back
Throwing back to those days when I was the happiest little girl in the world. Being curious and exploring new places I have never imagined before. Drank hot chocolates every breaks just to give warmth to my palms. Guessed what foods I would get. Would they delicious or tasteless. Could not wait for breakfast, had the best self-made sandwiches; warm buns with three layers of cold flesh and milky cheese, also fresh lettuce and my favorite chili sauce, plus a bowl of fruit cocktail, some packs of Nutella, and a cup of hot green tea. Or when I was too lazy, I would just have a bowl of Muesli and cold milk with a cup of hot chocolate. Perfect foods to start a perfect day.

Then I had classes. A class where I did not have to think about how gravity influences the velocity of moving boxes, or how could Magnesium bond with Oxygen. A class where I felt like in the kindergarten again. I colored pictures, played games, sang songs, watched videos, learnt new cultures, and also the other 3 new languages; Spanish, Portugish, and Nepalish in a German class. Weird but I loved it.

What I always waited is the outdoor activities. We traveled with small bus, made noises with several strange languages and made grannies smiled. Or a lot of times with train or subway or something like that and sat wherever we wanted till we heard someone’s voice saying “ausstehen!!”
I did not know playing bowling or buying groceries could be that fun. Ice skating too. The was my first time skating and my friend helped me a lot. “I am like a granny when it comes to skating”. She laughed, “No you are not. Believe me it is not that hard. Come on.” And all I did was screaming “OH MY GOD” “WHOAAA” “I AM GONNA FALL” “I WANT TO STOP” “WHOOAAA” “GRANNY CAN NOT SKATE” “I AM A COWARD”. I could not enjoy skating though.

Exploring the city like a true citizen. Found out best places to eat, buy clothes, or cheap groceries. Entered a market with a big curious eyes and met a Malaysian guy who shocked finding two little Indonesian girls going in a market without their parents. Got free hot tea because we often visited a Turkey restaurant. Met some Indonesians who bought expensive chocolates for us and showed a place to buy Indonesian foods, sauces, even Rambutan and Durian.

Dancing like crazy to strange latin songs in the parties. I did not know parties could be that sick. Found out I love dancing like that. Ate delicious chips and drank weird apple-cinnamon-something juice that tasted like puke. Going to bed at 11pm everynight but when our guardians slept we talked like until 12pm or 1am.

Crying like hungry babies at the airport. I have never cried in public places like that. Hugged each of them saying goodbyes, good luck, and please-do-not-forget-me things. What being played in my head were “Will I ever see them again?” “Will I ever see them again?” “Are these my last hugs with them?” and something like that.
Talking about those amazing three weeks  and the friendship we have made would never ever be enough though.


I love you guys




April 18, 2015

Dream An Impossible Dream

Saturday, April 18, 2015 3
Dream An Impossible Dream

Jangan pernah melepaskan apa yang selama ini sudah kamu impi-impikan. Meski pada jalan itu kamu tersandung kerikil, atau tiba-tiba dibelokkan ke jalan yang berbeda. Karena bisa saja pada akhirnya tujuanmu sama. Tuhan hanya mengujimu dengan tantangan lebih berat dan menggantikannya dengan hadiah yang lebih baik.
***

an old phrase saying "dreams do come true" wasn't even lying...

i have flewn 12,000 kilometers away to meet my one of big dreams. oh wait, flying for more than 10,000 was already one of my big dreams, too.

...

it was a thrilled phase of my life. totally. 2014 was so awesome. it made me feel thousands feelings i've never felt before. i was nearly desperate. i waited sooo long and found out that i didnt make it. so i tried, harder than the first one. then Alhamdulillah the big news came up. i was so happy till i couldnt say anything. both happened in 8 months. that were the hardest yet the happiest 8 months ever.
think i was talking about a boy? haha no. for me this is much bigger than just a classical high school love story...

***
Malam itu sama saja seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang berbeda, menurutnya. Setidaknya belum. Telepon genggamnya tiba-tiba berdering tepat saat dia hendak shalat.
Guru Bahasa Jermannya menelpon. Ia takut. Bukan, bukan takut terhadap gurunya. Tapi takut pada kenyataan yang akan menamparnya jika berita yang akan datang tidak sesuai ekspektasinya.
Beberapa pesan singkat menyusul masuk. Ia tetap bergeming. Sudah terlalu malam untuk berita yang tidak penting.
Ia bahkan takut hanya untuk membacanya.

Setelah menyelesaikan doa-doanya, takut-takut ia membuka pesan singkat itu.

Assalamualaikum
Gratuliere dir...

Ia terdiam. Bahkan kata-kata selanjutnya tidak terlihat penting lagi.
She finally made it.
***

Rasanya masih seperti mimpi, tapi akan terlalu menyakitkan bila semua itu tidak nyata. 

Itu pertama kalinya saya punya paspor. Pertama kalinya saya punya surat yang harus ada tanda tangan notaris nya. Pertama kali saya urus surat Prodia pakai bahasa Inggris. Pertama kalinya masuk kedutaan besar dengan segala protokol ketatnya. Pertama kalinya dapat izin Visa. 

Mungkin akan terdengar membosankan jika saya memulai semua kalimat dengan "pertama kalinya saya...", maka dari itu percayalah bahwa cerita-cerita di bawah ini adalah "pertama-pertama kalinya saya..." juga.

Naik pesawat, memang bukan pengalaman pertama saya. Tapi naik pesawat lebih dari dua jam dengan destinasi fantastis, adalah pertama kalinya bagi saya. Sebelumnya saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya berada dalam penerbangan yang sangat lama. Apa yang dilakukan penumpang, apakah makanan akan disajikan lebih dari sekali, bagaimana keadaan kaki orang-orang yang duduk di kelas ekonomi, dan lain-lainnya.

Setelah dadah-dadah yang sangat lama dengan Bapak dan Ibu, saya membawa koper 18inch saya yang hanya berbobot 15kg itu ke counter check-in. Ternyata begini rasanya akan terbang jam sepuluh malam, in International Departure lagi. Saya, yang tidak pernah masuk International Departure hanya bisa memandang takjub deretan nama maskapai penerbangan terkemuka di dunia. Flag carriers yang selama ini hanya saya lihat di film-film. Ketika mencapai seat, saya menaruh winter jacket dan ransel di compartment di atas. Ketika perlahan pesawat meninggalkan tanah, saya memejamkan mata. Bismillah, my journey is about to begin.

Dua jam setelahnya saya ada di KLIA, Malaysia untuk transit. Setelahnya monitor di hadapan saya menunjukkan waktu hitung mundur untuk sampai ke tujuan akhir saya. 12jam 52menit. Hampir 13 jam. Saya hanya bisa tidur beberapa jam.

Kira-kira pukul 08:00 pagi waktu Frankfurt pesawat mendarat. Suhu diluar diperkirakan sekitar 4 derajat celcius. Garbarata bandara Frankfurt punya jendela yang langsung mengembuskan udara luar. Sebagai anak tropis yang hanya pernah merasakan 18derajat celcius sebagai suhu terdingin, saya hanya bisa berjalan secepat yang saya bisa. Gila, dingin sekali. Padahal hanya sekali lewat. Setelah ambil koper, saya dan teman-teman bertemu dengan Betreuerin kami dan ia memberi Hanuta dengan sebotol air mineral berlabel asing. "Wilkommen in Frankfurt! Mein Name ist Betti..." Setelah itu ia menyuruh kami memakai jaket dan berjalan lebih cepat katanya kereta sebentar lagi datang.
Saya bawa koper besar, ransel yang berat, dan totebag. Bagaimana nantinya jika harus naik kendaraan umum, di bawah tanah, dan lain-lainnya. Dasar pemikiran manja anak Indonesia yang maunya serba instan.

Ternyata, di dalam kereta tidak hanya kami yang membawa bawaan banyak. Bahkan ada yang membawa sepeda, atau anjing peliharaan mereka. Oh, gini ya. Pemandangan diluar keren sekali namun terasa kurang. Bagi anak tropis, musim dingin adalah salju dan saya tidak melihat salju sama sekali. Mana winternya? Mungkin belum, ya. Bahkan pertanyaan kami setelah pertama kali bertemu Betti adalah kapan salju akan turun. "Mungkin minggu depan. Kami berharap begitu," katanya. Sekitar 30 menit hingga akhirnya kereta berhenti di stasiun Konstablerwache (saya baru berhasil mengeja Konstablerwache dengan benar setelah hampir 2 minggu). Suhu dingin kembali menyapa. Betti hanya tertawa melihat kedelapan anak Indonesia ini berteriak kedinginan. Toko-toko di Kurt-Schumacher-Str. masih tutup. Saya pikir karena masih pagi, namun saya sadar bahwa itu adalah hari Minggu. Dasar mental turis, tidak peduli kedinginan saya tetap foto toko-toko tutup itu. Karena bus yang ditunggu tidak kunjung datang, akhirnya Betti bilang kita harus jalan kaki. Okay...
Setelah tinggal agak lama baru saya sadar jika membawa koper berjalan di trotoar atau bahkan di pusat kota pun adalah hal biasa di sini. Okay lagi.

Dingin. Dingin. Masih jauh tidak. Dingin. Cuma itu yang saya pikirkan. Hidung saya mulai mengeluarkan ingus, dan ketika menyebrangi jembatan angin Frankfurt membuat muka saya membeku. Badan saya masih harus beradaptasi. Setelah sampai di Jugendherberge dan check-in, menitipkan paspor dan uang dan sebagainya, saya terheran-heran melihat ada anak yang hanya mengenakan kaos tak berlengan. Gila, saya 3 lapis saja begini... Belakangan anak bule-memakai-kaos-tak-berlengan itu jadi salah satu teman saya yang paling dekat.

Saya menangis di hari kedua saat akhirnya bisa ditelpon ibu. Saya merasa asing. Aneh. Teman kamar saya yang satu seolah tidak peduli dan dua yang lainnya terus menerus bicara bahasa Spanyol yang saya tidak mengerti. Tapi saat sarapan teman kamar saya yang saya kira tidak peduli itu justru menjadi yang paling perhatian.
"Are you okay?" "Yeah sure, why? Did you hear me crying in the bathroom or what?" "No. You said you miss home, and I know how it feels. Just stay off of your phone for awhile. It helps."
Now I miss her to pieces <///3

Hanya dua hari. Hanya dua hari saya merasa aneh dan sedih. Selebihnya, it was a lot of fun!!!!!!!

Pertama kalinya saya memakai outifit impian masa kecil saya, winter coat & gloves & scarf yang melilit ke leher. Winter coat punya ibu yang ketika sd hanya saya pakai untuk berkhayal di depan kaca. Winter coat yang dibeli bapak tahun 2008 akhirnya dipakai...
Eiserner Steg, Frankfurt am Main, Jan 12th 2015

Esoknya mereka membawa kami semua ke Senckenberg Museum yang menurut saya mirip sekali dengan Museum Satwa - Batu Secret Zoo, Malang. Malah lebih lengkap yang di Malang. Bersyukurlah jadi anak Indonesia, serius. Bukan cuma karena museum ini, tapi banyak hal hebat lainnya.
Gajah Lampung~~~

Setiap malam sebelum tidur, ada Abendrunde. Suatu acara dimana dibahas semua yang sudah terlewati hari itu dan apa saja kegiatan untuk besok. Disana juga semua boleh menyuarakan pendapatnya. Dan mereka menyediakan Wunsch Box bagi yang ingin berpendapat atau berkeinginan secara anonim. Saya membom Wunsch Box di dua hari terakhir sebelum pulang dengan tulisan-tulisan seperti "Ich möchte ins Kino gehen", "Ich möchte kochen zusammen", "Nach Feldberg noch einmal fahren" dan lain-lain. Saya tahu itu sudah sangat terlambat namun ketika itu saya hanya merasa sedih bahwa sebentar lagi saya akan pulang.

Pemandangan setiap Abendrunde.

Contoh jadwal kegiatannya. Niat banget, ya:"))

Sejak mendapat koneksi internet, selain berkomunikasi dengan orang tua dan teman-teman, hal yang saya lihat selama beberapa jam sekali adalah ramalan cuaca. Kapan salju turun. Kapan salju turun...
Salju pertama kali saya lihat di Frankfurt. Ketika itu masih gelap. Masih sekitar jam setengah delapan pagi. Saya dan teman-teman sekamar saya masih setengah sadar ketika mendengar suara berisik dari jendela luar. Teriakan-teriakan itu keras sekali, tapi bukan jenis teriakan mengganggu. Namun teriakan bahagia. Teman saya membuka tirai dan melihat apa yang terjadi.
Anak-anak laki-laki berteriak-teriak sambil melempar sesuatu ke arah jendela.
"SCHNEE!!! SCHNEE!!" hanya itu yang saya pahami, selebihnya mereka bicara bahasa Spanyol. "Wirklich? Schnee??!!" "Ja, Atha!! Ja!!"
Saya langsung ke kamar mandi dan menyambar sweater yang baru saya beli di Primark kemarin. Saya hanya berpikir bagaimana cara tercepat untuk melihat salju. Teman latin Amerika saya melakukan hal yang sama. "Komm!! SCHNELL!!"
"Was ist los?" Nampaknya teman NZ saya baru sadar. "SCHNEE!! SCHNEE!!" saya berteriak girang di depannya dan reaksinya adalah "Oh." Dan kembali merapatkan selimut. Okay, I know you've seen it before:") haha
Saya mengetuk pintu kamar teman saya dan reaksinya sama seperti saya.
Ternyata gini rasanya...

Salju cair beberapa jam kemudian. Dan kira-kira empat hari setelah salju pertama itu, saya merasakan hujan salju untuk yang pertama kali. Di Mainz. Dan berton-ton berhektar-hektar salju hari selanjutnya ketika Jens mengajak kami semua wandering ke Gunung Feldberg. Suhu minus tiga derajat celcius di sana merupakan suhu terdingin yang pernah saya rasakan.

***
The point is...
  • Percaya rencana Tuhan.
    Dari SD mimpi saya adalah AFS. Saya berusaha, saya ikut seleksi. Namun Allah bilang tidak. Saya hanya sampai tahap 3. Tapi Allah menggantinya dengan yang lain. :)
  • Jangan pernah lelah bermimpi.
    Ketika kelas 10, saya ikut pertemuan besar pertama klub bahasa Inggris saya. Ketika itu klub tersebut ulang tahun yang ke 35. Saya masih anak bawang. Hanya duduk di kursi penonton melihat acara demi acara. Saat itu salah satu senior saya berbicara di depan, menceritakan tentang pengalamannya selama 3 minggu di Jerman. Seru sekali. Dalam hati saya bertekad saya pengen juga. Ketika itu saya tidak tahu caranya. But I believe I will find the way. And guess what? I did. I went to Germany with the same program as her.

    Sejak SD atau bahkan lebih muda lagi, keinginan terbesar saya adalah melihat salju. Di tahun 2008 bapak dapat beasiswa ke Prancis selama 9 bulan. And he saw snow. And it made me a little bit jealous. Saya pengen juga. I don't know how but I will figure it out. And I did.
    Bapak tinggal di Fontainebleau, 60km dari pusat kota Paris. And he made me a little bit jealous, but I promise I'm on my way there. I'm working on it.

    Setahun yang lalu saya iseng menulis draft  novel berlatar belakang kota Mannheim. Kenapa Mannheim? Karena setelah browsing, sekolah ekonomi terbaik di dunia ada di Mannheim. So I chose Mannheim. Setahun setelahnya, Januari 2015, saya mengunjungi Mannheim. Walaupun nggak ke universitasnya tapi cuma ke Technoseum, it already felt awesome:')

    and so on...


Keep dreaming folks, me too. I am not satisfied yet. I still have tons of big dreams which I should make come true. I hope my stories encouraging you to keep believing that big things could happen if you want them to happen. It depends on you. Not anybody else. If I can, you can. If they can, we can.

feel free to ask me more @athayanadhira
cheers,
atha

November 9, 2014

Pr Bahasa Indonesia

Sunday, November 09, 2014 0
Pr Bahasa Indonesia
Merelakan sama seperti merindukan
Selalu sukar dan tak pernah nyata
Bahkan langit bergemuruh
Ketika melepas tetesan air angkasa

Menunggu sama seperti mengorbankan
Memberi tanpa tahu kapan akan diberi
Berlomba dan bergerak bersama waktu
Siapa yang lebih sabar berdiam

Tidak ada yang pernah memintamu rela atau tunggu
Tapi setidaknya kamu mengerti
Mengusahakan sama seperti berlari
Lelah dan peluh akan terganti


Malang, 8 November 2014
03.00 WIB

November 5, 2014

Quote of the Day

Wednesday, November 05, 2014 0
Quote of the Day
"You must be patient. 

Even if the pains of waiting and wishing and praying tire you, be patient.

Even when long periods of time pass by and others are blessed with what they've been praying for while you still wait, be patient. 

For Allah does not waste the effort of the doers of good.

He delays His response only to hear you call to Him more. 

Be patient. 

For what awaits you is sweeter than the bitterness of longing."


@Alhamdulillah on Instagram.

October 27, 2014

Our Own Constellations

Monday, October 27, 2014 0
Our Own Constellations

Sometimes, you gotta say it. Things are gonna be wasted if they are left unspoken.

***

Kaira membanting penanya ke tanah lalu sedetik kemudian menyesalinya. Ia memungut benda biru berkilauan itu, menyebabkan tangannya menyentuh permukaan paving block yang dingin.

Sudah mau November lagi, batinnya.

Kaira tidak pernah suka dingin di bulan November. Walaupun tidak sedingin Desember, angin bulan November selalu saja menjadi yang paling dingin. Tidak menentu datangnya.

Berhari-hari Kaira berharap inspirasi untuknya menulis akan datang. Berhari-hari juga tidur malamnya tidak nyenyak. Konstelasi bintang diatas sana mungkin tahu penyebabnya. Salah satu dari 88 diantaranya harus tahu jawabannya.

Wahai archer yang sebentar lagi tiba, salam hangatku menyambut kedatangan dinginmu selalu.

***
Mungkin ia titisan Cleopatra.

Atau dewi Athena.

Cantik, pintar, dan kuat. Rambutnya coklat pekat hampir hitam. Hidungnya mancung dan garis rahangnya tegas. Menandakan seseorang dengan prinsip hidup yang kuat.

Zeus memandangi kata-kata yang barusan diketiknya. Sound gay, but whatever. I like it.

Andai ia punya petir, ia bersumpah akan menghanguskan Castor dan Pollux -si kembar yang membuat dunianya sekarang jungkir balik- detik itu juga.

***
Malam itu sama saja seperti malam-malam sebelumnya. Kaira berguling-guling di atas kasur, merutuki matanya yang tak kunjung menutup. Iseng, ia membuka WhatsApp.

Last seen today at 22.54

Dua detik kemudian,

Online

Shit.

Mata Kaira semakin tidak mau memejam. Dengan telaten dilihatnya terus kata Online itu. Kapan akan berubah menjadi typing... ? Mungkin Kaira sudah terlalu lelah untuk sekadar sadar. Kaira menyerah. Menutup WhatsApp dan matanya pada pukul 23.25. Mungkin sang archer belum mau datang. Atau tidak akan pernah datang?

***
Malam itu Zeus sadar Castor dan Pollux sedang bersinar. Walau mungkin ia telat empat bulan, Zeus yakin sinar milik si kembar itu akan tetap ada hingga sang archernya tiba.

Semoga saja.

***
Kaira tersenyum-senyum sendiri. Archernya tiba! Archernya tiba! Padahal belum waktunya ia muncul. Mungkin bukan archer...

“Kenapa harus ‘Kaira’? Apa ada hubungannya sama Kairo?”

“Haha ternyata emang cuma se-cetek itu, ya. Kairo jadi Kaira.”

“Aku serius, Kai.”

Tidak ada yang pernah memanggilnya Kai...

“Aku juga serius, Zeus. I was born in that exotic city.” Kaira tersenyum menang.

“Wow.”

“I know right? Haha.”

“Eh, tadi mau bilang apa Kai?” Tiba-tiba air muka Zeus berubah menjadi serius. Dan Kaira tidak pernah suka saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana perasaan akan selalu menang melawan logika. Saat dimana ia tidak bisa mengendalikan seluruh hormon yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Saat ia tidak bisa mengontrol detak kardionya.

I love you, the king of the Olympus. I wish I could stop. I really wish I could...

“Ai.. ngga papa, Zeus. Ngga jadi.” Buru-buru Kaira membereskan perlengkapan tulis menulisnya dan berlalu pergi.

Zeus memandangi punggung Cleopatra-nya menjauh dan hilang.

If only you knew, Princess...

***
“Mehrunnisa Kaira!”

Refleks, Kaira menoleh. Zeus. Her –wished to be- archer.

“Apa?”

“Kalo aku panggil, bales panggil juga, gih.”

Mau tak mau, Kaira tersenyum. “Halo, Zeus.”

“Padahal tadi aku panggil kamu pake nama lengkap...”

Kayak anak kecil aja, sih. Ada apa?”

Zeus nyengir. “Ajarin aku Hukum Keppler, dong.  Aku nggak mudeng.”

Nggak salah, nih? Anak olimpiade fisika minta ajarin  anak yang kalo ulangan langganan djisamsoe?”

“Terlalu litotes kamu, Kai.” Zeus mencibir. “Aku maunya kamu yang ajarin.”

“Katanya kamu suka astronomi? Masa Hukum Keppler aja nggak mudeng?”

“Ada yang salah, soalnya Kai.”

Kaira mengernyitkan dahi. Bingung. “Salah? Apa yang salah?”

The constellations. Us, Kai.” Lalu tiba-tiba ngeloyor pergi.

Kaira semakin tidak paham tentang permainan Zeus.

Damn you, pretty little loser.

***
Zeus mengutuki dirinya berkali-kali. Sumpah, ia merasa sangat kesal. Sangat bodoh.

Brengsek.

Shit.

Gue bukan cewe, bego! Ngapain sok kode ke Kaira?!

Tai.

Tell me how to tell you why and how, Princess...

***
If only I had someone. Like Castor had Pollux, and vice versa.
If only I had the guts to tell.
If only I were not made of dust in dusk and dawn.
If only I were any other pretty girl.
If.
Only.

Kaira menghela napas perlahan-lahan. Dadanya semakin lama semakin sakit. Pneumotoraks tidak boleh membuatnya berhenti.

Kaira segera meraih pena biru kesayangannya dan mulai menulis diatas bangku taman dekat paving block yang semakin lama semakin mendingin.

Ia harus selesai sebelum November tiba.

***
Dear,
The king of the Olympus,
My favorite constellation,
The one I chose over the other 88,
My best of laughs and tears,
                
Halo :)
                Last week I just got this information, Zeus.
                I think God loves me too much, hehe.
                
I just figured out that I had a special buddy inside my pulmo. We can call him Pneumotoraks, Zeus. What an unique name, right?
                
He made me hard to breathe but it’s okay as long as he’s just doing his job. God sent him to me to make me stronger, King. Talking about strength, I always know you knew better!
                
Kamu secara nggak langsung ngajarin aku jadi kuat. Secara nggak langsung memicu aku buat jadi yang lebih baik dari hari ini.

Kamu selalu bikin aku sadar kalo ternyata perfect  itu bahkan relatif. Semua yang ada di antara kamu dan aku relatif. Satu-satunya hal yang nggak relatif ya kerelatifan itu sendiri.
                
Gimana? Aku sudah cocok jadi anak olimpiade astronomi, belum?
                
Zeus, aku nggak pernah paham sama permainan kamu. Semuanya terlalu mengulur waktu dan aku bahkan baru sadar kalo aku nggak punya banyak lagi.
                
Jangan marah ya setelah terima surat ini.
Terima kasih, ya :)
Last but not least, I just really want you to know that
You are always be my favorite constellation, Zeus.
Sincerely yours,
Castor&Pollux’s twin sister.

***
Zeus tidak peduli dengan teriakan ‘dilarang berlari’ suster-suster sepanjang koridor rumah sakit. Langkah kakinya ia usahakan besar-besar agar cepat sampai. Butuh waktu sepuluh menit bagi Zeus untuk mencerna kata demi kata kiasan yang digunakan Kaira.

Dasar penulis.

Pemandangan pertama yang dilihat Zeus saat masuk kamar Kaira adalah orang-orang yang mengerubungi tempat tidur.

“Permisi...”

Kerumunan itu menyebar.

Pemandangan kedua yang dilihat Zeus adalah Cleopatranya yang dililit berbagai selang. Hidung indahnya tertutup kap oksigen. Mata mereka bertemu. Dan Zeus berani bersumpah bahwa Kaira terlihat senang.

***
Archerku! The brightest constellation in my sky.

Dia datang. Kaira tersenyum senang.

“Masuk, Zeus.”

Setelah meminta semua orang untuk meninggalkan mereka berdua, Kaira membuka kap oksigennya.

“Jangan, Kai. Pake aja.”

“Sebentar doang.” Kaira mencoba duduk.

Pake, Kai. Atau aku pulang.”

Akhirnya Kaira menurut. Ia memasang kembali kap oksigennya dan dengan tanpa suara ia mengucapkan ‘halo’.

Zeus mengusap puncak kepala Kaira dan tersenyum. “Halo juga, Kai. Aku kesini mau bilang kalo whatever you mean in that letter, I feel that too.

Kaira menangis dalam diam.

“Jangan nangis...”

“Mochosei, Zu.”

Zeus mengangguk.

Cepat sembuh, the most beautiful queen in history...

***
Pada akhirnya Zeus tetap menyesal.

Kaira pergi beberapa jam setelah Zeus berkata ‘see you soon, sunshine’.

Kenapa?

Kenapa menyesal?

Zeus bahkan belum sempat berkata

***
Zeus menuliskan surat balasan. Entah bagaimana cara menyampaikannya.

Dear,

My very own Cleopatra,

My favorite hello and my hardest goodbye,

I love you.

I love you.

Zeus loves you.

Zeus loves you.

Sleep well, sweetheart.

Sleep tight, my Athena.

I love you.
Forever yours,
Your archer.

August 24, 2014

...

Sunday, August 24, 2014 0
...
I fall in love with you every day.
fall in love wih you everytime I think of you.
fall in love wih you everytime I see you.
fall in love wih you everytime I talk to you.

Maybe I dont know what falling in love really is.
But

I feel happy everytime I think of you.
I feel happy everytime I see you.
I feel happy everytime I talk to you.

Maybe I dont know what falling in love really is.
But I do know well what happiness is.

you.

The one that makes me smile.
The one that makes me imagining beautiful things.
The one that makes a brighter day.

I fall in love without realizing what it was.
When people say falling in love without knowing how, when, and where
I do know well how, when, and where I fall in love with you.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------


#EAAAAA #tumbendapetidebeginicocwit:') #maapkanmerusaksuasana